Monthly Archives: June 2006

Superman-ku oh Superman…

Kemarin, untuk pertama kalinya saya nonton di Djakarta Theater. Gedung bioskop yang antik, dulunya jadi urusan Pemda tapi sekarang diambil 21, dan besar sekali. Begitu besarnya, sampai kata Iin, “Kalo nyari bangku di sini, lo bisa nyasar. Mesti manggil ‘In… In…'”. Begitu kira-kira. Saya diculik Inayah Agustin, “Welcome to the club!”, katanya. Anggotanya? Sudah ada Inayah Agustin, Echa, Timo (kembaran Mas Japro – sumpah mirip banget), dan menyusul Olivia. Khukhukhu. Tak tanggung-tanggung pula yang kami tonton premier Superman Returns. Film superhero klasik, yang dipastikan penontonnya bakal membludak, dari anak kecil sampai oom-oom dan tante-tante. Mungkin juga kakek-nenek. Entah apa daya tariknya. Begitu tidak manusiawinya sampai-sampai pakai celana dalam di luar. Tapi tetap saja banyak yang suka. Saya sih terus terang tidak begitu ‘in’. Superhero lagi heboh di industri film dan saya sebagai salah seorang penikmat film merasa harus tahu. Jadilah saya menonton di sana.

Tentu saja ekspektasi saya adalah cerita superhero. I mean, kepahlawanan! Walaupun klasik, yang baik menang dari si jahat. Saya ingin tahu detail cerita pergulatan itu. Bukan kisah cinta picisan ala telenovela! Inilah yang saya alami dengan Superman. Fernando Jose, diganti superman. Kecewa? Jelas. Marah? Tentunya. Tanyakan saja pada Iin dan Echa. Reaksinya pasti sama walaupun derajat atau intensitasnya berbeda-beda.

Energi negatif memenuhi saya, menggelegak, mendorong saya untuk tak henti-hentinya mengata-ngatai film itu. Reaksi yang mendengar bermacam-macam. Ada yang, “untung gue gak nonton. emang gue udah feeling filmnya ga asik.” Sok tahu, tapi tidak apalah. Hak masing-masing pribadi. “Emang gue gak suka. Masa’ jagoan pake celana dalem di depan.”. Ada juga, “Yah, padahal gue udah rencana pengennonton lho.” “Ah masa sih sejelek itu, dari trailer-nya, kayaknya lumayan deh.” Trailer memang suka menipu. Namanya juga jualan. Reaksi lain (yang belum nonton), “Ah lu kan belum pernah nonton Superman yang pertama.” Hm. Mungkin. Tapi saya menunggu komentarnya setelah menonton.

Oh ya, perlu saya tambahkan. Perempuan, yang nonton di sebelah kanan saya, ngorok. Bukan menguap. Tapi benar-benar ngorok, seperti bunyi babi!

Tapi kalau dipikir-pikir, walaupun super tidak puas, paling tidak saya masih ‘happening’ gaul…

Advertisements

sex – the first?

What is sex? Jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan. Itu arti secara kamus. Dalam kehidupan sehari-hari, orang mengasosiasikannya sebagai sexual activity. Menggoda, foreplay, penetrasi (kalau laki-laki dengan perempuan, atau laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan dildo dan semacamnya), orgasme. Ini yang biasa dilakukan dengan orang lain. Kalau sendiri saja? Ada yang namanya masturbasi. Bisa sampai orgasme juga.

Sex. Ditabukan oleh banyak budaya dan agama. Dianggap sebagai topik ‘kotor’. Diasosiasikan dengan dosa. Namun sex erat kaitannya dengan fungsi biologis meneruskan keturunan. Freud saja bilang sex adalah kebutuhan dasar. Setiap orang suka seks. Buktinya kebanyakan orang pasti tertawa mendengar humor seks. Sekedar catatan, menurut psikologi humor, orang tertawa mendengar lelucon yang mengangkat hal-hal yang direpresikan.

Saya pernah baca di buku Zahir karangan Paul Coelho, tentang mengapa sex ditabukan. Pada suatu masa, laki-laki dan perempuan bebas melakukan hubungan seksual. Lahirlah banyak manusia-manusia baru. Namun sumber daya alam yang ada rupanya terbatas. Keadaan ini melahirkan perseteruan, peperangan yang menghasilkan banyak korban di pihak perempuan dan anak karena mereka dianggap lebih lemah. Seorang yang dituakan, berkharisma, dianggap dekat dengan Tuhan berusaha untuk mengatasi bencana ini, dengan melakukan intervensi langsung pada sumbernya. Seks bebas = banyak manusia. Dengan alasan wejangan Tuhan, ia menabukan seks bebas dan mengharuskan seorang laki-laki harus setia dengan seorang perempuan. Dalam masyarakat, ikatan kesetiaan dimanifestasikan dalam bentuk pernikahan. Sex after marriage. Seks dilakukan dengan orang yang diyakini sebagai pasangan seumur hidup. Sex is a love devotion.

Sebagaimanapun budaya menabukan seks bebas, toh masih banyak orang yang masih tidak bisa menahan godaan seks. Banyak orang menganut seks bebas (diakui ataupun tidak) yang akhirnya menciptakan subkultur baru. Seks bebas. Dengan perkembangan arus informasi, orang terekspos dengan berbagai macam norma, termasuk yang saling bertentangan. Anak muda diajarkan oleh orangtua bahwa seks harus dilakukan setelah menikah. Namun ia juga mendengar bahwa seks boleh dilakukan sebelum menikah. Alasannya macam-macam. Salah satunya alasannya adalah kecocokan. Pernikahan adalah lembaga yang mengikat. Menuntut kesetiaan. Di dalamnya, tentunya ada seks. Bumbu cinta. Saluran penghasil anak. Lebih jauh lagi, kebutuhan dasar yang dinanti-nantikan untuk dipenuhi setelah direpresi sekian lama. Kalau tidak ada kompatibilitas dalam hal seks, tentunya pernikahan itu bagai neraka. Misalnya, suami lebih suka sodomi. Istri maunya lewat vagina. Oleh karena itu, pada masa pacaran, seks juga termasuk hal yang sebaiknya dijajaki dengan pasangan. Dan saya adalah orang yang menganut paham ini.

Banyak orang yang sudah cenderung permisif dengan sex before marriage. Ada yang menganut totalitas seks bebas, dalam arti sex is basic need. Drive utama-nya tak lain adalah nafsu. Namun masih ada yang berusaha menyeimbangkan dengan norma lama. Bahwa sex before marriage bisa dilakukan asalkan di dalamnya ada cinta. Jadi, sex bukan hanya nafsu, sex = making love.

Dilema pandangan ini terutama dialami oleh first-timer. Ragu kapan sebaiknya virginitas dilepaskan. Inilah yang saya alami saat ini. They say that your first sexual experience should be memorable. Therefore do it with someone you love. Saya pribadi bingung dengan sex driven by love. Pertama, apa yang dimaksud dengan cinta? Buat saya, cinta sangat abstrak. Apa yang dimaksud adalah kenyamanan dan rasa percaya (membiarkan benda asing masuk ataupun memasuki liang misteri)? Kedua, seberapa yakin bahwa hubungan seksual dilakukan karena cinta, bukan nafsu? Bisa dua-duanya dengan persentase yang cuma bisa dikira-kira. Atau jangan-jangan hanya nafsu tetapi dijustifikasi sebagai cinta hanya supaya terdengar lebih mulia?

Akan tetapi ada juga yang bilang bahwa pengalaman hubungan seks pertama sebaiknya biasa-biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Kalau begitu dahsyat, nantinya di hubungan berikutnya (dengan orang yang berbeda), orang akan terperangkap membandingkan sehingga tidak pernah tercapai kepuasan. Bukan rasa senang, melainkan menderita terperangkap memori masa lalu. Bagaimana hidup bisa berjalan maju kalau orang hanya melihat ke belakang?

Saya cukup pusing dengan hal ini. Sampai-sampai saya mengajukan pertanyaan, “Dalam hubungan kita sampai sekarang ini, do you want me just for sex?” Pertanyaan bodoh yang cukup membuat yang ditanya marah besar dan saya kelimpungan menjelaskan posisi saya, dan meredakan amukannya. Kemudian selama beberapa hari, saya berpikir. Saya mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan apa yang dikatakan orang lain dan mulai menggali diri saya sendiri. Proses yang sulit. Orang terlalu sibuk mendengar sana sini dan akhirnya sulit membedakan yang mana suara hatinya.

Saya akhirnya memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan ini itu, wassa wussu. Pusing sana sini untuk hal-hal yang jangan-jangan sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Begitu banyak hal yang mungkin bisa dijawab namun belum tentu itu adalah jawaban yang sungguh-sungguh benar. Pikiran manusia begitu penuh dengan referensi sehingga ia sulit sekali membedakan the real self-nya. Easy going saja. Saya percaya bahwa diri saya akan tahu kapan saat yang tepat. I’ll do it when I’m ready to.

andai

menanti dalam sepuluh ribu penantian
menunggu menunggu
entah kapan sampai
atau memang tidak pernah akan sampai?

dua ratus mil kutempuh
menabrak dinding
dengan kesadaran yang cuma setengah
terpental lima ratus mil

pundi-pundi diisi emas yang dicat putih
satu bagian untukmu
satu bagian untukku
satu bagian untuk hatimu
satu bagian untuk hatiku
ketika kita bertemu dan saat kita terpisah,
kuharap bagian-bagian itu tetap mau bersatu

matamu terkesiap melihat kilau emas putih
kemudian rontok jadi kekuningan
matamu membelalak
aku mau mengecatnya lagi

katamu, “tidak. aku mau melihatnya sebagaimana adanya.”
namun kamu selalu gusar
katamu, “mataku butuh waktu.”
“bisakah segalanya seperti sedia kala?”
“tidak tahu”

mungkin saat kamu tertidur
dan kepalamu terantuk mimpi-mimpi
aku akan mengecatnya lagi

OLiPH
Jakarta, 24 Juni 2006
12:24 AM

course for the self

Setiap orang punya masalah. Jangan-jangan setiap orang menciptakan masalahnya sendiri. Masalah atau tidak, bukankah sangat ditentukan oleh persepsi pribadi? Akhir-akhir ini, seperti banyak orang di dunia ini, saya dirundung masalah-masalah. Saya pun menjadi bingung, uring-uringan, dan membuat teman-teman saya bosan mendengar saya. Saya memang suka ngoceh-ngoceh ngalor-ngidul curhatminztuin kalau saya merasa punya masalah. Rasanya bukan hanya itu, kelakuan saya ternyata menciptakan masalah-masalah baru. Masalah baru yang ternyata membuat saya lebih megap-megap dari sebelumnya. Masalah hubungan antardua orang, masalah perasaan, masalah kesepakatan (yang menjadi berubah-ubah lantaran saya bingung), masalah memikirkan orang lain. Masalah dengan orang yang sangat saya sayangi. Orang yang bisa membuat dunia saya jungkir balik, terbang ke mana-mana. Saya lebih uring-uringan lagi dari sebelumnya.

Well… Saya tidak akan menceritakan detail kisah saya dengan dia, selain karena terlalu pribadi, juga terlalu rumit dan panjang. Saya sendiri saja sulit disuruh menceritakan secara oral. Saya pasti melewatkan detail-detail yang saya anggap penting, bukan, semua detail saya anggap penting dan saya merasa berkata-kata tidak cukup merengkuh elemen-elemen hubungan saya dengan dia. Pada intinya, saya menjadi terlalu manja, terlalu menggantungkan diri. Sementara saya sibuk menampilkan ekspresi ke-BT-an saya, dia juga sebenarnya punya masalah sendiri yang ternyata jauh lebih berat dari saya, jauh berefek pada masa depan, pencapaian, dan hidup. Saya ingat kata-katanya, “Belum tentu 20 tahun lagi, gue masih hidup. Dan gue butuh waktu untuk diri gue sendiri.” “I’m not your problem solver, right?” Yup, baby.

Saya berpikir jangan-jangan hal-hal yang saya anggap masalah sebenarnya bisa bukan masalah. Jangan-jangan masalah yang benar-benar masalah ada dalam diri saya. Saya yang selalu membawa masalah ke dalam perasaan sulit berpikir rasional. Saya yang tidak percaya dengan kemampuan saya sehingga sering bergantung pada orang lain. Saya yang selalu meragukan setiap keputusan saya sehingga sering berubah-rubah. Saya yang terlalu berpikir pendek dan tidak menyeluruh, tidak taktis. Saya yang sering mengabaikan setiap kesempatan hanya karena saya tidak suka dengan suatu cara. Pada intinya, saya manja.

Selama duapuluh tahun lebih saya hidup, saya baru menyadari hal ini. Mungkin orang-orang di sekitar saya tidak berani mengatakan hal ini meskipun mereka terganggu dengan sifat saya. Mungkin mereka diam-diam mengeluh dalam hati. Dan saya rasa saya tidak bisa terus-menerus membiarkan diri saya pasif dan menunggu orang lain menunjuk apa kesalahan saya, apa yang harus saya perbuat, dan apa konsekuensi dari segala sesuatu yang saya lakukan. Saya adalah motor kehidupan saya, saya yang menjalaninya, dan harusnya saya adalah orang yang paling tahu dengan diri saya.
Saya harus lebih mandiri.
🙂

you ROCK us!

batu-batu berteriak di air
“OOooooOOOOOooooOOOOOooooooooooOOOOO”
menggeliat-geliat digesek air

“OOOOOOOOOOOOOOOooooooooooooooooooOOOOOOOOOO??”
mau benjol diduduki batu-batu lain?
tidak tidak

bungkus mie
tissue-tissue
kertas-kertas

ludah!
kencing
taik-taik menggenang

bungkus rokok
kaleng-kaleng
plastik-plastik

tidak bisa bernapas
tidak bisa melihat dengan jelas
gelap gelap gelap gelap
bukannya ini siang?
bau bau bau bau
panas…
“aku jadi bau!”

OLiPH
Jakarta, 23 Juni 2006
10:28 AM

[titik.]

berdiri di sebuah pelataran malam
menjanjikan angan
mimpi-mimpi numpang lewat
keredap lampu jalanan
sosok-sosok mabuk kenangan

titik. dua titik. tiga titik. empat titik. lima titik. enam titik. tujuh titik. tak terhitung titik.

sebaran di atas aspal.
mengukur kembali setiap milimeter, diameter, luas
berapa banyak atom, molekul?

berapa luas mimpi?
berapa volume mimpi?

dan

berapa luas nyata?
berapa volume nyata?

mimpi masa muda
mimpi pencapaian
mimpi kebebasan
mimpi gemilang

mimpi pencerahan?

jarak masa muda dan kematangan diri
apakah ada?
berapa?

berapa lama sampai ke titik pembalikan?
atau ke titik percepatan?
atau terlempar ke titik-titik dimensi lain?
mungkinkah ada titik perhentian?

jangan-jangan ilusi lagi

OLiPH
Jakarta, 23 Juni 2006
10:40 AM

[jurnal titik nol]

di satu hari saat sel-selku membangun sebuah jembatan dari vaginaku sampai ke mulutku, rumput-rumput mengering dan terbakar matahari. dimensi-dimensi bersinggungan hingga mati mungkin hanya jawabnya. jam-jam berhenti berdentang. terdengar teriakan-teriakan lantang, “ia harus mati, ia harus mati”.

ia tergolek di depan cermin gerbang kehidupan, dari kehidupan panggung di sebuah opera kecil di pinggiran kota. ia tak mau menjawab apa-apa. sesuatu harus mati saat kelahiran menjamu hidup.

aku, seorang perempuan, ia, seorang perempuan. terbang bagai lumba-lumba di suatu malam kengerian, penuh darah hingga senja dipaksa kembali. senja menjerit saat kapal-kapal merobeknya dan langit merantainya. suatu saat ketiadaan harus menjadi dirinya.

OLiPH
Jakarta, 1 Juni 1006
7:07 PM

melukis malam

malam ini aku berkelana lagi
sutra biru menutup payudaraku
doa-doa tengah malam

malam ini aku berkelana lagi
merindu matahari yang kian bersembunyi di cermin bumi
langit kulukis dengan titik-titik perak
salju perak

malam ini aku menghibur lagi
janda-janda yang kesepian
pemuda-pemuda yang tewas menanti
cinta-cinta berserakan di got-got

malam ini aku meneguk cawan bulan lagi
dan ia sudah kelelahan
sampai-sampai tinggal setengah
dan aku harus menunggu lagi

malam ini aku memang menunggu lagi
menulis cerita tentang malam-malam