Monthly Archives: December 2005

ngelindur

lima dua satu

berpacu terus di antara deru nafas putus-putus, berpadu bagai olesan simfoni di atas roti tawar tanpa kulit. ketawa-ketawa memberi makan burung-burung gereja yang hendak pergi empat puluh dua menit lagi. duduk menanti kabar yang tertahan dari ratu lebah, janji yang tertunda. melamun hampir tidur karena bosan merundung asa. kala surya meneriakkan namaku, aku mungkin ada di pinggir pantai, menjejak dalam pasir, menghirup bau laut, mengumpulkan kulit-kulit kerang lalu kujalin jadi kalung, yang akan kupakai ketika lampu-lampu kota padam di suatu malam, sebab kemarau memaksa turbin hingga lelah.

aku ingin melompat sampai bisa menyentuh bintang. aku ingin sinarnya ada padaku. aku ingin menyelinap di antara ruang waktu dan jiwa, menanam mawar putih yang seharusnya kutanam. dingin beku di atas kolam es, aku ingin melebur bersama saat burung-burung bernyanyi, semi tiba.

kopiku keburu dingin, aku harus benar-benar tidur sekarang

Advertisements

Sarah Jessica Parker


Sarah Jessica Parker in Calvin Klein. SJP is my true favourite fashion icon. Simple yet elegant. Perfect hair, and I like that bracelet. A little touch of bright blue, just right.

omong kosong

sampai kapan batas waktu menunggu? terkadang dalam suatu hal, seorang harus menunggu. bukan karena menyerah, melainkan memang ia harus menunggu. dalam proses tersebut, ada banyak hal yang kita pikirkan. berapa lama lagi? bagaimana akhirnya? apakah penantian akan berakhir dengan senyum? atau mati kebosanan karena terlalu menunggu? saya orang yang super tidak sabar. terlalu lama menunggu bikin saya lama-lama memaksa diri lupa kalau saya harus menunggu. bukannya saya alihkan kebosanan, melainkan benar-benar menghentikan prosesnya.

dan saya melakukannya akhir-akhir ini. ketika proses menunjukkan gejala-gejala ‘akan kembali’, saya tidak menghiraukannya. prosesnya sudah benar-benar berhenti.

platonic lover.

aku menyayangimu, sahabatku, kakakku, ayahku, kekasih platonisku. sempat tumbuh dalam hati dan pikirku, bahwa aku mencintaimu dengan impian kemesraan bak kekasih yang baru saja berjalan dalam asmara, seperti dongeng-dongeng yang dibacakan ibuku sewaktu aku masih menyusu. saat hujan mengalungi hati, kau biarkan aku melebur dalam hangat jiwamu dan manis bibirmu.

mengapa aku seakan hilang ketika waktu memisahkan kita?

habis. titik-titik lagi.

no. 13

bunga mawar untukmu, yang selalu berkisah tentang hidup dalam pencarian yang tak kunjung habiskan sumbu jiwamu
bunga mawar untukmu, yang senantiasa gelisah karena cinta-cinta yang menggeliat di antara kawan-kawanmu
bunga mawar untukmu, karena kau tebarkan semi di kebun mawarku
bunga mawar untukmu, kekasihku

dalam impian
dalam kemesraan
dalam cerita-cerita
dalam cinta

repertoire.

cari aku dalam belaian ibu
jangan bungkam aku dengan senyummu

aku mencari dan menari
nyanyian malam
senandung peri-peri bintang

angkasa menarik kedua tanganku
angin memeluk tubuhku
burung-burung mencium mahkotaku

aku memang harus pergi suatu hari nanti
tapi sekarang biar aku nikmati saat ini

gelisah.

kian hari berlalu, perutku makin besar. aku suka mengusapnya meski tiada detak kehidupan. suatu hari di suatu masa, aku akan rasakan kehilangan karena kemenangan gemilang. ia harus pergi dan memang tak diharap datang apalagi kembali. siksa untukku, bahagia bagiku.

langitku langitku… dayung terus dayung terus, kekasihku.. hingga lelah sesah jiwamu dan tipiskan ragamu. buat aku paling cantik satu dunia!

Jakarta, 25 Desember 2005
8:16 PM


Johnny Depp. Love the bad boy, that strong jawline, perfect nose, eyes that kill. Posted by Picasa

kepekaan.

tadi saya pergi ke Puri Mall, nonton King Kong sama teman-teman. sambil menunggu jam bioskop, kami duduk di food court dan sedikit terlibat dalam pembicaraan tentang makanan. kami membicarakan makanan. enak mana, ichiban crepes atau d’crepes? teman saya bilang katanya ichiban kurang enak. saya yang pernah coba ichiban dan pastinya d’crepes, bilang sama saja. saya benar-benar tidak tahu bedanya. tapi saya pikir-pikir lagi, jawaban saya tidak bisa dikatakan valid karena saya kurang peka terhadap rasa makanan dan cenderung tidak terlalu peduli. saya tidak tahu beda rasa kopi gloria jeans dan coffee port, tidak tahu beda nescafe dan indocafe, tidak tahu beda tekstur es krim new zealand dan pisa kafe, mie aciap atau asui, makanan basi atau tidak. kecuali yang benar-benar beda, seperti enak (bisa diterima lidah) dan yang tidak aneh (rasanya aneh). namun kalau tidak benar-benar aneh, saya masih cuek makan. makanya saya bisa diet dengan kopi yang sedikit gula (tahan pahit), minum teh hijau seduhan ibu saya yang rasanya agak tidak karuan, salad tawar, dan sebagainya.

tapi herannya saya bisa tahu sepatu mana yang lebih worth it dibeli. ditimbang dari estetikanya juga kenyamanannya. saya bisa super rewel kalau ada sedikit noda di sepatu. saya juga tahu sepatu mana yang lebih kaku (keras). kelancipan pointy shoes mana yang paling bagus (tidak terlalu lancip, juga tidak terlalu bulat). warna mana yang paling bagus untuk model sepatu tertentu. soal baju, saya bisa sedikit kompromi. soal sepatu, sulit, sangat pilih-pilih. makanya saya jarang-jarang beli sepatu. tidak hanya sepatu, saya bisa tahu ‘derajat’ keseksian Brad Pitt, Johnny Depp, Owen Wilson, dan Jude Law. saya bisa membedakan sumber keseksian mereka. setelah dipikir-pikir, kepekaan itu tergantung selera, tergantung apa kesukaan saya.

kira-kira tiga jam ‘mengeram’ di bioskop, saya tahu saya suka sekali film King Kong. teman saya berkomentar alur yang terlalu lambat. dan saya juga menyadari, bedanya saya tahu apa tujuannya (mengapa begitu). saya tahu gaya penyutradaraan Peter Jackson (ambil kesimpulan dari nonton trilogi LOTR yang termasuk film favorit saya, dan King Kong) seperti apa. menurut saya, keistimewaan Peter Jackson ada pada penonjolan karakter dan penggalian makna. hampir seluruh karakter dalam film-filmnya diberi kesempatan menunjukkan penonton kekhasan masing-masing sehingga karakternya kuat. Peter Jackson tidak ingin King Kong sekedar film ecek-ecek yang menawarkan special effect. oleh karena itu, ia menggunakan pelambatan alur, yang hebatnya (bagi saya) tidak membosankan, menggali ‘habis’ setiap adegan. setiap adegan harus ada maknanya, tidak hanya penyambung adegan berikutnya. kapan-kapan saya posting analisis saya tentang King Kong, dan jika sempat, sekalian dibandingkan dengan LOTR.

jadian?

menghitung sepi
mengusap rindu
menjawab cinta
merajuk mesra

Jakarta, 25 Desember 2005
12:55 PM