Monthly Archives: April 2006

maaf

buat banyak orang, saya rasa, kata ‘maaf’ sering sekali dikeluarkan lewat mulut langsung ataupun lewat tulisan. dengan budaya indonesia yang cukup ‘maaf-maafan’, kata ‘maaf’ bahkan kadang-kadang terlihat sudah menjadi respon otomatis. implikasinya, orang jadi sulit membedakan ‘maaf’ mana yang benar-benar dari hati terdalam dan mana yang sekedar bagian dari ritual, atau ‘maaf’ mana yang bagian dari taktik melarikan diri. tampaknya pernyataan saya yang terakhir ini terdengar sarkastis, apatis, pesimis, atau ‘is’-‘is’ lainnya.

saya sendiri paling benci mendengar kata ‘maaf’. sesuai dengan social exchange theory, ketika seseorang meminta maaf pada saya, saya merasa punya obligasi untuk memaafkan. memaafkan idealnya tulus. namun pada kenyataannya sulit, apalagi saya orang yang mengingat detail segala sesuatu, termasuk kesalahan-kesalahan orang. saat orang lain meminta maaf dan saya tidak bisa memaafkannya, saya merasa terbebani bahwa diri saya bersalah karena tidak membalas kebaikan orang lain. dengan kata lain, terjadi transfer beban ‘dosa’.

akhir-akhir ini, di tengah kesibukan yang menyiksa hati pikiran jiwa dan setiap sel-sel tubuh saya, saya menerima aliran permintaan maaf yang sangat banyak. pada awalnya, saya memaklumi karena saya berusaha untuk berempati dengan orang-orang yang sudah ‘dicekoki’ dengan akar budaya ‘maaf-maafan’. akan tetapi, saya, seperti alam yang dirusak terus-menerus, punya ambang batas. saya sudah tidak tahan dengan kata-kata ‘maaf’ dan saya sudah mengalami habituasi. kata maaf tidak lagi menjadi kata ampuh untuk memperoleh maaf saya walaupun disertai dengan berbagai penjelasan-penjelasan yang tampaknya masuk akal dan menghimpit. saya tidak berhasil menghentikan luapan berbagai emosi negatif disertai dengan pikiran negativistis bahwa ‘maaf’ itu hanyalah sarana yang digunakan orang untuk lari dari tanggung jawab. dan akhirnya saya sudah sampai pada tahap dimana saya tidak mau tahu lagi dengan proses apapun yang dialami oleh orang yang sedang meminta maaf pada saya. saya memprogram diri saya untuk hanya tahu bahwa orang itu tidak melakukan kewajiban atau tidak memenuhi janjinya.

saya sampai pada kesimpulan bahwa saya hanya bisa percaya dan mengandalkan diri saya sepenuhnya. dengan tidak berharap pada orang lain, saya lebih damai, lebih sejahtera. saya meminimalisir kemungkinan saya kecewa karena toh tidak ada apapun yang saya harapkan. secara psikologis, saya sudah lebih terbiasa, lebih siap, lebih kuat untuk menghadapi orang-orang yang ingkar janji. misalnya dalam proyek, saya sudah mempersiapkan rencana apa saja yang harus saya jalankan untuk mengerjakan tugas bagian kolega saya. bahkan kalau saya sedang mempunyai energi lebih, saya bisa saja sudah menyelesaikan seluruh proyek.

mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa saya menulis hal-hal semacam ini. selain untuk alasan curhat, selain untuk peringatan orang yang ‘obral’ permintaan maaf, tidak ada lagi alasan lain.

Advertisements

di depan rumahmu

ketika aku di depan pintu gerbang rumahmu, aku selalu membuat diriku diam barang satu dua menit. memutar tangan, kaki, dan kepala.

yang mana kuncinya?

aku bersemedi, memasukkan apapun yang kupegang ke dalam lubang kunci gembok yang kelihatannya sudah berkarat dan ada tulisan ‘hardened’ atau semacamnya yang kupikir hendak memberitahuku tidak sembarang orang mampu taklukannya.

tantangan pertama terpecahkan. gembok pertama terbuka. pintu dengan segenap daya upaya kudorong dengan kepala, kaki, tangan, dada, pinggang, pinggul, pantat, bahkan hidungku sampai hampir pesek.

kemudian aku selalu tahu setelah itu aku harus berhadapan dengan gagang patah. kupikir, mungkin aku melakukan kesalahan pada kunci pertama. aku terlalu berpikir. sekarang aku harus mendayakan sepenuhnya intuisiku, kalau perlu kukorek hatiku dengan kunci-kunci yang ada walaupun aku harus ke tukang las atau sejenisnya untuk mengasahnya jadi belati.

kubiarkan rasaku berbicara dan kutemukan kuncinya. namun tiba-tiba gagangnya patah. aku menggedor-gedor, memanggil dirimu. tidak ada sahutan. tidak ada suara apapun yang menandakan keberadaan kehidupan yang sesungguh-sungguhnya.

aku harus berusaha sendiri! mengambil gagang patah itu dan mencoba menyambungnya. menyusun hatiku yang luluh lantak, rontok karena keputusasaan, teringat yang dulu.
limabelas duapuluh menit berlalu, matahari memanggil-manggil jiwaku. aku harus lari. aku harus pergi ke suatu tempat. aku tak mau matahari merenggutku dari keberadaanku saat ini, di tempat ini, di dekat rumahmu.

aku berlari-lari, panik, bertanya pada orang-orang, tersesat. aku yang asing mencari benang merah yang sanggup mempertemukan kita berdua. aku mengais-ngais di tempat sampah, melongok-longok di bawah meja warung, mengintip balik baju tiap orang yang lewat, menggaruk-garuk kepalaku. kepalaku pusing. gawat! matahari sudah tak sabar meminta tumbal diriku.

aku berlari-lari lagi memanggil namamu, menggedor-gedor lagi pintu rumahmu, meneriakkan lagi namamu sampai rasanya lenyap. aku ingin menangis tapi aku tak boleh menangis. matahari akan semakin senang karena aku sendiri yang menyediakan diriku padanya.

aku harus istirahat, kupikir. dan aku duduk di teras rumahmu sambil berusaha memperlambat degup jantungku. di sudut mataku, aku melihat sosok tombol merah. bel. TING TONG!

temaram lampu malam menuntunku pada dirimu

temaram lampu malam menuntunku pada dirimu.

sayang, waktu terlalu kurang ajar
waktu terlalu menyiksa
waktu merontokkan tubuhku
waktu menggerogoti jiwaku
aku bertanya-tanya
apa waktu sanggup menghapus hatiku?
apa waktu tega menelan keberadaanku?

aku kembali pada masa silam
tiga bulan yang lalu
aku memungut anak kucing jalanan
dan menaruhnya di balik ketiakku
kubiarkan ia menyusu padaku
agar ia rasakan kasih
agar ia tak rapuh hadapi dunia

di balik hujan, aku menemukanmu dalam diriku.

jatuh – kelahiran

aku mau menjejak dalam hatimu
membawa sebanyak-banyaknya air kehidupan dari dadaku untuk kusiram pada ladang hidupmu

karena tidak ada sebab pada diriku
karena aku dituntun oleh tiap nafas
tiap titik gejolak-gejolak menangkap hatiku
saat ini tak ada pikir yang sanggup bungkam diriku

aku, entitas bebas,
temukan jalinan benang merah
tersambung dengan kelingking kirimu

aku menyerap inti bumi
lambungkan jejakku
mengantarku padamu

jangan titikkan air mata
aku akan makin menguras dadaku
agar kau tiada kekurangan

biarkan dirimu tidur oleh nyanyian samudra dalam kita
biarkan kemurnian mengalir begitu saja
seperti tiga puluh tahun yang lalu

hidup adalah persinggahan, kekasihku
kita hidup untuk dijanjikan pada kematian
namun hidup penuh dinamika, sayang
mari biar kisah kita sempurnakan segalanya

dan kudengar langit menangis untuk kita

Jakarta, 21 April 2006
2:29 PM

di tengah derita KoNteS, untuk rekan seperjuanganku

teruntuk salah seorang rekan seperjuangan di PWD 314, yang sedang
dimabuk asmara.


---------------------------------------------------------------------



someone is falling in
LOVEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!
...........................
pria pria pria
di benakmu menari-nari
di hatimu senyum-senyum
gelisah hingga mata basah
tubuh basah
kerja psikis
akhirnya ke fisik
..............
setiap detik
setiap nafas
setiap langkah
setiap titik
setiap koma
setiap tanya
setiap seru
setiap kutip
setiap huruf
setiap angka
setiap rumus aljabar
setiap trigonometri
setiap psikometri
setiap konstruk
setiap domain
setiap indicant
setiap item
tanpa perlu URGENSI
.............
kekasih kekasih
kau telah bukakan diriku
bukakan dirimu untukku
aku ingin mengenalmu
aku ingin merengkuhmu
sampai tergila-gila
lupa segalanya
hanya kamu



---------------------------------------------------------------------

Jakarta, 8 April 2006
9:00 PM

cerita waktu senja

aku mimpi ada di tempat penuh batu-batu besar. tingginya sepantar aku umur sepuluh tahun. lebarnya, entah. terlalu lebar. aku berjalan dan tiba-tiba tercebur, sayang. berdebar-debar aku ketika hari berganti senja. dan burung-burung laut melintas di depan kepalaku. saat itu, aku bertemu kamu dengan batu sekepal tangan di kepalamu.

aku bertanya, kamu membisu. sampai aku berhenti bertanya, kamu menceritakan ironi surga neraka. aku tidak mengerti, kamu mungkin tahu mungkin tidak. namun aku tak sanggup lagi bertanya karena surga memanggil namaku, dan hatiku ragu sungguhkah surga?

kamu menjerit kesal di kepalaku
batu-batu beradu hebat,
menggores dinding kepalaku,
pecahannya menghujam jantung sampai ke hati

aku semakin hilang bilang
sangkakala tak jadi kau tiup

kupikir, suatu saat nanti, aku mengerti dan nanti aku sendiri yang akan meniup sangkakala, untuk diriku. dan mimpi bukan lagi impian, kurasa, aku masuk surga.

matahari dan hujan

sejenak aku memandang matamu menyelami pedih dan ragu yang seakan-akan tiada habisnya

“Dinda, sungguhkah kamu mencintaiku?
masihkah cinta ada padamu duapuluh tahun lagi?”

sesungguhnya, hatiku memberontak, kekasih. surga memuliakan kisahku denganmu dan patah hati karena kepedihan. taman Argasoka, saksiku di bawah sinar Batara Surya. apakah kata-kata bisa yakinkanmu ketika rasa kehilangan sentuhnya?

hari itu, hujan turun deras.

Jakarta, 14 April 2006
5:03 PM

kaki-kaki yang berlari

kaki-kaki berlari-lari menapak-napak mengajak sepatu merah merasa
kerikil-kerikil menekan-nekan tubuhnya yang ringkih oleh udara yang
mengejek

aku menunggumu aku sudah lama menunggu aku terlalu lama menunggu

kaki-kaki menerjang semak-semak kaki-kaki berdarah-darah menggores
bumi dengan sepatu merahnya lama-lama oleh ketelanjangannya

aku mau mati aku rindu mati aku takut mati

kaki-kaki terus berlari menerjang samudra menyibak awan menghempas
angin membawa debu-debu pergi ke angkasa

kaki-kaki berlari makin cepat dan makin cepat

pasangan mata mengabur

aku harus bergegas aku harus pergi aku harus sampai di sana

kaki-kaki berlari seiring tekad tekadmu tekadku tekadnya tekad kita
dan mereka

kaki-kaki terus berlari entah sampai kapan

aku harus bertemu dengannya tunggu aku di sana

OLiPH
Jakarta, 11 April 2006
1:47 PM

cuma biru

biru kakiku
berjalan-jalan kecil
di antara tubuh-tubuhmu
terkapar di atas tempat tidurku

biru kakiku
menyentuh pipimu
bunga-bunga bersemi di matamu
penuhi sensasi diriku

kakiku sungguh-sungguh biru
ketika aku terjatuh
ketika darahku menggelegak menjamumu
bukakan dirimu, kekasihku

dalam tubuhmu
biru hanya kasat mata

Jakarta, 8 April 2006
7:25 AM