Pulang Bersama Sebelah Sepatu

Rumahmu di mana-mana. Kau mengirim surat
kepadaku ke setiap rumah itu. Kau menitipkan
pesan di setiap rumah itu untukku. Kau keluar
masuk ke dalam diriku dan meinggalkan kunci
rumah yang berbau roti bakar.

Rumahmu membuatkan pintu untukku masuk.
Surat-suratmu membuatkan rumah untukku tinggal.
Malam selalu datang menyalakan lampu di kamar.
Matahari pagi selalu membukakan jendela untuk
burung-burung mengelilingi bukit, dan pulang
setelah senja. Tapi aku di mana.

Aku hanya bisa melihat jejak-jejakku dalam catatan
sebuah rumah sakit kecil di pinggir kota. Aku
sedang pergi ke mana dan pulang ke mana. Aku
hanya bisa melihat sebelah sepatuku yang
tertinggal di kantor pos. Aku melihat diriku lewat
kaca spion sebuah bis. Debu dan gerobak sapi
mengangkut tumpukan jerami dan bawang merah.
Bau lumpur basah menyebar dari mulut dan kaki
sapi.

Seluruh kota, sayangku, menjaga jejak-jejak cinta
yang berjalan sendirian dengan tas ransel di
punggungnya. Yang berjalan sendirian
mengumpulkan bekas-bekas pecahan cermin yang
berjatuhan dari sebuah pelukan. Dan aku pulang
seperti gumpalan tanah di ujung sepatumu.

-Afrizal Malna

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: