berbagi dengan malam

bukan satu hal buang jari dalam benak seorang berang di atas kepala singa berambut emas. tapi kemarin aku membuang gigi taringku yang mulai membusuk, hitam seperti lubang malam. dalam dada di dara merah, ada buta-buta lambat cepat bergerak menembus malam dengan hitam yang membuat hati getir karena kejujuran dan kebohongan yang tersingkap olehnya.

kenapa kamu membuang rambut-rambutmu di bawah kakiku? aku tak bisa melarikan diri dari malam dalam kesunyian karena sibuk mengambil rambut-rambut itu, menghitung, dan menaruhnya dalam toples agar mungkin suatu hari aku bisa membuat konde darinya dan membuat malam dalam kehitamannya terpesona kepadaku.

mungkinkah? kupikir ya. tak ada mungkin yang tak mungkin kecuali tak empunya mungkinkan. bahkan di dalam tembang malam yang menguduskan kekudusan rasa getir dan kegelapan, aku bisa melihat saxophone-saxophone dan piano-piano yang dimainkan oleh musisi-musisi blues di kafe-kafe penuh sesak hawa-hawa ketelanjangan dan kepalsuan manusia-manusia yang selalu bersembunyi dan memainkan musik mentari selalu bersinar.

entahlah mungkin sekarang gigiku bersaksi kepada malam atas malamnya diriku. malam akan menjadi tempat bertumpu yang terakhir di relung hatiku. bukankah aku sekarang bersaksi atas nama malam*?

*dari judul kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: