KeRaS KePaLa

Sejak 19 tahun yang lalu dilahirkan ke dunia ini, ada satu sifat yang ‘abadi’ dari saya, yaitu keras kepala. Sudah saklek, kata salah seorang sahabat. Sahabat saya ini keras kepala, tetapi saya lebih keras kepala lagi. Jika saya sudah mengambil suatu keputusan, saya tidak akan mengubahnya. Walaupun saya sering berkonsultasi dengan sahabat-sahabat, jarang masukan mereka berpengaruh besar keputusan saya, kecuali saat saya belum memutuskan sesuatu. Usul mereka yang sejalan dengan pemikiran saya saja yang saya dengarkan. Dengan kata lain, saya hanya mendengar apa yang ingin saya dengar. Berbicara dengan orang lain, hanya berfungsi sebagai penguatan. Secara ekstrim, dapat dikatakan belum ada orang lain selain diri saya sendiri yang berhasil mengubah keputusan saya 180 derajat.



Sifat saya yang satu ini mendasari perjuangan pantang menyerah, untuk meraih cita-cita yang saya inginkan. Saya memang orang yang malas tetapi sekali saya membuat keputusan dengan keyakinan penuh, dijamin saya akan memperjuangkannya sampai titik terjauh yang dapat dicapai. Pengorbanan kadangkala menjadi bagian darinya. Misalnya, saya ingin menyelesaikan tugas secara kontinu dalam satu hari (non-stop). Walaupun lapar, saya tidak akan berhenti untuk makan sampai pekerjaaan itu selesai. Dalam hal perjuangan meraih cita, ada kalanya meski telah saya perjuangkankan, hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Jika sudah sampai pada titik terakhir yang demikian, saya berhenti. Namun saya tidak pernah menganggap ada kesalahan dalam keputusan yang telah diambil, oleh karena itu, saya tidak menyesalinya.

Terhadap sesuatu hal pun, jika saya sudah membuat penilaian, saya tidak pernah mengubah pandangan saya. Seiring dengan berjalannya waktu, mungkin saja terjadi penambahan atau pengurangan informasi tentang sesuatu hal itu. Penilaian saya akan berkembang tetapi tidak pernah berubah. Perubahan yang saya maksud ini terhadap inti dari penilaian saya ini. Saya sadar sepenuhnya terkadang sikap ini mengesalkan, seringkali menyakiti orang lain dan saya meminta maaf untuk itu.

Seringkali orang gemas dengan saya yang keras kepala. Herannya, saya malah bangga dengan hal itu sehingga tidak pernah ada niat dalam diri saya untuk berubah. Biarlah kekeraskepalaan menjadi ciri khas seorang saya yang keras kepala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: