Dinda, namanya.

jendela buka tutup. tak tak tap. sepatu dipukul-pukul ke tembok.
tangis Hawa di atas meja jati. jam berdentang-dentang terus.
TV layar titik-titik. zzzttt… telepon berdering. kring kring. plep.
suara keran mengalir. lalu bocor.

Dinda, namanya
aku sudah memasukkan namanya ke dalam diriku
dan pernah diriku bersatu dengannya
karena kebodohan dan keegoisan, aku memotong buah dadaku sendiri

Dinda, namanya
aku bersurat padanya lewat mimpi-mimpi yang kebetulan lewat
meruap wangi mawar ke dalam hidungku
sosok putih menjamahku, berganti-ganti hitam
kemudian kelap kelip seperti lampu disko
ke manakah diriku dan dirinya?

Dinda, namanya
raut wajahnya keras, seperti hidup yang dijalaninya
derita membuat seorang perempuan bersinar indahnya
dalam matanya, ada bayangan telaga Nirwana
menyihir setiap orang ingin selami dirinya.

Dinda, namanya
setengah tahun berlalu
kenangan masih membekas dan masa lalu seakan-akan selalu hadir pada tiap nafas
setengah tahun sudah, tiada berkabar
bayang-bayangnya menjadi selaput mataku
suaranya bergema-gema dalam telingaku
sosoknya berlari-lari dalam imajiku

Dinda, namanya
dan aku merindukannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: