kenangan

lagu kubawa ke negeri seberang,
tanpa rindu mendayu-dayu,
hanya lagu untukmu, kekasihku

hinggalah aku menunggumu di rumah kayu yang kita bangun bersama,
dengan kasih yang kupikir dan kuharap kau pun pikir,
lebih kuat dari karang baja manapun

tak terasa tiga tahun berlalu melingkari hatiku,
sejak aku berenang di dalam lautan pasir
dan kau sibuk menghitung butiran pasir di bawah kakimu

mungkinkah aku masih percaya dengan kata-kata?
aku tak tahu dan mungkin tak pernah tahu
karena aku memang tidak mau tahu
kau mungkin tak tahu dan mungkin tak pernah tahu
karena kau mungkin memang tak mau tahu

dalam sebuket mawar putih,
aku menitipkan suara-suara yang kuharap kau bisa dengar,
laguku untukmu, kekasihku

aku bermimpi tentang hidupmu dan hidupku selama tiga tahun
pasti begitu banyak perubahan,
aku yakin
“perubahan itu abadi”, katamu
dan aku selalu percaya dengan kata-katamu
meski aku tak mau mengakuinya

masihkah kau kenali aku?
dan masihkah aku kenali kamu?

aku banyak mendengar dan melihat orang-orang
seringkali aku terpukau,
seringkali aku mendesah,
seringkali aku kecewa,
seringkali aku berang

namun aku tidak menangis
entah mengapa,
aku sungguh tidak bisa
bahkan untuk kepergianmu

kekasihku,
aku tak pernah mendengar suaramu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: