Monthly Archives: April 2005

broken

kotak es di atas meja.
ditaruh emas putih.
tutupnya dipahat kaligrafi Arab.
sayang, pahatan terakhir terlalu kuat.
hingga pecah.
bunyi biola.
tchaikovski.
leleh jadi air.

(tertawa)

seorang perempuan tergeletak kehausan di padang pasir. pingsan kehausan di bawah sinar matahari tak kenal ampun kejam. orang-orang lewat. mereka hanya terpaku melihat lalu merasa iba. kemudian mereka memperdebatkan cara menolong perempuan itu. dibawa ke mana? apa yang harus diberikan? siapa yang harus menampungnya? dari mana asalnya? siapa keluarganya? sementara itu anak dalam kandungan sang perempuan meringis pedih kemudian pergi dengan perasaan kesal dan benci, berpulang ke rumah Tuhan. diikuti dilepaskannya busur Sang Kematian di jantung perempuan itu. tepat pada pusat. kemudian berhenti berdetak. akan tetapi orang-orang itu masih asyik larut dengan dirinya sendiri. lalu pulang ke rumah masing-masing tanpa tersisa ingatan sedikitpun tentang perempuan itu.

getir

mata indah bersinar gelap temaram
dalam
mencekam
kelam
malam
hitam
dendam
biru lebam

tanpa satu asa
jadi berbusa
sia-sia belaka
hampa
tanpa nama

adakah hilang khilaf di padang pasir
tanpa angin berdesir
dengan banjir
tak selesai hanya hampir

batu safir tidak tergosok
jadi rongsok
jadi bobrok
mungkin dunia anggap borok

kemarilah wahai bintang timur
lindungilah hati yang babak belur
jagalah telur-telur
agar kehidupan tidak luntur

jelas

pelan-pelan dunia berlari dari kakiku. meninggalkanku dari gravitasi. sendiri di tengah kegelapan malam dan kerling bintang. menembus udara segala zaman. melihat, memperhatikan dunia dari kejauhan. mengagumkan. ketika dekat, hanya sedikit terlihat. ketika jauh, semuanya sangat jelas. tak ada yang tak ada.

mendamba senja

anak-anak berlari ke ujung senja. tertawa-tawa. bercanda ria. tanpa suara. makin cepat makin cepat. slow motion. lambat. lambat. hampir statis. menembus ombak. semakin cepat. perlahan-lahan mulai ada suara. sampai akhirnya tak terlihat lagi.

renungan kloset *

Sebuah renungan kloset
Terisolasi bayang kabur dunia
Kedap gelombang ultra
Hanya ada kloset dan air
Serta nyamuk-nyamuk

Sampai kapan?
Sampai dunia jadi bebas
Sampai dunia jadi ‘gila’
Sampai dunia jadi bebas ‘gila’
Sampai dunia jadi hilang
Sampai dunia jadi ‘nanti’
Sampai dunia jadi hilang ‘nanti’
Sampai dunia jadi kamu nanti

*dari judul kumpulan puisi Rieke Dyah Pitaloka

trilogy: dosa

minum soda
naik sado
main dosa

minum apa?
minum soda
itu doank?
campur whiskey donk
whiskey cola
manis, euy!
persiapan kencan

naik apa?
naik sado
ngapain?
ngerayu cewek donk
biar tambah yahud!
biar doi tambah kesengsem

main apa?
main dosa
rugi donk kalo ga
mumpung doi lagi ‘fly’
ambil untung donk
asoy, cuy!

tulisan-tulisan berdebu
dimakan oleh zaman
menguning
tanpa jejak tulisan
banyak kutu
mulai keropos
kemudian hancur
bersatu dengan tanah

mata-mata rabun
dimakan oleh usia
kabur
tanpa visi jelas
banyak distraksi
mulai disfungsi
kemudian hitam
bersatu dengan gelap

kenapa ada ini dan itu
bukan itu dan itu
memaksa dalam kerangka dogmatis
tanpa anu-anu
dan ani-ani di tangan

tak heran
semuanya kabur dan keropos
rabun dan lenyap

ijin
permisi-permisi
mau numpang lewat
jangan ditimpuk ya

tak terdefinisi

Gelas di atas meja kayu. Orang lewat. Isi dengan teh. Minum. Sisa setengah. Pergi. Orang lewat. Lihat ada teh. Ragu-ragu. Akhirnya pergi. Orang lewat. Kehausan. Mau minum teh sisa. Kliyengan. Dehidrasi rupanya. Pegang kepala. Pusing. Mau jatuh. Gelas tersenggol. Pecah. Pingsan. Orang lewat. Orang lewat. Orang lewat. Orang-orang lewat. Berkerumun. Melihat saja. Membereskan pecah dan pingsan.

God’s Signature

Di atas pita hitam, ada lukisan tandatangan Tuhan.
Emas bersinar.
Jam-jam berdenting dalam hening sunyi malam.
Tandatangan Tuhan ada di setiap bagian dunia.
Namun torehan paling dalam ada pada hati manusia.
Terkadang tertutup selubung kesombongan hingga sinarnya seakan meredup.
Adakah ini sebab hati manusia harta berharga bagi manusia?
Pengisi jiwa kehidupan, pemanis eksistensi manusia.
Hati manusia penuh misteri, hanya bisa dirasa tanpa harus dimengerti.
Jalinan apakah hati?