Monthly Archives: November 2005

the death of democracy

minggu ini adalah minggu yang sebenarnya cukup penting dalam dunia kemahasiswaan fakultas psikologi atma jaya. kampanye calon ketua himapsi, diikuti debat calon ketua, dan akhirnya ditutup dengan pemilihan. sekarang hari minggu dan pemilihan hari senin. selain ketua himapsi, besok juga dipungut suara untuk menentukan wakil angkatan. melihat antusiasme mahasiswa yang rata-rata rendah pada saat debat calon ketua himapsi, saya jadi ragu terhadap organisasi kemahasiswaan di fakultas ini. orang yang datang, itu-itu saja. jangan-jangan kebanyakan orang memilih karena sentimen pribadi sehingga sifat pilihan yang subyektif itu menjadi sangat-sangat super subyektif. untuk tujuan konsistensi, kinerja dan evaluasi pun akan bersifat subyektif pula. ada sedikit keobyektifan, tetapi unsur emosi lebih berperan dominan. saya jadi sedikit berpikir, jangan-jangan mahasiswa fakultas psikologi sudah anti demokrasi. atau karena tidak peduli (dengan alasan sudah pusing dengan tugas kuliah atau lebih jauh lagi sebenarnya takut dengan konsekuensi memilih), demokrasi mati.
Advertisements

Maslow Inventory Test Results

Physiological Needs |||||| 27%
Safety Needs |||||||||||| 44%
Love Needs |||||||||||| 50%
Esteem Needs |||||||||||||| 57%
Self-Actualization |||||||||||| 48%

Abraham Maslow authored the Hierarchy of Needs theory, stating that human beings are motivated by unsatisfied needs, and that certain lower needs have to be satisfied before higher needs can be attended to. It is debatable that needs fulfillment occurs in as linear a fashion as Maslow presents (or that Maslows needs structure is entirely accurate), but you can decide that for yourself. Also, higher needs tend to be more complex and vague in what qualifies as need satisfaction. The following results are listed in the order Maslow defined.

Physiological Needs : you appear to have everything you need to survive physically. Maslow speculates that without satisfying basic needs (food, shelter, health) one cannot achieve higher levels of development. This generally makes sense, but the history of starving artists and successful artists who tanked after they became wealthy is important to note.

Safety Needs: you appear to have adequate enviromental safety. Maslow speculates that without enviromental stability (security, safety, consistency), you can’t progress to higher levels of development. Neuroscience research would appear to support this, as higher stress contributes to higher cortisol levels, which impair memory and thinking functions. However, low stress can also lead to obesity and cardiac degeneration. The lazier and weaker you become, the more stressful the most minimal tasks and stimuli become.

Love Needs: you appear to be somewhat content with the quality of your social connections. Maslow speculates that discontentment in your connections with others stalls development. Whether the resolution of love needs comes with good relationships and/or learning to be more internally fulfilled is a question Maslow does not answer. But history would suggest many advanced minds had few relationships so this stage would seem to be more about resolving internal perceptions than as a call for measuring/achieving happiness by quality of external relationships.

Esteem Needs: you appear to have a medium level of skill competence. Maslow speculates that until you develop a good skill set (talent, trade, expertise that you excel at) you will be unable to develop further as an individual (much less reliably support yourself financially). This could mean being a good musician, painter, doctor, carpenter, etc.. On some level this stage also requires getting over the need to be appreciated for that skill, internally and/or externally. Even if you develop a skill, you still might be hung up on the need to have other people validate you or you might internally doubt yourself. Then again, you might not be appreciated, or appreciate yourself because your skills are still too undeveloped.

Self-Actualization: you appear to have an average level of individual development. Maslow speculates that individual development is the pinnacle of existence, this means pursuing a career/life that really fits who you are and want to be internally (not based on external and societal expectations). The self actualized person is free from superficial concerns and is internally honest.

to forgive (is/or) to forget

to forgive = to forget? saya tercenung sejenak ketika dihadapkan pada pertanyaan ini, yang sebetulnya pernyataan yang minta dikonfirmasi ulang. apakah memaafkan sama dengan melupakan? kok rasanya sulit sekali ya, dan bahkan tidak mungkin menurut saya, kecuali kesalahan yang harus dimaafkan itu dikubur dalam-dalam di unconsciousness sehingga tidak akan terbaca dalam psikodiagnostik apapun dan hanya bisa ‘dipanggil’ oleh ahli hipnotis yang kemampuannya paling tidak mendekati Tuhan yang pandai menyimpan dan ‘mengorek’ rahasia. atau mungkin saya terlalu mendramatisir karena saya tidak punya hati seluas itu untuk memaafkan, dalam arti juga melupakan?

taruhlah saya ditampar oleh seorang teman dan saya memutuskan untuk memaafkannya karena dia teman baik saya dan kami pun tetap menjadi teman baik. namun ketika masalah mulai timbul, bukan tidak mungkin saya mengungkit kembali peristiwa yang saya pikir telah saya lupakan. atau yang paling berat, kasus menyalahkan diri sendiri. ketika saya membuat kesalahan yang berakibat fatal pada diri saya, saya bisa memaafkan bisa tidak. taruhlah saya berhasil memaafkan, namun saat tertentu, ketika saya sedang bengong atau ada kejadian yang mirip, saya akan mengingat kesalahan saya kembali.

kognisi manusia tidak sebodoh yang kita kira. pada saat kita lupa, bukan berarti ingatan itu hilang, hanya tertumpuk-tumpuk saja atau sedang ruwet sehingga tidak bisa ‘dipanggil’. kejadian yang kita harap dilupakan ternyata tidak hilang dari memori kita. oleh karena itu, sewaktu-waktu bisa kembali ke area kesadaran kita. kalau kita tetap mempertahankan memaafkan sama dengan melupakan, terima saja konsekuensi, tidak ada maaf di dunia ini. lagipula kalau seluruh kesalahan dilupakan, manusia cenderung terperangkap dalam lubang yang sama, tidak ada rambu-rambu. akibatnya lupakanlah pernah ada experencial learning. manusia statis-statis saja.

lalu apa itu memaafkan? menurut saya, memaafkan berarti berusaha mengembalikan kondisi emosi ke kondisi ‘normal’ dan mau melanjutkan hidup dengan objek yang dimaafkan itu. misalnya, kalau memaafkan teman, masih mau berteman. kalau memaafkan diri sendiri, masih mau hidup (benar-benar hidup). mau hidup merupakan bentuk memaafkan paling dasar, dan bisa dikatakan memaafkan membuat kita hidup. tentunya relasi yang dibangun adalah relasi yang positif, tidak destruktif, tetapi tetap waspada agar tidak terulang kembali kesalahan yang mirip (tidak digunakan kata sama, karena seiring waktu, tidak ada yang sama di dunia ini, minimal waktunya saja sudah berbeda). hubungan yang positif kadang tidak perlu sepositif sebelumnya. kalau dirasa lebih atau sama positif baik, ya dibuat demikian. kalau dirasa lebih baik, sedikit kurang positif tapi tetap positif, tidak salah juga.

buat saya sendiri, memaafkan dalam definisi ini lebih mulia daripada melupakan. melupakan punya misi untuk tetap menjaga relasi sebagaimana sebelumnya. namun memaafkan punya misi membuat relasi positif tetapi memberikan kesempatan untuk experencial learning sehingga manusia bisa hidup dengan lebih baik (menurut definisinya sendiri, dari hatinya sendiri).

friend

mengacu pada perkataan orang-orang di sekitar saya, teman itu penting. bahkan ada sebagian orang yang hidupnya tersentralisasi pada relasinya dengan sekelompok orang yang dianggap dekat. inilah yang mereka junjung, persahabatan. dimadu suka ataupun dirundung duka, bersama-sama akan saling mendukung dan selalu bersama. namun sampai kapan? apakah batas persahabatan itu? ataukah memang umurnya abadi? walau terpisah, hati tetap akan bertaut? saya takut jangan-jangan itu utopia. kalau tidak ada keindahan yang abadi (setidaknya selama manusia hidup), di mana seni kehidupan? jauh dalam hati, saya masih berharap di balik ego manusia, masih ada kebutuhan untuk menjalin relasi dengan orang lain dengan keintiman yang membuat hidup terasa lebih ‘mudah’, masih ‘mengurung’ persahabatan dalam hatinya.

kalung dan perbedaan

hari ini saya dapat kalung dari seorang teman yang biasanya berpakaian selayaknya gembel ke kampus. kaos belel dan celana pendek, dipadu dengan sandal atau sneakers merah yang sudah layak dimuseumkan. teman saya ini punya bakat seni yang bagus sekali, terutama dalam musik. dia jago main gitar, main flute, dan akhir-akhir ini sedang mengasah kemampuannya dalam obo, alat musik yang baru pertama kali saya dengar. kemarin hari, dia bersama bandnya, kalau tidak salah namanya jazzyphonic, diundang untuk perform di bali jazz, menginap di hotel bintang lima (Hard Rock). hari ini saya menyombongkan bandul merah yang ayah saya beli di kanada. rantainya sudah rusak, terpaksa saya ‘jalin’ dengan pita hitam kecil, supaya masih bisa dikalungkan di leher saya. tak dinyana, dia malah mengeluarkan sebuah kalung etnik dengan bandul marmer yang diukir dan dibentuk seperti bunga, dengan lubang berbentuk lingkaran di tengahnya. di atas bandul itu, dihiasi lagi dengan batu-batuan berwarna cokelat dan turquoise. kalung yang sangat indah, saya tak menyangka dia punya selera sebagus itu. saya pikir estetikanya cuma di musik. saya iseng memintanya dan tak disangka-sangka lagi, dia memberikannya pada saya. HORE!!!

memang terdengar bodoh untuk seorang perempuan di era emansipasi ini, ketika ia terlalu senang untuk hal-hal seperti ini. namun saya pikir perempuan suka keindahan dan saya yakin laki-lakipun demikian walaupun objeknya mungkin berbeda. saya suka dengan fashion, laki-laki (kebanyakan yang saya kenal) suka dengan mobil. sama-sama toh. kadang laki-laki tidak mengerti perempuan, begitupun perempuan dengan laki-laki. saya pikir hubungan antara laki-laki dan perempuan itu tidak harus didasarkan oleh saling mengerti, yang penting saling menghormati, toleransi. perbedaan itu ada di segala aspek kehidupan manusia, individual differences! menerima perbedaan itu sulit. saya sangat kagum pada suami istri yang usia pernikahannya lama, bahkan sampai ditinggal mati. tidak perlu masih mesra, masih berada dalam lembaga ikatan yang sama saja sudah hebat. makanya saya takut menikah.

sudahlah!

aku berikan pita satin merah untukmu dan kuharap kau akan mengingatnya, sebagai bunga mawar hitam yang kau simpan dalam dirimu selalu.

kalau kemarin begini, belum tentu besok-besok juga begitu. kau harus tahu bagaimana air berubah menjadi es dan es menjadi sangkar perhiasanmu. asam manis seperti manisan mangga muda.

sudah

hujan sudah berhenti sebulan yang lalu. laki-laki yang menjepit matahari di urat nadinya, aku masih mengingat surga di bibir merahmu dan singgahnya matamu dalam hatiku. hari ini, aku bertemu denganmu lagi di antara hiruk pikuk hari, dalam suatu pertemuan yang tak sengaja. saat kau tersenyum, aku hanya tersenyum dalam hatiku agar kau tak tahu sebab nanti aku masih ingin bertemu denganmu dalam mimpiku.

saat ini, aku harus bercerai dari kata-kata dan sajak.

nyamuk yang lucu

kalau ada lagu kupu-kupu yang lucu, menurutku, nyamuk-nyamuk yang lucu.
bagaimana bisa lucu kalau jarang berkomunikasi? yang kelihatan belum
tentu nyata. dengan nyamuk, bahkan sempat bersenggama, makin lucu.
bahkan matinya seekor nyamuk, teramat sangat lucu.

manusia setengah dewa

laki-laki yang bernapas dengan rindu. kertas-kertas putih penuh
tulisan arab berserakan di bawah tangannya. dan api suci membara dalam
bola matanya. manusia setengah dewa, aku titipkan sebagian asaku.

* for a magnificent, extraordinary friend of mine

telur merah

apa gerangan aku merasa bersalah melihat sebutir telur merah terabaikan di tengah canda gelak, serta asap-asap rokok mengepul dari bibir-bibir basah? sepertinya aku harus mencari secarik kertas untuk melukis, untuk bertanya.