Monthly Archives: August 2005

[what?]

ketika jemariku bersentuhan dengan nafasmu
saat itu aku hilang
aku cari hidup di lautan mawar putih

kata-kata duka tersemat di hati
aku mencintai kamu, kamu, dan kamu
namun aku tak bisa lakukan apapun ‘tuk kamu, kamu, dan kamu

aku hanya bisa terdiam berangan

justice

inilah saatnya aku sayat mata putih tirani
inilah saatnya aku menolak terinjak
inilah saatnya aku menolak patah hati
inilah saatnya aku menjadi kami
inilah saatnya perubahan

[off]

hari terik. tatapan lesu. wajah-wajah kuyu. aku menangis. semangat meleleh. kaki dan tangan patah-patah. sesak. sundutan rokok di kepala. lilin menyala.

lama? buru-buru tidur, tapi tak bisa. aku mual. lambat laun aku mencari. akhirnya aku pergi.

forbidden lover

kemarilah kaki-kaki lelah,
sandarkan bahumu di dadaku
dan aku akan nyanyikan lagu cinta untukmu.

aku merasa dan berpikir,
dan pertentangan menumpuk.
terlalu banyak kata dan senyum,
tangis terlalu sedikit.

aku hanya ragu dan aku tak mau ragu.

ketika ada adalah ada
dan tidak ada memang tidak ada.

kemarilah, sayang,
ke tempat perjamuan terakhir kita
dengan satin saju
dan sebuah cermin pecah

you

luntang lantung, buang banci. jangan!!! inget HAM! Minimal dapet label manusialah. luntang lantung, cinta banci. kok plin plan sih? terus gimana? bingung auk ah. luntang lantung, banci aku memang banci. ih, dikatain orang-orang lho. ah!!! biarin, biarin. emang gue pikirin! aku gak luntang lantung lagi. yang bener? gak tau sih. hidup ajah!

be agony

kembalilah merpatiku
sudah terlalu lama kau mengembara dalam mimpi-mimpi
sudah terlalu banyak asa yang tertipu
sudah terlalu banyak hati hancur

lihat rumahku,
keropos di dasar
menghitung waktu untuk akhir
kapankah akhir segala sesuatu ditentukan?

orang-orang menjerit dalam kebingungan
kehilangan identitas,
berbaur irama Zeus dan Hades
menggoyang rumahku,
melancarkan laju ke akhir

cepatlah kembali, merpatiku
selamatkan kami dengan nafas Ilahimu
kami sudah hampir tamat

beauty

sosok bisu. bergerak bayang langit. tanpa kemegahan, hanya sosok yang ada.

namun aku perempuan mencintai sosok itu. bagiku indah. mengaburkan kemirisan yang kudapat dari comber rumahku.

aku tahu dan mungkin ia sadar tapi tak tahu. tetapi aku hanya diam karena aku tiada mau merusak.

more or less

aku mabuk kamu, kekasihku. bau tubumu selalu mengikat aku, mengingatkan aku pada suatu romansa asing yang aneh namun selalu menyejukkan hatiku.

entah hanya khayalku atau kegilaanku saja. pagi ini, aku bertanya apa kamu memakai parfum dan kamu jawab tidak. atau itu bau sabun? kupikir aneh. bau itu melekat padamu sampai matahari tenggelam, tinggal selama aku menjumpai dirimu.

kamu tahu, aku mabuk olehmu, sayang. perjumpaan kita telah usai. tapi aku selalu kangen kamu (atau hanya bau tubuhmu).

aku tak mau buang angan.
berjuntai harapan terlanjur kurajut kala bernapas.

kapan kamu mengerti, sayang?
aku hanya memupur bedak di wajahku
yang kena luntur maskara.

in

aku bersuara di dinding emas. hanya bersuara, tanpa vokal tanpa konsonan. alfabet sudah mati. gelang kakiku gemerincing menantang arus angin, kemudian pecah karena inginku terlalu berlari.

aku tak berdarah.
aku tak jerit kesakitan.
aku tak memberi tangis.

aku hanya bersuara. tanpa ada yang mendengar.