Monthly Archives: February 2006

dear z…

abang ilang abang ilang
balik donk balik
kangen jenggot situ
pengen pelintir-pelintir
lain kali jangan pelit
biar gak dikangenin

romantis.

kata orang, saya bermasalah. saya tidak romantis dan masalah ini semakin mencuat di minggu kasih sayang ini (baca: valentine). saya sendiri bingung dengan hal ini. kalau saya disuruh mengkonstruksi alat ukur romantisme, saya pasti akan bingung. pertama, tidak ada definisi (teoritis) yang jelas tentang perilaku romantis. kedua, jika step pertama tidak dapat dilakukan dengan baik, bagaimana saya bisa mendefinisikan secara operasional. selanjutnya, bagaimana saya bisa menurunkan konstruk romantisme ke dalam domain behaviour, indicants, dan akhirnya item-item yang benar-benar merepresentasikan konstruk tersebut.

seperti apa perilaku yang dikategorikan romantis? apakah perilaku romantis bak yang kerap ditayangkan dalam telenovela-telenovela: mengirimkan puisi, bernyanyi di bawah balkon, berkata-kata “sayangku, cintaku, aku cinta padamu (dan sebagainya)”? atau makan malam ‘romantis’ di restoran mewah (candlelight dinner)? kalau demikian, orang yang tidak punya cukup uang akan kehilangan kesempatan berperilaku romantis.

apa pentingnya berperilaku romantis? kebanyakan orang menjawab untuk menyenangkan pasangan, sebagai ekspresi cinta. saya kemudian bertanya lagi, apa beda romantis dengan gombal? apa dalam setiap perilaku romantis, akan selalu terkandung kegombalan, berapapun kadarnya? kalau begitu, saya tidak akan senang karena menurut saya, kegombalan adalah penipuan. suatu hubungan yang baik, menurut saya, harus menjunjung asas kejujuran. maksud saya, lebih baik seorang menjadi dirinya sendiri. kalau tidak bisa tulis puisi, tidak usah sok-sok tulis puisi, cukup katakan dengan kata-kata lugas. kalau tidak biasa ber’aku-kamu’ ria, ya tidak perlu, daripada janggal. jika ingin menjalin hubungan yang baik, menurut saya, harus ada keterbukaan, kejujuran, dan keinginan untuk mempertahankan hubungan. itulah yang harus dilakukan untuk menyenangkan orang lain yang kita cintai, ekspresi cinta semurni-murninya.

a matter of look

minggu kemarin, saya baru saja potong rambut di salon langganan tante saya. hairstylist di sana menyarankan saya untuk mengganti model rambut saya yang ia anggap biasa-biasa saja, rambut panjang dengan layer. saya jarang ke salon. kalau tidak berantakan sekali, saya tidak akan pergi ke salon. saya juga kurang peduli dengan model rambut. asal panjang apapun boleh. setengah jam kemudian, rambut saya berubah. saya tidak bagus mendeskripsikan perbandingan model rambut karena seperti yang sudah saya tulis, saya tidak terlalu mengerti. yang saya tahu kesan saya terhadap diri saya sendiri berubah.

saya observasi, ternyata demikian pula dengan kesan orang lain terhadap saya. mereka lebih ramah dan mereka cenderung lebih santai berinteraksi dengan saya. memang saya terkesan lebih ‘terbuka’ dan outgoing. hal ini membuat saya teringat pada tulisan di harian Kompas yang entah terbitan kapan (saya sendiri jarang baca koran), bahwa kita bisa menyenangkan orang lain dengan penampilan kita. tanpa bermaksud menjadi narsis, penampilan baru saya menyenangkan orang lain. dengan kata lain, saya lebih ok. :Þ

saw.

di mana satu beradu dua
beranak jadi tiga
tidur-tiduran di bale-bale rumah empat puluh tahun umurnya

dinda bercanda kanda
dinda-dinda terselip di ketiak bocah-bocah
jarang-jarang kelihatan

akhirnya dinda tahu

yes

lamun lamun lamun lamun lamun lamun lamun
membuang cincin cincin yang retak patah patah akhirnya
diam diam diam diam diam
pikir pikir pikir
step satu step dua step tiga step empat step step step step
apa? apa? apa? apa? apa? apa? apa? apa?
gila gila gila main gila gila gila gila gila main main
semalam semalam satu hari satu hari hati retak satu hari
tahu? tahu? tidak tidak tidakkah demikian hilangnya katanya pikirnya
ulang ulang rekonstruksi rekonstruksi ingat ingat limbung limbung
dunia dalam berita – akhir hari dua
dunia dalam berita – sedang proses
dunia dalam berita – bagaimana?
dunia dalam berita – hari baru benar baru

Jakarta, 12 Februari 2006

lampu-lampu padam sepanjang jalan di antara kota-kota yang kelelahan
yang mulai sumpek karena kepenuhan
burung-burung manyar telah mati
terbakar ide-ide
jaman malam jaman kita
semoga tak jadi puing-puing

ke dalam

kemarin aku menjejak tanah lahirku
saat itu hujan lebat
dan aku menembus awan-awan
lingkarkan pinggangku dengan selendang ibuku
tutup mataku dengan ciuman ayahku yang kusimpan dalam pundi-pundi emas
dinding-dinding tak bertepi
sayup-sayup sosok-sosok
entah hidup entah hanya numpang lewat entah benar-benar mati

kurasa takdir menuntun, mungkin tidak
mungkin lembayung kenangan menyeruak dari ketidaksadaran

aku ada karena ketiadaan
aku mencari aku
sama seperti aku menghilangkan aku

rambutku jatuh bersama hujan yang menjarah
nafasku terhisap angin badai
kakiku mencari tanah-tanah basah
lumpur-lumpur membalut jari-jari

yang melihat batu
yang melihat patung
yang melihat pualam-pualam
yang melihat lantai
yang melihat langit
yang melihat bumi
yang melihat pohon-pohon
yang melihat daun-daun gugur
yang melihat bunga-bunga tersenyum
yang melihat tikus-tikus berlari-lari
yang melihat monyet-monyet bercanda
yang melihat burung menyusun sangkar
yang melihat harimau mengaso
yang melihat kijang bercinta
yang melihat kelinci-kelinci di sela-sela rumput
yang melihat orang-orang lalu lalang
yang melihat cinta
yang melihat harapan
yang melihat tangis
yang melihat api
yang melihat jiwa
yang melihat aku

lamunan semalam

lamunan semalam
bayang-bayang anak kecil berlari di tengah landasan cakrawala
terus berlari mendekati wajah-wajah di atas pasir
memandang langit temaram
salju yang hilang

lamunan semalam
kami-kami perempuan menari sepanjang malam
diiringi sopran seorang anak kecil
terus melaju melaju menari menari sepanjang malam
entah sependek hari

lamunan semalam
mata-mata dalam kegelapan malam
berpancar sinar-sinar bagai kunang-kunang malam
kupu-kupu malam berjatuhan di antara malam-malam
tiada lari
tiada diam
hanya menyentuh

lamunan semalam
geram semalam
tangis semalam
tawa senyum semalam
jerit semalam
mungkin malam-malam berikutnya

pikir – batas

batas-batas di antara batas-batas,
menjelma dalam keluasan tanpa batas
celah-celah hampir lenyap,
menjamah sunyi terjepit batas
sekat-sekat menekan,
menjamu diri dan lampu-lampu temaram
sementara nyata dan angan mencari batas

Jakarta, 5 Februari 2006
7:58 PM

Jakarta, 4 Februari 2006

cerminku padamu,
berbayang-bayang buram
bergerak lawan arus malam,
menjiwa dalam satu nafas
desah gairah tanpa henti
hilang ruang dan waktu

suraimu menyentuh retakan
di ujung kiri bawah cermin
gelap berbujur asmara
lintasan andromeda memukau sukma
di antara derai dan mata berkaca biru

kala indah menyentuh,
aku memilih diam

OLiPH
Jakarta, 4 Februari 2006
5:02 PM