I’m TeRRiBLy SoRRY

Menjelang hari Natal dan Tahun Baru, begitu banyak ucapan selamat sekaligus permintaan maaf. “Maaf jika gue melakukan kesalahan sama kalian semua.” Tujuan permintaan maaf kebanyakan tidak secara personal tetapi komunal. Hal ini lumrah-lumrah saja sebab seringkali kita tidak sadar bahwa kita telah melakukan kesalahan. Kebanyakan orang tidak ingin menutup tahun yang lama ini dengan perasaan kesal ataupun benci. Tentunya kita ingin meninggalkan kesan yang indah, terutama pada saat akhir karena ada tendensi: kesan terakhir mewakili kesan secara keseluruhan. Kemudian permintaan maaf disertai pula dengan janji untuk menjadi orang yang lebih baik di tahun yang akan datang. Itikad yang baik, saya pikir.

Maaf… Kita sering menjumpai kata ini dalam hidup kita. Tidak persis kata ‘maaf’, tetapi juga versi-versi lainnya, seperti “sorry”, “gomen”, “pardon”, dan sebagainya. Kata ini mempunyai keampuhan untuk ‘memperbaiki’ kesalahan. Aku menyesal dan dengan rendah hati, aku minta maaf. Dalam pertemanan, kata ini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan hubungan yang rusak. Mari kita mulai dengan lembaran baru. Demikianlah kira-kira langkah selanjutnya.

Akan tetapi ada pula maaf yang hanya sebatas kata. Kata ini diucapkan untuk membuat kesan bahwa orang yang mengatakan adalah orang yang rendah hati, pemaaf. Padahal masih ada kekesalan ataupun kebencian dalam hatinya. Seperti ini, “Aku memaafkanmu tetapi aku tidak akan bisa melupakan apa yang telah kau lakukan padaku.” Sebagai manusia, tentunya ada keterbatasan-keterbatasan tertentu. Kita sulit untuk ‘melupakan’ kejadian yang membekas dalam hati kita. Celakanya kalau kejadian itu buruk. Hal itu bisa berkembang menjadi trauma pribadi dalam diri orang itu.

Satu-satunya cara yang saya tahu untuk ‘menyembuhkannya’ adalah dengan cinta kasih. Maksud saya, cinta terhadap diri sendiri. Dengan cinta, kita akan menganggap kejadian buruk itu tidak menyakiti diri kita. Kejadian yang tadinya dipersepsikan buruk berubah menjadi kejadian yang mendewasakan diri kita. Semua hal yang kita alami adalah anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri. Dengan begitu, kita akan menemukan kedamaian dalam hati kita. Tindak lanjutnya, kita benar-benar mampu memaafkan.

Mudah dikatakan namun sulit untuk dilakukan. Yup, saya sering mengalaminya dan seringkali hampir putus asa. Akan tetapi saya teringat kembali perkataan seorang teman, “sulit bukan berarti tidak bisa kan?” 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: