Monthly Archives: March 2005

SECANGKIR KOPI PAHIT DAN AKU

Sejak kecil, aku suka sekali kopi pahit. Apalagi yang kental. Makin kental, makin pipiku bersemu merah dan jantungku makin cepat berdetak. Rasanya sangat menyenangkan! Kuceritakan ke orangtuaku, mereka malah menjerit dan serta merta membuang kopi-kopiku. Aku tak menangis, tapi dadaku sakit seperti tertusuk 4367 jarum. Ngilu. Aku kehilangan nafsu makan dan tak bisa tidur. Aku malas melakukan apapun, seharian terbengong-bengong di tepi jendela sampai-sampai anak-anak tetangga melempari aku dengan batu sambil meneriakiku orang gila. Karena tak tega melihatku, akhirnya orangtuaku menyerah dan mengembalikan kopi-kopi itu padaku.

Beranjak remaja, kala teman-teman perempuanku bercerita tentang laki-laki yang mereka incar dan menggerayangi mereka dengan semangat dan mata berbinar, aku tak tertarik. Yang kutahu aku malahan makin sering minum kopi pahit. Ketika mereka menagih cerita padaku, aku bercerita tentang kopi pahitku. Mereka terlihat bosan dan menghentikan ceritaku dengan gurauan-gurauan yang tak kumengerti. Makin lama mereka menjauhiku dan memandangku dengan tatapan aneh. Aku makin sering kopi pahit. Ketika anak laki-laki mendekatiku dengan penuh minat, cepat lambat mereka pergi dari kehidupanku. Aku makin suka kopi pahit.

Saat makan, aku ingat kopi pahit.
Saat sekolah, aku rindu kopi pahit.
Saat terdiam, aku lamunkan kopi pahit.
Saat tidur, kuimpikan kopi pahit.

Hidupku tak berarti tanpa kopi pahit. Bahkan ketika aku mati, aku ingin jasadku disirami kopi pahit.

Ah. Kopiku hampir habis padahal uangku tak cukup lagi. Kurasa kini saatnya aku pergi menjaja diri. Kurasa hasilnya bisa ditukar dengan satu cangkir kopi pahit lagi.

Advertisements

……

Kulambai dirimu, kasihku
namun mengapa engkau terdiam?
Bersitkan tanda tanya di hatiku

Kulihat jagad raya hampir jatuh
dari kepalamu
Ada apa denganmu, sayang?

Sepotong Surat dari Dinda

Kanda,
sesal tak terbendung lagi di hati Dinda
hari demi hari Dinda lalui dengan rasa bersalah
dan rasa rindu yang terus menyiksa
tabir rahasia memaksa dirinya tersingkap
memaksa Dinda runtuhkan ego diri
dan kembali pada Kanda

Kanda,
Dinda takkan pergi lagi jauh darimu
Dinda akan selalu di sisi Kanda untuk selamanya
bersama buah kasih kita berdua
Kita akan jelang hari tua bersama
melihatnya tumbuh menjadi seorang laki-laki
yang baik dan penuh cinta
seperti Kanda
dan Dinda berharap ia temukan perempuan untuk ia cintai
seperti Kanda mencinta Dinda

Kanda,
sudahkah Kanda tengok jendela depan?
Dinda masih di sini
menunggu Kanda mengulurkan tangan
dan menarik Dinda ke pelukan Kanda
seperti dulu

dinda, dimanakah kau ?
kutau kau ada disekitar sini
tetapi mengapa rasanya kau jauh
mengapa kau tak mengenalku lagi

dinda, kanda pernah berkata dindalah yang terindah
kanda tak pernah menyesal apapun asal dinda bahagia
tetapi mengapa sekarang rasanya kehadiran kanda yang membuat dinda merana
mengapa dinda terus berlari

kanda terus menunggu dan menunggu
orang bilang carilah kebahagiaan baru
kanda pun berusaha mencari kebahagiaan baru
tetapi kanda terus kebingungan

kulihat dinda disana
tapi dinda tak sudi melihat kanda
haruskah kucari kebahagiaan baru
ataukah ku harus menunggu

jujur kanda bingung
jujur kanda gundah
jujur kanda takut
jujur kanda kacau

kanda kan berusaha menunggu
kanda kan berusaha bersabar
kanda kan berusaha tegar
kanda kan berusaha hidup

kembalilah dinda
tapi jujur kanda tak tahu apakah kanda kan terus menunggu
atau menemukan kebahagiaan baru itu
hanya pada rencanaNya kanda berserah.

by: z3120
thx man!

Untuk Kanda

Kanda, Dinda mau pulang.
Dinda sudah lelah berlayar ke sana kemari mencari kotak kebahagiaan.
Tulang-tulang Dinda rapuh dan lemah.
Dinda butuh tempat berlabuh dan pikiran Dinda tertuju pada Kanda.

Kanda sayang,
hati Dinda juga merindu rumah kita dulu.
Tempat kita berdua merajut kehidupan dari dua gulungan benang lusuh.
Di kamar kita, jiwa kita bertaut.
Dan saat itulah kehidupan berikan sentuhan magisnya.
Warnai kisah cinta dengan corak baru.
Setiap sudut rumah saksi kasih kita berdua.

Entah mengapa aku lupakan itu semua,
terbius iming-iming dunia,
meninggalkanmu dan rumah kita,
luntang-lantung di jalan,
mencari apa yang sebenarnya telah kumiliki.

Kanda, Dinda kangen kamu.
Ketika Dinda tulis surat ini,
masihkah Kanda di rumah kita?
Ketika Dinda berdiri di depan rumah kita,
masihkan Kanda mau menerima Dinda kembali?
Membuka pintu sebelum Dinda sempat mengetuk,
seperti dulu kala Dinda mencari hujan?
Hujan yang telah pertemukan kita berdua.
Jiwa yang sesat, saling menumpu harapan.

Kanda,
ketika Kanda membaca surat ini,
tengoklah ke jendela depan.
Dinda pasti di sana, membawa buah kasih kita berdua.
Kanda…

Dengan cinta dan harap,
Dinda

duh… abang

abangku ganteng.
abangku idolaku.
abangku keren.
abangku sini, aku punya kamera.

abangku kaya.
abangku cinta.
abangku royal.
abangku sayang, aku tambah cinta.

abangku ngelaba.
ga papa kok.
aku juga ngelaba.

A Simple yet Complex Matter of Life

Murtad. Sebagian mengatakan demikian. Sebagian lagi mengurut dada dan berniat untuk mendoakan saya, semoga saya kembali ke jalan yang’benar’, jalan Tuhan. Mereka memandang saya dengan aneh. Mungkin kasihan tetapi ada unsur melecehkan. Sudah lama saya menolak untuk pergi ke Gereja dan melakukan ritual-ritual keagamaan. Sebagian mengatakan saya malas. Ya, mereka memang benar. Saya malas untuk melakukan semuanya. Akan tetapi jarang dari mereka yang sanggup mengerti dan menerima alasan di balik kemalasan saya. Saya sedikit banyak memaklumi perlakuan mereka sebab sangatlah sulit untuk memahami sesuatu yang benar-benar di luar kotak indoktrinasi masyarakat apalagi yang dijadikan parameter kebaikan. Namun bukan alasan pribadi saya yang ingin saya bicarakan.

Salah satu parameter kebaikan adalah apakah ia religius atau tidak. Cara untuk menunjukkannya adalah dengan sering beribadah, setidaknya reguler seminggu sekali. Saya tidak mengatakan bahwa mereka melakukannya semata-mata karena ingin mendapatkan penghargaan di masyarakat. Ada yang benar-benar menemukan kedamaian di sana, menemukan tempat berpijak dan berteguh. Akan tetapi ada juga yang merupakan campuran dari kemungkinan dua alasan yang telah saya kemukakan.

