merah jambu

kembali pada rentetan buah jambu monyet di atas perisai rumahmu. aku terpaku dalam bayang merah jambu kaca jendela kamarmu dengan kamu mencorat-coret di baliknya dengan darah dari telunjukmu.

bukankah kamu menyayat dirimu dalam suka terlalu berlebih dan panjang? ingatkah kamu pada lembayung senja yang rawan? kamu selalu berkata ada saat seorang harus berduka atas suka. inikah dukamu?

mungkin aku tak mengerti, tapi aku melihatmu. kamu yang semakin memutih dan jendela yang makin merah.

lalu kamu tersenyum dan kamu memberi aku merah jambu yang terindah dan tak mungkin terlupakan dengan hati hancur remuk di dalam genggaman tangan seorang perempuan berkutang merah jambu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: