Monthly Archives: July 2005

(untitled)

daun-daun berguguran di sebuah taman di tengah-tengah lingkaran abu
di atas bayangan tubuh hitam dengan darah merah di atasnya

rumput bergoyang
langit menitikkan air mata

ada apa gerangan?
peri-peri hutan bertanya
dalam kesunyian untuk jaga sebuah peradaban

ada apa gerangan?
peri-peri hutan bertanya lagi
dalam kesunyian untuk jaga sebuah peradaban

ada apa gerangan?
peri-peri hutan bertanya lagi dan lagi
dalam kesunyian untuk jaga sebuah peradaban

ada apa gerangan?
peri hutan berhenti bertanya karena bosan
memendamnya sampai seribu tahun lagi
dalam kesunyian untuk jaga sebuah peradaban

sampai seribu tahun kemudian
hutan sudah tak ada lagi
dan peri-peri sudah meninggalkan kerajaannya
namun yang terpendam terbawa bersama kepergian
membuat peri hutan bertanya lagi
tidak dalam kesunyian untuk jaga sebuah peradaban
tetapi dalam kejujuran untuk jaga sebuah peradaban baru

Soe Hok Gie: semangat perjuangan dekade muda

saya nonton film Gie. entah kenapa hari itu saya sangat memaksa diri untuk menonton Gie. saya ulangi, saya memaksa diri bukan memaksakan diri. saya dengan kesadaran penuh, tekad yang bulat, sungguh-sungguh ingin menonton film ini. mengesampingkan faktor saya memang ngefans dengan Nicholas Saputra, saya memang penasaran dengan film ini. film yang jarang dibuat oleh orang Indonesia. biasanya orang Indonesia sukanya bikin film cinta-cintaan melulu. padahal tipikal-tipikal saja. membosankan. yang paling saya tidak suka: 30 hari mencari cinta. 15 menit menonton saya sudah mengantuk. lagipula saya selalu tertarik dengan sosok aktivis muda, yang dengan idealismenya berani mengkritik dan mengusahakn perubahan terhadap hal-hal yang dianggapnya menyimpang dari kebenaran.

saya nonton film Gie dengan sahabat saya, Dessy di Megaria. Dessy sebenarnya harus rapat untuk acara di UKM-nya tapi dikadung sayang kalau kelewatan film Gie. Tadinya kami mau ke TIM saja tapi sayang, film Gie belum diputar. Megaria sudah. agak dongkol sih karena Megaria tidak terlalu cozy tempatnya, tidak bisa ‘cuci mata’ juga. lari-lari kejar bus, nunggu satu setengah jam. akhirnya saya nonton Gie.

adegan pertama dibuka dengan masa kecil Gie. saya langsung punya kesan Gie kritis, berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan. terlihat pada saat dia berani memprotes gurunya yang salah. dia suka membaca. hebatnya, bacaan yang tidak lazim untuk anak seumurnya. sudah tahu sastra, dari sastra Indonesia sampai sastra asing. adegan yang paling membuat saya terenyuh, saat Gie melihat seorang laki-laki (bukan pengemis) makan kulit mangga yang diambil dari tong sampah. tergerak oleh kemanusiaannya, Gie memberikan uangnya. kondisi yang amat menyedihkan. (dari buku Catatan Seorang Demonstran) padahal tak jauh dari situ Istana Negara dimana Paduka sedang bersenang-senang dengan istri-istrinya. kesetiaan pada prinsip sangat ia tunjukkan “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. ia tetap memegang idealismenya walaupun harga yang ia bayar sangatlah mahal. orang-orang memang mengagumi ide-idenya tetapi mereka menolak ketika Gie hendak masuk dalam lingkaran mereka.

sekarang saya sedang membaca buku Catatan Seorang Demonstran, pemberian tante saya. sayang, kemarin bukunya terlipat. jadi lecek sedikit. sedikit menghibur diri, tak apalah, yang penting masih bisa dibaca. awal september nanti, ada diskusi dan pemutaran film Gie. di situ akan ada Herman O Lantang, kawan seperjuangan Gie. saya mau menulis panjang, tetapi saya lupa detail-detailnya. baiklah saya teruskan nanti setelah acara bedah buku dan film, dan tentunya sebelum itu, saya juga sudah harus selesai membaca buku harian Gie.

[… do…]

aku pelacur. aku melacurkan diri di bawah kedipan muram lampu kota kekuning-kuningan. aku melacurkan diri tanpa romantisme meski yang hanya semu. aku melacurkan diri tanpa rasa dan gairah yang menggelegak aliran darah ke kepala tapi aku pandai berpura-pura dan memainkan. karena aku seorang pelacur, maka aku melakukan apa yang biasa dilakukan seorang pelacur dan mempelajari keahlian-keahlian seorang pelacur, dengan buku, film, obrolan, dan praktek dengan sesama pelacur meski kami sama-sama perempuan karena terkadang keahlian perempuan memainkan perempuan memuaskan pelanggan-pelanggan kami, baik perempuan maupun laki-laki. inilah aku, seorang pelacur, mengeruk nafsu demi pemuasan ego diri dengan permainan kekuasaan, tanpa mau terjebak permainan kekuasaan sistem. karena aku seorang pelacur.

bungkam.


aku bungkam. bungkam aku oleh aku. salah? aku dengan bungkamku. tapi tetap tak terbungkam oleh mata-mata yang menatap silau oleh ilusi bungkamku. Posted by Picasa

BERISIK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

kecoak busuk

kecoak-kecoak busuk berperisai emas di bawah telapak kaki seekor kucing berbadan anjing. menggeliat mencari pembenaran dan penguasaan diri atas orang lain. tapi apa dinyana, dirinya tertindas oleh seekor berjiwa belang hitam hanya hitam.

aku hanya tertawa menertawakan kecoak-kecoak busuk berperisai emas, ternyata sama seperti kecoak-kecoak busuk lainnya. ah, lebih busuk.

[0]

when and where are we aware of ourselves beneath a razor and the completion of red bloodshed in your eyes?

consciousness doesn’t give an ultimate answer yet labours a dozen of questions we feel urging to be searched for a true yes.

how are we managed to seek them? perhaps there is never an ultimate true knodding yes, perhaps we can only get ourselves close to them by COGNITIVE UNDERSTANDING followed by WISDOM OF OUR HEART.

why and why? the world is too damned big and too left to be mystery

shut up!

don’t you need a razor to do it all? so that you can cut your deep shit brain and paralyze yout bloody mad mouth. sometimes I feel guilty to have that certain thought yet sometimes it comes to be so damned right to my sense of being. for God’s and Evil’s sake, just SHUT THE FUCK UP!

finding

aku berjalan di atas kotak-kotak biru jalanan kotaku. dengan kata yang tertahan ucap, dan sebongkah besi tua di dalam kepalaku. aku ringkih tapi menolak tunduk. dan aku berbicara seribu kata dalam beribu bahasa kepada ibu hatiku di dalam hati.

akankah jalan bertapak merah dari kakiku, beradu seperti ungu violet yang membakar jiwa setiap yang melihat dan terterpa olehnya? hanya di atas batu-batu kerikil kutemu jawab yang hanya samar-samar kupahami, untuk kebenaran yang hanya relatif.

Life is about being “bad” yet is extremely beautiful and fabulous in its own way to your stairway to your true self.

aku diam dan masih tak mengerti.

sundown

haruskah menangis di tengah-tengah ramai kegelapan?

bukan anda sekarangaku bertakhta di dalam senja keemasanku
dengan gincu bewarna merah darah
aku membawa hati dan harga diri yang terluka
oleh panah-panah tak dikenal
asing ruang dan waktu
dalam otak-otak berlari dan melompat-lompat
ke dalam hidung yang berlendir

kemarinkah aku membuang telingaku?
rasanya aku masih menyimpannya di bawah ketiakku
di antara hitam bekas tercerabut dari peradaban kemanusiaanku

dinda kemarin bunda sekarang
membawa mawar hitam ke kuburan mata hitamku
dengan setetes air mata dan roti buaya