Untuk alasan yang pertama, seperti orang Farisi yang kerap diceritakan dalam kitab suci agama saya, saya mencapnya munafik. Tidak salah, itu adalah pilihan mereka. Life is about choices. Yang saya sesalkan adalah ketika agama yang punya power sangat besar dijadikan tameng untuk menjustifikasi perbuatan mereka. Kerap hal ini diakibatkan pemahaman yang dangkal tentang keagamaan mereka. Kitab suci ditafsirkan secara harafiah sehingga tafsiran itu mengaburkan makna yang sebenarnya, yang berada di balik semuanya, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang think outside the box. Seorang teman pernah sekali berkata pada saya, “Al-Quran itu untuk orang yang berpikir.” Saya rasa kata-kata itu tidak hanya diperuntukkan untuk penganut agama Islam tetapi juga untuk pemeluk seluruh agama. Keterbatasan bahasa manusia acap membuat pesan-pesan Ilahi sulit tersampaikan dan oleh karena itu, kitab suci menggunakan simbol-simbol. Untuk memahaminya, kita perlu berpikir dengan kritis. Orang-orang yang fanatik berlebihan, korban dari kedangkalan pemikiran mereka, inilah yang mudah disetir untuk kepentingan politisi-politisi.

Mengenai kepentingan-kepentingan politisi, dewasa ini ada banyak pihak yang menggunakan agama untuk kepentingan politik. Keagungan dan kemuliaan surgawi diseret ke kenistaan dan kedurhakaan dunia. Orang-orang ini tahu bahwa dengan modal agama, mereka bisa memperoleh kekuatan politik yang besar sebab agama telah menjaring massa yang besar lagi loyal dan dengan ‘merangkul’ agama, mereka tak perlu susah-susah lagi. Mereka tinggal mengambil alih yang sudah ada. Orang-orang picik dan licik inilah yang menyebabkan terjadinya konflik antar pemeluk agama dan ancaman disintegrasi bangsa. Kemaksiatan ini takkan terjadi dengan mudahnya apabila insan-insan tokoh besar yang duduk dalam lembaga keagamaan tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi. Dengan iming-iming harta, mereka bisa mengeluarkan ‘surat keputusan’ atau fatwah tertentu yang menguntungkan orang yang membayar mereka. Money talks, baby.

Sekarang sebagai bagian dari masyarakat yang katanya berbudaya tinggi, apakah kita mau tunduk pada keinginan cecunguk-cecunguk itu? Kita harus selalu waspada menggunakan akal sehat kita. Jangan mau ikut apapun kata mereka seperti kerbau yang dicucuk hidungnya tetapi kritisilah setiap pernyataan itu. Apa maksud di balik semuanya? Adakah nilai positif di dalamnya? Ataukah semuanya sarat dengan kepentingan politik? Terakhir, tanyakan pada diri kita. Apakah kita mau melakukannya? Apakah suara hati kita mendukungnya? (konon suara hati kita adalah suara Tuhan dan saya percaya) Semua itu adalah pilihan kita sendiri.

KAU AKU

2005/03/26
9:59 PM

coffee shop

matamu memandangku.
aku terhenyak.
tajam. dingin.
kepedihan di balik mata birumu.
biru yang selalu menjadi tanda tanya dalam hatiku.
ada kekuatan di sana.

matamu memandangku.
aku terhenyak.
tajam. hangat.
gairah di balik mata birumu.
biru yang selalu beri aku jiwa kebebasan.
ada cinta di sana.

matamu memandangku.
aku terhenyak.
tajam. beku.
kepedihan di balik mata birumu.
biru yang selalu ingin kulupakan.
ada kebencian di sana.

a friday

biru. gelap. saat langit singkap tabirnya dengan tangis kepedihan. kurban telah dipersembahkan untuk dunia. seluruh dunia bergetar. tersentak. termangu. diam. hening. berduka. diam. hening. takjub. diam. diam. diam…. belenggu terlepas. setan berteriak kesetanan. ada kebebasan di sana. jalan menuju surga kemanusiaan dan surgawi telah terbuka. kabar dan kata telah dimaklumkan. ungu. putih keemasan. kebahagiaan kekal.