PLaY a GaMe JuSt LiKe A ChiLd?

UAS gue udah berakhir sejak hari Rabu kemarin. Tapi kemarin gue ke kampus dengan dua tujuan. Pertama submit tugas akdir n metpen. Kedua rapat Teater Ungu untuk ngebicarain partisipasi Teater Ungu dalam Psychology Night. Kebetulan gue anggota seksi humas dan publikasinya. Dalam rapat itu, gue mengajukan diri sebagai koordinator untuk acara yang akan ditampilkan Ungu dalam Psychology Night. Setelah itu, kami semua ga langsung bubar. Ada yang maen ludo, ada yang makan, ada yang keliatannya mojok, ada yang baca buku, n ada yang tidur (termasuk gue!).

Gue diajak maen ludo ama anak2. Karena gue penasaran kenapa mereka seneng banget maen ludo, gue mau2 aja. Keliatannya juga asik. Ternyata setelah gue maen, emang asik n seru. Tendang2an tapi no hard feeling coz it’s just a game. Setelah satu ronde n gue kalah, gue masih penasaran. Anak2 juga mau maen lagi tapi mereka memberikan stimulus tertentu dengan tujuan supaya maennya lebih seru. Uang udah masuk dalam permainan itu. Kalo ketendang dapet berapa, kalo masuk rumah dapet berapa. Gue diajak ikutan tapi gue ga mau karena pake duit. Iye kalo gue menang, kalo gue kalah… tambah bokeklah gue. Apalagi pengalaman kalah gue masih terbayang2, sial banget. Ngocok2, keluarnya mata dadu satu melulu. Empet juga kali.

Sayangnya cuma tiga orang yang bersedia maen dengan peraturan demikian. Dengan terpaksa, gue direkrut. Gue mau dengan persyaratan gue ga ikut2an soal duit dan mereka setuju. Wah entah apa yang membantu gue, gue hoki. Mata dadu gue enam melulu n melengganglah gue dengan sukses menuju home base gue. Cepet dan lancar. Mereka tercengang ngeliat gue. Sepertinya hokinya seret karena diserap gue. Gue sih berkelit, “Judi ga direstuin Tuhan.”

Ludo.. identik dengan anak kecil karena kebanyakan anak kecil yang demen permainan ini. Untuk menghilangkan citra permainan anak kecil, uang ditambahkan. Tapi gue malah mikir, jangan2 dengan melakukan hal itu, mereka jadi lebih childish dengan anak kecil. Orang dewasa adalah orang yang melakukan sesuatu dengan pertimbangan rasional yang matang.

Anak kecil yang maen ludo, tujuannya satu: murni bersenang-senang bersama teman2 (ludo ga bisa dimaenin sendiri). Ketika uang sudah ditambahkan, tujuannya masih tetap bersenang2 tapi pendorongnya yang membedakan: uang. Bersenang2nya bukan hal yang murni karena udah dikontaminasi uang. Apakah untuk mendapatkan kesenangan, harus dirangsang dengan uang?

Uang berfungsi sebagai alat tukar, ya alat tukar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena jumlahnya terbatas, tentunya kita mesti menentukan daftar prioritas. Mana yang paling krusial, mana yang ngga penting2 banget. Ga mungkir kita juga butuh bersenang2. Manusiawi kok, kita juga manusia. Tapi apakah semuanya harus dengan uang? Anak kecil aja bisa ga pake duit, kenapa kita yang katanya lebih dewasa ga bisa?

Apa keterikatan kita dengan uang sudah sangat besar sehingga membatasi kebebasan kita: kebebasan untuk bersenang2. Padahal salah satu esensi hidup adalah kebebasan. Kita memang butuh uang tapi jangan sampai kita benar2 terikat dengan uang. Keterikatan mengarah pada pendewaan. Kalo hal itu terjadi, kita ga bisa hidup tanpa uang. Kita ga bisa hidup senang tanpa uang. Kita merelakan kebebasan kita dirampas oleh uang. Inikah yang disebut dengan dewasa? Kalo menurut gue sih, mendingan jadi anak kecil. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: