ke dalam

kemarin aku menjejak tanah lahirku
saat itu hujan lebat
dan aku menembus awan-awan
lingkarkan pinggangku dengan selendang ibuku
tutup mataku dengan ciuman ayahku yang kusimpan dalam pundi-pundi emas
dinding-dinding tak bertepi
sayup-sayup sosok-sosok
entah hidup entah hanya numpang lewat entah benar-benar mati

kurasa takdir menuntun, mungkin tidak
mungkin lembayung kenangan menyeruak dari ketidaksadaran

aku ada karena ketiadaan
aku mencari aku
sama seperti aku menghilangkan aku

rambutku jatuh bersama hujan yang menjarah
nafasku terhisap angin badai
kakiku mencari tanah-tanah basah
lumpur-lumpur membalut jari-jari

yang melihat batu
yang melihat patung
yang melihat pualam-pualam
yang melihat lantai
yang melihat langit
yang melihat bumi
yang melihat pohon-pohon
yang melihat daun-daun gugur
yang melihat bunga-bunga tersenyum
yang melihat tikus-tikus berlari-lari
yang melihat monyet-monyet bercanda
yang melihat burung menyusun sangkar
yang melihat harimau mengaso
yang melihat kijang bercinta
yang melihat kelinci-kelinci di sela-sela rumput
yang melihat orang-orang lalu lalang
yang melihat cinta
yang melihat harapan
yang melihat tangis
yang melihat api
yang melihat jiwa
yang melihat aku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: