” malam tak tiba hari ini
sebab matahari tertahan di langit barat
hampir senja
tapi masih siang
teriknya menyisakan peluh di dunia”

aku bersembunyi di balik rumah pohon yang kau buatkan untukku, mas. aku berharap kau akan datang dari kubangan lumpur walau ragamu telah mati. kau pergi tanpa selembar surat perpisahan. ternyata kau pergi untuk tidak kembali.

kau tak pernah menyebut namaku, hanya nama lahirku. aku mengerti, lidahmu tertahan seonggok besi yang kau tanam di mulutmu. hanya aku berharap kau memanggilku dengan hatimu dan menyebut namaku dengan matamu. matamu selalu memabukkan diriku, sayangku. apa kau sadar?

kau mungkin tak pernah sadar dan tak pernah mendengarku karena sebongkah batu yang kau tanam di kedua liang telingamu. serta matamu yang selalu melihat tapi ternyata tak kaulihat sejengkalpun dari diriku. apa kau sadar? aku masih bertanya meski jawab telah kugenggam dalam tanganku.

kau hanya diam dan menunggu. aku selalu datang dengan menebak-nebak. apa yang sedang kau pikirkan? apa yang ingin kau katakan? apa yang hatimu inginkan? aku hanya membawa setangkai mawar merah dan segelas air untuk pulihkan keheninganmu. kau berbicara tapi sebenarnya kau diam. tanpa kau sadar, aku tahu.

suatu hari kau membawa jelaga dari kantong bajumu dan kau pupurkan ke sekujur tubuh dan wajahmu. kau rencanakan sesuatu. tanpa kau sadar, aku tahu. kau pergi di tengah kehitaman malam. kau tak sadar bahwa malam tak pernah terlalu hitam. selalu ada yang bisa dilihat, selalu ada yang bisa dirasakan, selalu ada yang bisa dipikirkan.* aku tahu kau pergi untuk tidak kembali. namun aku tak sadar kau tak pernah sedikitpun memandang diriku. kau pergi tanpa selembar surat perpisahan.

aku mengutuk malam setiap hari dan membenci saat di mana senja tiba sebab senja menghantarkan keindahan pada kegelapan. aku membenci malam sama seperti membenci dirimu hingga
“malam tak tiba hari ini
sebab matahari tertahan di langit barat
hampir senja
tapi masih siang
teriknya menyisakan peluh di dunia.”

*dari cerpen Seno Gumira Ajidarma “Aku Kesepian, Sayang.” “Datanglah, Menjelang Kematian.”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: