Monthly Archives: January 2005

ThE wOrLd’S gReaTeSt

Biru dan kuning adalah satu warna

Hijau dan merah adalah sama

Hitam dan putih adalah satu nafas

Berpasang-pasang mata paku hadirnya

dalam benak masing-masing

penuh tanda tanya

Takkan ada jawab

terhalang curiga

dengki manusia



Otak bermekanisme

lawan doktrin dasar anarkisme

Berpuluh prasangka tak sanggup

bendung dalam hati



Putih jadi hitam

Hijau jadi merah

Kontradiksi penuh kepalsuan



Buat rasa hati ini muak

mual

Benci terlintas di rasa

Tak mampu bayangkan dirgantaradengan asap kepulan

polusi setan



Dendam takkan akan pernah terbalas

Tiada akan dilakukan

Bala surgawi kerahkan’tuk tawarkan rasa ini



Pasrah

Seputus asa pengkhianat

dan

serahkan segalanya ke tangan Tuhan

GHoST oF THe PaSt

Seiring waktu berjalan, kita hidup. Saat hidup, kita mengalami banyak peristiwa dengan berbagai dimensi waktu, antara lain masa lalu, sekarang, dan masa depan. Walaupun kita hidup sekarang, tak pelak masa lalu masih sering membayangi kita dan gambaran masa depan seringkali muncul dalam benak kita. Masa lalu dan masa depan (prediksi) menjadikan diri kita sebagai pribadi yang utuh.

Masa lalu melatarbelakangi pola pikir, keinginan, dan kepribadian kita. Tak jarang saya mendengar orang yang mengatakan bahwa dirinya harus melupakan masa lalunya. Suatu hal yang mustahil, saya pikir. Takkan pernah orang bisa menghapus masa lalunya karena masa lalu adalah bagian dari kepribadiannya. Jika masa lalu benar-benar bisa dihapus, akan terjadi distorsi dalam diri seseorang karena kehilangan salah satu komponen dirinya.

Terkadang ada hal menyakitkan yang terjadi pada masa lalu dan mengakibatkan semacam ketraumaan dalam diri. Ketika menghadapi situasi yang hampir sama, kita mungkin ketakutan dan bahkan secara ekstrim kita bisa lari atau sebisa mungkin menghindarinya karena teringat pada rasa sakit yang dahulu. Saya rasa hal inilah penyebab seseorang menutup dirinya dengan begitu keras.

Orang yang pendiam bukan berarti orang itu tertutup. Si A yang kita kenal selalu ceria dan terlihat supel bisa saja seorang yang introvert. Ketika kita merasa sudah klop mengobrol dengan dia dan ingin mengenalnya lebih jauh, tentunya kita akan melontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi. Dalam menghadapinya, orang introvert memiliki tiga kemungkinan. Pertama, menolak untuk menjawab, termasuk berkelit dengan mengalihkan pembicaraan. Kedua, mengarang cerita palsu. Ketiga, menceritakan ‘kulit luarnya’ saja dan kemudian mengalihkan pembicaraan seputar dirinya itu.

Menutup diri adalah sebuah pilihan bebas. Orang berhak untuk melakukannya. Namun, setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Dengan menutup diri, segala beban diri harus kita tanggung sendiri dan pasti rasanya akan lebih berat dibandingkan jika kita membaginya dengan orang lain. Orang lain yang saya maksud bukan semua orang melainkan orang yang paling kita percaya, yaitu orang yang kita sayangi dan menyayangi kita.

Belum bisa percaya dengan orang lain? Mungkin kita harus mencoba untuk lebih terbuka, dalam konteks mau mengenal orang lain, bukan menceritakan rahasia kepada semua orang. Ketika berada dalam proses mengenal itu, pastilah ada satu atau dua orang yang sreg. Saat sudah menemukannya, janganlah berkeras pada diri sendiri bahwa mereka tak mungkin bisa mengerti diri kita. Mereka bisa asalkan kita membiarkan mereka mengenal diri kita, setidaknya dari keseharian kita. Dengan kata lain, semuanya tergantung diri kita sendiri.

Yow…

SANTA FALSE

Seringai sang awan hiasi bunga tidur

Buaikan angan dalam nyata tak berujung

Hinggapi asa dengan senyum paling palsu

Tawarkan rasa getir dengan manis madu manipulasi surgawi

Jerat hasrat diri dalam sebuah kantung pertahanan diri

Kini saatnya bangun benteng

dan susun amunisi

agar tak seorangpun dapat rampas

dan robek yang paling berharga dari diri ini

Remuk redam semua konstruksi kebutuhan dunia

Hingga dengan kepala tegak kukatakan


AKU TETAP ADA!

January 22, 2005

TOXIC BY YOUR HEAD

Hausnya dunia pada darah ditebus sudah

namun tak kunjung habis



Langit murka dan sedih, beku asa

hingga ia menangis turunkan es



Hujam dunia pada ulu hati

Tak ada apapun jua dalamnya

Kering menghitam



Jika ada saat es mengoyak

keluarlah belatung-belatung di sana

bersama bau busuk

January 5, 2005

A STORY OF A WOMAN’S LIFE



Lukisan mata perempuan penjaja kendi paku hadirku. Terhenyak dalam hening. Sosok sepasang bola mata kelam, simpan misteri besar hidup manusia. Angin bawaku ke tempat itu kala hujan turun basahi permukaan bumi dan rambutku luntur hitamnya. Perempuan itu hampiriku, pegang kedua bahuku dengan mata lembutnya. Mataku beradu dengannya. Kucoba gali isi hatinya. Begitu banyak kepedihan di dalamnya, pula kekuatan, ketabahan yang buat dunia tunduk di hadapnya. Air mata meleleh jatuh ke pipiku. Dengan tangannya, ia seka dengan kasih tulus. Kami berdua tersenyum lalu terdiam, larut dalam pikiran dan rasa.

January 1, 2005

SnaPSHoTs: TeaTeR UNgU



Saat persiapan sebelum pembacaan puisi untuk peringatan tragedi Semanggi tanggal 13 November 2004. Posted by Hello

HaRi InI: KaMis, 20 JaNuaRi 2005

Begitu mengagumkan ciptaan Tuhan, manusia. Manusia begitu kompleks sehingga banyak manusia yang tak sanggup memahami dirinya sendiri. Namun pemahaman terhadap diri sendiri sangatlah penting sebagai landasan hidup manusia. Siapa dirinya menentukan bagaimana ia menjalani hidupnya.

Kemudian lahirlah ilmu psikologi yang berusaha menjelaskan tentang tingkah laku manusia dengan berbagai pendekatan atau aliran. Oleh karena manusia masih merupakan misteri dengan segala kerumitannya, tidak ada teori yang dapat menjelaskan siapa manusia (melalui tingkah laku) secara menyeluruh. Banyak pula teori yang tidak ilmiah. Dengan kata lain, tidak dapat diuji kebenarannya secara penuh karena pada saat pengujian pasti ada kecacatan. Walaupun demikian, teori ini masih bisa diaplikasikan sesuai dengan kondisinya. Betapa rumit ciptaan Tuhan yang satu ini.

Hari ini saya menghadapi misteri diri saya sendiri. Ketika saya sedang duduk-duduk di kantin kampus sambil menunggu kedatangan seorang teman, saya iseng mengetik kata-kata di fitur SMS telepon selular saya. Herannya saya sama sekali tidak mengerti maksud kata-kata yang cukup aneh itu.

”Kudengar sitar dipetik

kupasung jantungku

Saat melodi berganti di tengah denting sunyi

kusobek selaput jantungku

hingga darah mengucur dari bibir jantungku

Ketika gendang ditabuh

kudekap jantungku

hingga terhenti denyutnya”



Jakarta, 20 Desember 2004

Saya kemudian berpikir dan teringat pada Freud, seorang selebritis psikologis mazhab psikoanalisis. Apakah mungkin tulisan saya ini didorong oleh unconsciousness saya? Apakah hal ini merupakan manifestasi dari keinginan saya yang belum atau tidak tercapai lalu bersublimasi dalam bentuk rentetan kata-kata?

Dalam rangka menjawab pertanyaan tentang makna kata-kata itu, saya berkonsultasi dengan dua orang teman. Secara tidak mengejutkan, mereka memberikan jawaban yang berbeda. Tidak ada jawaban yang pasti tentang manusia.

STUDI: PSIKOLOGI ATMAJAYA



Selama kurang lebih empat (mudah-mudahan) sampai lima tahun, saya harus berhadapan dengan kerumitan manusia dan belajar untuk memahaminya walaupun hal itu sangatlah sulit. Awalnya saya mengira dengan masuk jurusan psikologi, saya akan lebih memahami manusia (termasuk diri saya sendiri) terutama dalam konteks tingkah laku. Namun dugaan saya salah karena saya melupakan fakta bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks sehingga tidak ada jawaban pasti. Aliran-aliran yang adapun bermacam-macam dengan penjelasan yang kontradiktif dengan tokoh atau aliran lain. Saya tidak langsung mau menyerah. Semakin bingung, semakin saya tertantang.

Di universitas tempat saya menuntut ilmu, Atmajaya, mahasiswa diminta untuk memilih peminatan dari empat bidang psikologi ketika sudah belajar selama lima semester. Keempat bidang itu, antara lain, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi industri dan organisasi, serta psikologi klinis. Tampaknya saya harus sangat memperhatikan mata kuliah-mata kuliah yang saya ambil agar saya mengetahui minat dan keahlian saya. Peminatan ini akan diteruskan menjadi benar-benar jurusan ketika mengambil program magister.

Sebentar lagi saya akan segera menghadapi semester kedua dengan mata kuliah yang lebih banyak daripada semester pertama. Kalau saat semester pertama, saya hanya menanggung sembilan belas SKS, sekarang saya harus berhadapan dengan mata kuliah sejumlah dua puluh tiga SKS. Tampaknya saya harus lebih berlatih dan berusaha lagi melakukan pembagian waktu secara efektif dan efisien untuk performa saya, baik dalam bidang akademis maupun non akademis.

Urgensi ini selain didorong oleh beban SKS yang kian bertambah juga oleh kegiatan Teater Ungu yang semakin padat di tahun 2005 ini. Masih ada empat job yang harus diselesaikan dan parahnya, waktunya berdekatan. Menyadari keterbatasan diri saya, saya terpaksa melepas posisi saya dalam suatu organisasi. Organisasi ini dengan berat hati saya tinggalkan karena peran saya di dalamnya tidaklah krusial dan masih bisa dipegang orang lain. Kesimpulannya, dalam bidang non akademis, saya memilih untuk fokus dalam Teater Ungu.

TEATER DAN SAYA

A. TEATER PUTRI SANTA URSULA

Ada alasan lain yang turut mewarnai keputusan tersebut, yaitu kecintaan saya terhadap teater. Saya mulai mengenal teater sejak tahun pertama saya duduk di SMU. Teater yang saya ikuti bernama Teater Putri Santa Ursula (TPSU). Anggota TPSU terpilih melalui seleksi yang ketat dan keras (sehingga menyebalkan untuk saya). Saya tidak menyangka bahwa nama saya tercantum dalam pengumuman anggota baru TPSU karena saya tidak melakukan usaha yang memukau ketika seleksi. Belakangan saya tahu ada seorang alumni yang memperjuangkan saya karena melihat kegigihan saya dan berharap hal itu menjadi modal untuk lebih mengembangkan TPSU. TPSU, katanya, lebih membutuhkan dedikasi daripada bakat. Ucapannya tenyata terbukti tepat di kemudian hari setelah saya berproses sekian lama bersama teater putri ini.

Selama saya bergabung dalam teater ini, saya merasakan kekeluargaan yang begitu erat, yang belum pernah saya rasakan di tempat yang seharusnya didasarkan pada hal itu (baca: keluarga). Kekeluargaan ini kian erat ketika sedang menjalani proses latihan untuk sebuah pementasan. Berbagai macam persoalan datang menghampiri dan semuanya membuat kami semakin erat karena kami sadar dengan bersatu, segala persoalan akan terasa lebih mudah untuk diselesaikan. Itulah sebabnya setelah pementasan berlangsung, saya tidak merasa senang sepenuhnya. Ada kesedihan di hati saya karena proses itu sudah berakhir. Memang kami masih akan berkumpul lagi tetapi dalam situasi yang berbeda dengan saat persiapan pementasan. Mengutip perkataan seorang teman yang terjun dalam dunia teater profesional, ”Dalam teater, proses adalah intinya sedangkan pentas hanyalah pestanya.” Saya setuju sepenuhnya dengan pernyataan tersebut.

B. TEATER UNGU

Saya tidak ingin kehilangan pengalaman berteater sehingga selepas dari SMU Santa Ursula dan bergabung dengan keluarga besar Unika Atmajaya, saya berusaha mencari informasi mengenai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) teater. Saya bingung karena dalam masa orientasi, UKM teater sama sekali tidak diperkenalkan padahal setahu saya ada sebuah grup teater bernama Teater Ungu di Atmajaya. Secara kebetulan, saya membaca poster kecil Teater Ungu yang mengajak mahasiswa untuk turut bergabung dalam latihannya. Merasa tertarik, saya mengikutinya sampai sekarang walaupun belum resmi menjadi anggotanya. Bersama dengan tiga orang rekan lagi, saya menunggu pelantikan anggota Teater Ungu angkatan V.

Belakangan saya mengetahui bahwa Teater Ungu belum berstatus UKM atau bisa juga disebut UKM ilegal. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak saya. Teater Ungu telah melakukan banyak pementasan sendiri ataupun dalam acara kampus dengan membawa bendera Atmajaya. Setahu saya, Teater Ungu termasuk dalam jajaran teater yang cukup terkenal. Mengapa sampai sekarang belum diberikan status UKM oleh universitas?

Isu ini kerap dibicarakan dan selalu diusahakan jalan keluarnya, yaitu dengan mengirim proposal kepada pihak ‘atas’ namun selalu membuahkan kekecewaan, sebuah penolakan. Selalu menjadi harapan tiap angkatan, bahwa angkatan mereka sanggup untuk meluluhkan kekerasakepalaan pihak universitas dan menjadi asa angkatan V mendatang pula. Semoga penantian Teater Ungu berakhir dengan sebuah keberhasilan, senyum kebahagiaan seiring dengan masuknya angkatan V dalam keluarga Teater Ungu. Amien!

PRoSeS => HaSiL?

Mengakhiri semester pertama dan mengawali semester baru, fakultas memberikan laporan nilai mahasiswa yang kerap disebut KHS (Kartu Hasil Mahasiswa) pada hari Sabtu, 15 Januari 2005. Sayangnya saya tidak dapat hadir untuk mengambil hasil karena saat itu saya sedang berada dalam perjalanan menuju Bandung, kota yang sangat saya rindukan sebab di sana ada factory outlet yang menawarkan berbagai produk fashion dengan harga miring dan distro-distro yang keluarannya menjadi trend masa kini di kalangan kawula muda. Untunglah sahabat saya, Dessy bersedia mengambilkan KHS saya.

Sebenarnya tak perlu saya menunggu hari pembagian KHS untuk mengetahui nilai-nilai yang telah saya capai. Universitas memfasilitasi mahasiswa dengan program komputer yang memuat data-data pribadi mereka termasuk nilai-nilai mereka. Tak sabar untuk mengetahuinya, saya mencari tahu nilai saya di komputer universitas. Pertama kali saya mencobanya, ternyata nilai belum masuk. Kemudian setelah saya menerima kabar dari dosen saya bahwa nilai sudah dimasukkan, barulah saya kembali memeriksa di komputer itu. Memang benar hampir semua nilai sudah keluar dan hanya satu yang belum, yaitu mata kuliah Metodologi Penelitan I. Syukur alhamdullilah, nilai saya lumayan dan IP saya tidak mengecewakan untuk seorang pemalas.

Setelah mengetahui hasil studi saya selama satu semester, saya tidak langsung puas begitu saja meski nilai saya tidak bisa dikatakan buruk. Hal itu disebabkan selama proses kuliah berlangsung, saya tidak menjalaninya secara maksimal. Saya kerap tidak mendengarkan penjelasan dosen di kelas dan terkadang saya membolos. Selain itu, di fakultas psikologi yang konon mengandalkan kerajinan membaca dan kemampuan berlogika, saya termasuk mahasiswa yang kurang memenuhi syarat tersebut. Jujur, saya hanya belajar dengan frekuensi tiga bulan sekali. Dengan kata lain, hanya pada saat UTS dan UAS.

Tentu saya menyadari bahwa sesal tiada berguna. Oleh karena itu, mengawali semester dua ini, saya bertekad untuk lebih giat lagi agar nantinya saya akan merasa puas. Nilai bukanlah semata-mata demi kebanggaan orangtua melainkan untuk diri saya sendiri, sebagai bukti bahwa saya adalah orang yang berkompeten. Dengan menekankan hal itu pada diri saya sendiri, saya tidak akan merasa terbebani dalam menjalaninya. Akhir kata, saya percaya jika kita menjalani proses secara maksimal, tentu hasil yang akan dituai maksimal pula. Di semester depan, saya harus bisa lebih baik lagi. Amin.

THe PoWeR oF CoMMuNicaTioN

Di era modern sekarang ini, alat komunikasi makin berkembang pesat, atau bahasa gaulnya, semakin canggih. Kalau dulu komunikasi hanya bisa terjalin dengan bertemu langsung dan berkirim surat, telegram, dan sejenisnya, sekarang sudah ada telepon. Bahkan ada telepon genggam yang praktis dan multifungsi (telepon, SMS, MMS, GPRS). Kemudian ditambah lagi dengan penemuan internet yang memungkinkan komunikasi mancanegara dengan biaya relatif lebih murah daripada telepon biasa. Dan akhir-akhir ini, dengan perkembangan alat komunikasi yang cepat ini, makin marak LD (long distance) relationship di kalangan kawula muda.

Sebenarnya mengapa manusia menaruh perhatian yang besar pada kemajuan telekomunikasi? Menurut saya, tak lain kembali pada kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Pada hakikatnya, manusia tak bisa hidup tanpa orang lain. Secara ekstrim, manusia bukanlah manusia tanpa manusia lain. Orang lainlah yang memanusiakan diri kita. Orang yang menyebut kita manusia dan mengajarkan kita kriteria manusia, ciri-ciri manusia. Kegiatan mentransfer hal inilah yang dinamakan komunikasi.

Selain makhluk sosial, manusia juga makhluk pribadi yang memiliki keunikan tersendiri. Dalam berinteraksi dalam masyarakat, manusia juga membawa keunikannya ini, misalnya dalam kebutuhan. Untuk mencapai suatu konsensus agar tercapai kepentingan bersama, misalnya kedamaian, maka manusia perlu mengadakan musyawarah, yang tak lain adalah suatu bentuk dari komunikasi.

Komunikasi menjembatani perbedaan antar manusia sehingga terciptalah pengertian di antara mereka dan makin lengkaplah pemenuhan kebutuhan sosial mereka. Manusia ingin dimengerti oleh manusia yang lain. Dengan demikian, mereka merasa tidak hidup sendiri. Oleh karena itu, manusia selalu mencari sahabat, yang tidak hanya bisa diajak bicara tetapi juga mengerti tanpa selalu harus bicara (suatu bentuk komunikasi yang lebih mendalam). Tidak semua orang bisa dijadikan sahabat karena tidak semua orang mengerti keunikan seseorang. Memang sulit menemukan sahabat sejiwa dan beruntunglah mereka yang telah memilikinya.

Dalam diri manusia juga terkadang ada kebutuhan untuk menjalin hubungan yang mendalam tetapi sedikit berbeda dengan persahabatan, yaitu hubungan yang didasarkan pada cinta dua insan, bisa antara laki-laki dan perempuan, perempuan dan perempuan, ataupun laki-laki dan laki-laki. Cinta jenis inilah yang sering diumbar-umbar pada Valentine’s Day dengan hati bewarna pink dan mawar merah. Ada teori yang mengatakan bahwa seseorang jatuh cinta dengan orang lain karena kemiripannya (efek sisi narsistik yang ada pada setiap pribadi), baik dalam fisik maupun psikologis. Mirip bukan berarti sama, maka wajar jika terdapat perbedaan di antara mereka. Yang paling berperan adalah perbedaan cara pandang. Seringkali timbul masalah karenanya. Untuk menyelesaikan masalah itu, kuncinya komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, diharapkan masalah terselesaikan dengan baik pula karena masing-masing pihak paham maksud dan keinginan pasangannya.

Akhir kata, don’t underestimate the power of communication. It can bring magic to your life and trust me, you always need it. Adios!

CoNFeSSioN oF a SHoEHoLic

Shoes of my dream… They are all Manolo Blahniks. Sadly, surely and undoubtfully, I can’t afford them… Posted by Hello