THE LAST JOURNAL OF THE BLACK ROSE

“Mawar hitam kusembahkan pada merah senja agar seluruh makhluk bergumul dalam bisu tanpa suara
After all, it’s me then”
Puzzle. Terbangun karena bau kopi tubruk. Mual. Perempuan meminum kopi dan berteriak kepanasan. Kemudian kaget oleh bunyi cangkir yang pecah. Kemudian perempuan turun dari singgasana impiannya menuju wastafel, membasuh wajahnya. Mengaduh perih, meraba lebam di pelipisnya. Biru keunguan.

Potongan-potongan bersatu dan mulai menunjukkan yang sesungguhnya. Perempuan mengamati kamarnya hampir hancur bagai puing. Pecahan gelas dan vas di mana-mana, robekan baju dan kutang di bawah tempat tidur, peralatan make-up pecah dan tumpah di atas dan bawah meja rias. Yang seharusnya berada di tempat yang tidak seharusnya. Cermin retak. Percikan darah di tembok sudut kiri kamar. Kaca bingkai foto pecah. Foto yang selama ini abadikan kenangan-kenangan hidupnya.

Kemudian ia menggaruk belakang kepalanya, merasa janggal oleh keanehan yang sulit dijelaskan. Kepalanya terasa dingin, bukan dingin menggigil melainkan dingin karena ditiup angin. Hanya di situ. Tangannya menemukan benjolan ganjil yang kasar, perlahan hangat dan basah. Kemudian ia mengangkat tangannya dan berteriak tanpa suara. Darah! Darah! Darah! Darah merah mengalir dari kepalanya. Ia memekik sakit dalam hening namun ia tak menangis. Air mata telah habis terkuras oleh waktu yang berlalu dengan kejamnya tiga tahun terakhir ini, saat ayah merampas dan melumat kehormatannya, memperlakukannya lebih rendah dari binatang. Kepala perempuan pusing lagi.

Seperti tersentak, matanya mencari sesuatu, bergerak dari kiri ke kanan kemudian dari kanan ke kiri sampai akhirnya terpaku pada satu titik di sebelah kanannya. Sekuntum mawar hitam dikelilingi pecahan-pecahan beling di lantai dingin dan kejam. Mawar itu tetap tegar di antara kehancuran-kehancuran sekitarnya. Tanpa pedulikan kakinya yang tersayat-sayat, ia tetap melangkah, berjongkok, dan dengan sisa-sisa kekuatannya, meraih mawar hitam itu dengan jari-jari rapuhnya. Tangannya tertusuk dan berdarah tetapi ia acuh. Ia tak mampu lagi rasakan sakit. Seluruh syarafnya telah mati, semati hatinya kemarin dan hari ini.

Perempuan berjalan perlahan menuju singgasana impiannya sambil memegang mawar hitam di dekat dadanya, seakan mawar hitam itulah ujung doa dan harapannya. Darah terus mengalir dari belakang kepalanya, kedua pelipisnya, kedua matanya, kaki-kakinya, dan kedua tangannya. Mawar hitam mawar hitam… Sahabat setiaku, bersatulah dengan jiwaku yang hilang, dan kita bersama-sama menuju surga terindah di mana kau dan aku akan selalu bersama di bawah hangatnya sinar bulan purnama di tengah malam yang gelap. Lalu pandangannya mulai menghilang bersama kesadarannya. Makin gelap. Akhirnya tertutup dalam gelap.

Seorang perempuan tua mengetuk-ngetuk kemudian membuka kamar itu dan berteriak karena takut dan ngeri. Kemudian ia berlari. Tinggalkan pintu kamar itu terbuka, dan pintu kamar itu akhirnya menutup untuk selamanya. Di depan pintu kamar itu, tergantung foto seorang perempuan tersenyum hangat dengan mawar hitam diselipkan di atas daun telinganya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: