course for the self

Setiap orang punya masalah. Jangan-jangan setiap orang menciptakan masalahnya sendiri. Masalah atau tidak, bukankah sangat ditentukan oleh persepsi pribadi? Akhir-akhir ini, seperti banyak orang di dunia ini, saya dirundung masalah-masalah. Saya pun menjadi bingung, uring-uringan, dan membuat teman-teman saya bosan mendengar saya. Saya memang suka ngoceh-ngoceh ngalor-ngidul curhatminztuin kalau saya merasa punya masalah. Rasanya bukan hanya itu, kelakuan saya ternyata menciptakan masalah-masalah baru. Masalah baru yang ternyata membuat saya lebih megap-megap dari sebelumnya. Masalah hubungan antardua orang, masalah perasaan, masalah kesepakatan (yang menjadi berubah-ubah lantaran saya bingung), masalah memikirkan orang lain. Masalah dengan orang yang sangat saya sayangi. Orang yang bisa membuat dunia saya jungkir balik, terbang ke mana-mana. Saya lebih uring-uringan lagi dari sebelumnya.

Well… Saya tidak akan menceritakan detail kisah saya dengan dia, selain karena terlalu pribadi, juga terlalu rumit dan panjang. Saya sendiri saja sulit disuruh menceritakan secara oral. Saya pasti melewatkan detail-detail yang saya anggap penting, bukan, semua detail saya anggap penting dan saya merasa berkata-kata tidak cukup merengkuh elemen-elemen hubungan saya dengan dia. Pada intinya, saya menjadi terlalu manja, terlalu menggantungkan diri. Sementara saya sibuk menampilkan ekspresi ke-BT-an saya, dia juga sebenarnya punya masalah sendiri yang ternyata jauh lebih berat dari saya, jauh berefek pada masa depan, pencapaian, dan hidup. Saya ingat kata-katanya, “Belum tentu 20 tahun lagi, gue masih hidup. Dan gue butuh waktu untuk diri gue sendiri.” “I’m not your problem solver, right?” Yup, baby.

Saya berpikir jangan-jangan hal-hal yang saya anggap masalah sebenarnya bisa bukan masalah. Jangan-jangan masalah yang benar-benar masalah ada dalam diri saya. Saya yang selalu membawa masalah ke dalam perasaan sulit berpikir rasional. Saya yang tidak percaya dengan kemampuan saya sehingga sering bergantung pada orang lain. Saya yang selalu meragukan setiap keputusan saya sehingga sering berubah-rubah. Saya yang terlalu berpikir pendek dan tidak menyeluruh, tidak taktis. Saya yang sering mengabaikan setiap kesempatan hanya karena saya tidak suka dengan suatu cara. Pada intinya, saya manja.

Selama duapuluh tahun lebih saya hidup, saya baru menyadari hal ini. Mungkin orang-orang di sekitar saya tidak berani mengatakan hal ini meskipun mereka terganggu dengan sifat saya. Mungkin mereka diam-diam mengeluh dalam hati. Dan saya rasa saya tidak bisa terus-menerus membiarkan diri saya pasif dan menunggu orang lain menunjuk apa kesalahan saya, apa yang harus saya perbuat, dan apa konsekuensi dari segala sesuatu yang saya lakukan. Saya adalah motor kehidupan saya, saya yang menjalaninya, dan harusnya saya adalah orang yang paling tahu dengan diri saya.
Saya harus lebih mandiri.
🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: