Monthly Archives: June 2005


THiS Is FaBuLouS! Posted by Hello

Advertisements

Shoes Stuff

Seberapa penting sih arti benda penyangga atau alas kaki yang notabene ‘terinjak’ dan kotor (minimal bagian dasarnya). Buat saya, sepatu sangatlah berharga, penting! Sepatu memberikan kontribusi yang sama seperti apparel dalam hal fashion. Buktinya saya patah hati ketika melihat sepatu putih saya lecet di bagian haknya… Hiks…

rasa

mungkin tak seorangpun mengerti bahwa aku mencintai bayang-bayangku di bawah jembatan di atas kolam dekat rumahku. kenapa? bukankah aku hanya berkhayal, memaksa diri masuk dunia imaji dan merasakan getaran-getaran yang sudah diprogramkan oleh otakku?

aku hanya tahu aku merasa. karena rasa tetaplah rasa bagiku. kebohongan cuma ada di luar rasa, di luar sana. ketika orang berusaha mematikan rasanya, orang itu berbohong. ia tak sadar rasa akan selalu ada, kebal manipulasi.

kemarin aku merasa rasaku mencapai titik kulminasi saat aku melihat bayangku tertutup bayang lain. hitam. aku tak mengerti dan berusaha tidak berusaha mengerti. aku menyatu dengan bayang-bayang yang saling bertaut di atas kolam di bawah jembatan, dekat rumahku.

[espanola indonesia]

malam menyambut kedatangan gaun hitamnya
dan aku mematut diri di depan cermin,
mencari gaun hitamku
dan tak ada.

sebuah batik Rp 25.000,00,
sepotong kain hitam Rp 10.000,00,
dan batu-batu kerikil coklat Rp 12.500,00.

aku bertemu dengannya di bawah sorotan lampu panggung biru dan kuning
dan ia memadukan sukmanya dengan kedamaian bahasa yang selalu dapat dimengerti
walau tak semua orang sudi mengerti.

jalinan-jalinan di antara senar-senar gitarnya
mengikat mata dan mungkin hatiku
entahlah, aku tak pernah sadar kapan hatiku akan terikat
namun memang sempat terlintas.

aku bertemu dengannya di bawah sorotan lampu biru dan kuning
dengan batik dan sepotong kain hitam yang tak kutahu harganya
namun aku merasa ia bernilai tak ternilai.

[hair and paper]

lembaran-lembaran kertas putih terbuka, membolak-balik dirinya bersama dengan belaian lembut namun keras dari kehidupan yang selalu tuntut dinamis walau dalam statis. seakan-akan ia tanpa saksi meski banyaknya dilematis dan pose-pose kehidupan bersembunyi di balik serat-seratnya yang bersatu di bawah dasar hitam.

kamu tahu, aku menyimpan banyak rambutku yang rontok setiap kali aku menyisir rambut hitamku di sana? pernah suatu kali seorang asing terpesona padanya dan lantas menyentuhkan jari untuk merabanya. namun ia tak tahu yang di balik kertas-kertas itu. rambut-rambutku menggores jari telunjuknya hingga darah merah menetes dan meninggalkan bekas merah kecoklatan di atasnya. akan tetapi, ketika aku menyembunyikan rambut-rambutku yang baru rontok, darah itu lenyap tak berjejak. hanya ada putih kertas seperti semula aku memungutnya dari bawah meja riasku.

kini kehidupan menuntut kertas-kertas itu untuk terus bergerak dalam kedinamisan dalam kestatisan kedinamisannya. kertas-kertas putih penuh rahasia.

ah, kapan rasa amis ini akan hilang dari mulutku?

Jia you!

UAS sudah berlalu berminggu-minggu yang lalu dan menjelang berakhirnya masa KB (tanpa T, karena tidak bisa tambah mata kuliah) semester padat, nilai-nilai akhir yang akhirnya akan digenerasikan ke dalam IPS dan IPK ditempel di papan pengumuman gedung C lt. 4 dan 5. Berbagai macam reaksi muncul, ada yang senang, ada yang sedih dan menyesali segala sesuatunya walau mungkin tidak ada yang perlu disesali, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang marah-marah yang kadang tak jelas tertuju pada siapa. Sayangnya, ternyata di antara teman-teman saya, banyak yang turun nilainya. Bahkan ada satu seksi yang mayoritas tidak lulus, hanya 16 dari 45 mahasiswa yang lulus, dalam suatu mata kuliah. Sensasional, menurut saya dan menimbulkan tanda tanya, yang mana yang salah? dosen atau mahasiswanya? Entahlah. Saya tidak berani menyimpulkan walau penasaran karena saya tidak mengalaminya sendiri (bukan seksi saya) dan kalaupun saya bertanya, saya ragu karena jawaban yang mungkin saya dapat sudah terkontaminasi oleh subjektivitas.

Di antara mahasiswa-mahasiswa yang sedih dan menyesal karena turun nilainya, banyak yang sebenarnya mendapat nilai yang cukup baik. Katakanlah minimal B. Wah, di mata orang lain, nilai B sudah cukup memuaskan. B = Baik. Akan tetapi untuk orang-orang yang need achievementnya tinggi, nilai B seperti nilai C atau yang lebih ekstrim seperti nilai D atau E. Kalau begitu, mungkin pelabelan seperti di buku rapor SD – SMA (bahwa A adalah amat baik, B baik, C cukup, dst) memang tidak tepat karena terkandung, sekali lagi, unsur subjektivitas. Ternyata banyak kepentingan individu dalam rentang lima huruf tersebut.

Tendensi obsessive compulsive? Rasanya belum. Perfeksionis? Ya. Perfeksionis mutlak dalam arti memang perfeksionis tulen? Mungkin. Perfeksionis karena kondisi yang memaksa? Bisa juga.

Namun kejadian ini sedikit menjadi permenungan untuk saya. Seberapa jauh kita harus menetapkan kriteria untuk menggolongkan yang baik dan yang buruk? Bila melihat teman-teman saya, rasanya ada beragam sekali hal-hal demikian. Mungkin kita harus mempertimbangkan kepentingan-kepentingan apa yang harus diperjuangkan di dalamnya hingga kriteria itu benar-benar menjadi benar-benar milik diri dimana ketika tercapai ada rasa puas yang besar. Rasanya mustahil untuk menyeragamkan seluruh kriteria orang-orang.

Namun banyak orang yang tidak memahami hal ini. Mereka cenderung menilai orang lain berdasarkan kriteria dirinya sendiri. Bukannya tidak boleh, bahkan bisa dimaklumi karena merupakan reaksi otomatis setiap manusia. Hanya janganlah terlalu eksesif sehingga mengganggu orang lain tersebut. Saya percaya setiap orang punya kebebasan untuk menentukan dirinya. Begitu pula dalam nilai, setiap orang memiliki kemampuan dan potensi yang beragam dan oleh karenanya parameter baik dan buruknya pun berbeda.

Oleh karena itu, saya sebisa mungkin menghindari rasa kasihan pada orang lain. Meskipun tetap terbersit dalam diri saya, saya berusaha untuk tidak terlalu menunjukkannya. Kata-kata belasungkawa “wah… sayang ya…” cukup saya hindari. Saya lebih suka diam dalam saat seperti ini. Kalaupun saya harus berkata sesuatu, saya lebih memilih untuk langsung memberikan solusi. Entahlah mungkin orang lain menganggap saya dingin dan tidak peduli tetapi saya sendiri ketika mengalami hal itu dan dikasihani, saya merasa tidak nyaman karena menurut saya, rasa kasihan memberikan label inferioritas pada seseorang. Parahnya, mereka mencari kenyamanan dengan terlalu bergantung pada orang lain, dalam arti secara berlebihan. Bisa mengeluh terus-menerus sampai meminta orang lain untuk mengerjakan urusannya. Sebagai hasilnya, orang itu tidak akan berkembang.

Dua semester berlalu dengan cepat, dan sebentar lagi semester ketiga. Saya berharap kesuksesan selalu mengiringi langkah kita semua. Ciao! (mesti ngerjain tugas Stat II nih!) 🙂

berbagi dengan malam

bukan satu hal buang jari dalam benak seorang berang di atas kepala singa berambut emas. tapi kemarin aku membuang gigi taringku yang mulai membusuk, hitam seperti lubang malam. dalam dada di dara merah, ada buta-buta lambat cepat bergerak menembus malam dengan hitam yang membuat hati getir karena kejujuran dan kebohongan yang tersingkap olehnya.

kenapa kamu membuang rambut-rambutmu di bawah kakiku? aku tak bisa melarikan diri dari malam dalam kesunyian karena sibuk mengambil rambut-rambut itu, menghitung, dan menaruhnya dalam toples agar mungkin suatu hari aku bisa membuat konde darinya dan membuat malam dalam kehitamannya terpesona kepadaku.

mungkinkah? kupikir ya. tak ada mungkin yang tak mungkin kecuali tak empunya mungkinkan. bahkan di dalam tembang malam yang menguduskan kekudusan rasa getir dan kegelapan, aku bisa melihat saxophone-saxophone dan piano-piano yang dimainkan oleh musisi-musisi blues di kafe-kafe penuh sesak hawa-hawa ketelanjangan dan kepalsuan manusia-manusia yang selalu bersembunyi dan memainkan musik mentari selalu bersinar.

entahlah mungkin sekarang gigiku bersaksi kepada malam atas malamnya diriku. malam akan menjadi tempat bertumpu yang terakhir di relung hatiku. bukankah aku sekarang bersaksi atas nama malam*?

*dari judul kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma

[farewell]

sinar matahari membuai mata-mata kosong yang memendam sepi bagai tak berkesudahan. begitu pula pada tulang-tulang rusuk yang patah mencuat merobek kulit gelap dan tipis mencetak kerangka. terang buat darah-darah berkilauan merah gelap, hampir kering.

kamukah di atas badan-badan tak bernyawa? merekatkan jiwamu pada kepala-kepala tak bertubuh? kamu selalu diam tanpa berbuah jawab. lupakah kamu pada tanya yang terberi?

aku hanya bisa menerka, tanpa aku tahu. hingga kupeluk tubuhmu dengan jiwa yang sudah beradu dengan malaikat-malaikat di sekeliling jalan setapak dekat rumahmu.

[nonsense]

gelak tawa kupedengarkan pada langit navy blue. asap rokok. bias cahaya kuning kafe semanggi. curah-curah air dari langit-langit coklat muram. kamukah di sana? aku membuang jari-jari busukku di sana kemarin hingga hilang berat sekam padi mengering.

kelambu malam

mata-mata yang lelah berkedip dan menjamu asap-asap lintingan ganja dari meksiko. kamu berdiri di atas kaki kirimu seorang. lihat! hujankah di luar sana? aku tak tahu. mengapa hujan menantang matahari tanpa ada yang mau mengalah?kini lampu-lampu dipadamkan juwita-juwita berstocking hitam. kelambu malam.