Saya ‘HaMiL’

Bulan merah saya terlambat mampir dua minggu. Mungkin enam minggu. Entahlah saya lupa. Kapan janji bulan merah, saya tidak terlalu sering ingat. Malahan ada orang lain yang mengingatkan saya, kapan dia datang. Kalau teman saya yang lucu dan heboh, Inayah Agustin, mengalami pembunuhan berdarah panas, mengalir-ngalir dengan sukses. Lain halnya dengan saya. Kata dia yang bertanya-tanya jadwal apel saya, ‘elo mampet.’ Dan dia tampak lebih concern daripada saya. Sudah seminggu sebelumnya, dia menyuruh saya pergi ke dokter. Tentunya ginekolog. Saya tidak terlalu menghiraukannya karena saya pikir toh minggu depan bulan merah melepas rindu dengan saya. Tapi sampai saya melayangkan blog ini, ‘pacar’ saya masih termangu di ujung jalan.

Alhasil dia menyuruh saya pergi ke dokter lagi. Sepertinya dia benar-benar khawatir. Dua kali SMS.

Message (in): Ya kdokter aj
Time : 14:56

Saya tidak membalas.

Message (in): Tanya2 aj k doktr mana gt
Time : 15:05

Dan kali ini saya setuju. Mulailah saya mengirim pada teman-teman yang saya rasa punya informasi yang saya butuhkan.

Format SMS:
(nama orang yang di-SMS), lo tau ginekolog yg ok ga? Jadwal bulanan gue gak teratur nih.

Saya mengirim SMS ke tiga orang. Respon pertama kali yang saya dapat, saya langsung ditelpon. Orang ini menyarankan dokter di Medistra. Di akhir telepon, “hayo kamu ngapain yo…” Saya balas saja, “Nah kalo dapet undangan kawinan asik kan.” Dari pertama saya sudah sadar, bertanya soal ginekolog sama saja dengan mempublikasikan bahwa saya mungkin hamil walaupun saya belum tentu ke sana dengan maksud seperti itu. Respon kedua, SMS, “lo terlambat brapa minggu?” Sepertinya netral. Tapi tunggu dulu. Ternyata orang ini mengirim SMS lagi ke dia yang khawatir tentang tamu saya. “Mau diremove atau yang mana nih?” Begitu kira-kira. Respon orang ketiga, SMS, panjang. Jadi disingkat saja. Kira-kira begini, “Tenang jangan panik dulu. Lo pernah telat sebelumnya gak? Beli test pack aja dulu. Udah?“.

Inilah mengapa saya malas sekali ke ginekolog. Saya tidak bisa membayangkan tatapan segala orang di rumah sakit yang melihat saya di ruang tunggu, dengan segala hal yang mungkin muncul di kepala mereka. Yang saya percaya walaupun detailnya berbeda, intinya sama. “Hah, masih muda udah hamil?” Mungkin ini disebabkan jarang perempuan pergi ke ginekolog cuma memeriksa kondisi kesehatan alat reproduksi seksualnya. Lebih sering mereka pergi untuk memeriksa kehamilan.

Dengan membuat alasan yang paling tidak berkesan lebih “mulia” daripada ketakutan prasangka orang lain, saya memutuskan untuk menunda kunjungan ginekologis. “Toh saya pernah mengalami ini sebelumnya. Saya pernah dengar orang yang di bawah berat badan normal, biasa siklus menstruasinya tidak teratur. Dan berat saya cuma berkisar 37-40 kg.”

Jadi ingat kuliah Psikologi Sosial II tentang prejudice. Sekarang saya jadi target. Awalnya saya pikir saya bisa cuek. Tapi ternyata sekarang saya termakan juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: