[jurnal titik nol]

di satu hari saat sel-selku membangun sebuah jembatan dari vaginaku sampai ke mulutku, rumput-rumput mengering dan terbakar matahari. dimensi-dimensi bersinggungan hingga mati mungkin hanya jawabnya. jam-jam berhenti berdentang. terdengar teriakan-teriakan lantang, “ia harus mati, ia harus mati”.

ia tergolek di depan cermin gerbang kehidupan, dari kehidupan panggung di sebuah opera kecil di pinggiran kota. ia tak mau menjawab apa-apa. sesuatu harus mati saat kelahiran menjamu hidup.

aku, seorang perempuan, ia, seorang perempuan. terbang bagai lumba-lumba di suatu malam kengerian, penuh darah hingga senja dipaksa kembali. senja menjerit saat kapal-kapal merobeknya dan langit merantainya. suatu saat ketiadaan harus menjadi dirinya.

OLiPH
Jakarta, 1 Juni 1006
7:07 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: