di depan rumahmu

ketika aku di depan pintu gerbang rumahmu, aku selalu membuat diriku diam barang satu dua menit. memutar tangan, kaki, dan kepala.

yang mana kuncinya?

aku bersemedi, memasukkan apapun yang kupegang ke dalam lubang kunci gembok yang kelihatannya sudah berkarat dan ada tulisan ‘hardened’ atau semacamnya yang kupikir hendak memberitahuku tidak sembarang orang mampu taklukannya.

tantangan pertama terpecahkan. gembok pertama terbuka. pintu dengan segenap daya upaya kudorong dengan kepala, kaki, tangan, dada, pinggang, pinggul, pantat, bahkan hidungku sampai hampir pesek.

kemudian aku selalu tahu setelah itu aku harus berhadapan dengan gagang patah. kupikir, mungkin aku melakukan kesalahan pada kunci pertama. aku terlalu berpikir. sekarang aku harus mendayakan sepenuhnya intuisiku, kalau perlu kukorek hatiku dengan kunci-kunci yang ada walaupun aku harus ke tukang las atau sejenisnya untuk mengasahnya jadi belati.

kubiarkan rasaku berbicara dan kutemukan kuncinya. namun tiba-tiba gagangnya patah. aku menggedor-gedor, memanggil dirimu. tidak ada sahutan. tidak ada suara apapun yang menandakan keberadaan kehidupan yang sesungguh-sungguhnya.

aku harus berusaha sendiri! mengambil gagang patah itu dan mencoba menyambungnya. menyusun hatiku yang luluh lantak, rontok karena keputusasaan, teringat yang dulu.
limabelas duapuluh menit berlalu, matahari memanggil-manggil jiwaku. aku harus lari. aku harus pergi ke suatu tempat. aku tak mau matahari merenggutku dari keberadaanku saat ini, di tempat ini, di dekat rumahmu.

aku berlari-lari, panik, bertanya pada orang-orang, tersesat. aku yang asing mencari benang merah yang sanggup mempertemukan kita berdua. aku mengais-ngais di tempat sampah, melongok-longok di bawah meja warung, mengintip balik baju tiap orang yang lewat, menggaruk-garuk kepalaku. kepalaku pusing. gawat! matahari sudah tak sabar meminta tumbal diriku.

aku berlari-lari lagi memanggil namamu, menggedor-gedor lagi pintu rumahmu, meneriakkan lagi namamu sampai rasanya lenyap. aku ingin menangis tapi aku tak boleh menangis. matahari akan semakin senang karena aku sendiri yang menyediakan diriku padanya.

aku harus istirahat, kupikir. dan aku duduk di teras rumahmu sambil berusaha memperlambat degup jantungku. di sudut mataku, aku melihat sosok tombol merah. bel. TING TONG!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: