chicklit picisan(2)

Saya adalah perempuan yang ditinggalkan. Segelas kopi hitam dan sejumput kenangan. Emas permata digelar di bawah kaki saya. Tangan-tangan menyembah dan berebut-rebut menyentuh pinggang saya. Seorang laki-laki membawa sebagian hati saya dan memecahkannya berkeping-keping, dan melempar pecahannya di laut biru, hanya dalam seahad. Saya hilang. Saya bungkam.

Saya adalah perempuan yang ditinggalkan, kemudian memilih meninggalkan. Karenanya saya terus bersembunyi di balik senyum dan air mata. Agar tak ada orang yang menyelami dan menyentuh saya. Namun pada suatu senja, saya bertemu dengan seorang laki-laki. Ia memperhatikan saya memupuri wajah saya dengan bedak. “Geisha,” katanya. Saya tersentak. Dan saya melihat matanya yang seakan hendak menggali dasar saya, Saat itu saya hanya diam, diam penuh tanda tanya. Siapa dia? Dia yang mengabadikan potret saya di bawah temaram cahaya kuning. Saya tak sadar, pertemuan hari itu mengubah nasib saya. Lewat percakapan yang bergulir sepanjang malam, malam-malam pendek, ia menceritakan kisah hidupnya. Hidup yang sudah ia jalani sejak tigabelas tahun sebelum saya lahir.

Ia adalah laki-laki yang ditinggalkan. Seorang perempuan, satu tahun lebih tua daripada saya, membawa sebagian hatinya dan memecahkannya berkeping-keping, setelah dua tahun lamanya mereka bersama. Ia menukarnya dengan laki-laki lain yang kemudian juga meninggalkannya. Mereka berdua adalah orang-orang yang ditinggalkan. Bersembunyi di balik senyuman dan malam-malam penuh kemesraan. Saling mengikat. Kemudian saling menyerang. Saling melukai. Terjebak dalam hasrat semu.

Ia adalah laki-laki yang ditinggalkan, kemudian memilih meninggalkan. Ia lelah, ia berdarah, ia muak. Ia berusaha mencari hidup baru, lari dari bayang-bayang yang selama ini selalu mengejarnya. Setiap malam. Setiap pagi. Setiap detik kehidupannya. Episode-episode panjang, bertubrukan dalam kepalanya. Melukai terus hatinya yang rapuh. Hingga borok jadinya. Saya ingin menghapus luka itu dan menggantinya dengan hati yang baru. Kisah yang baru. Kebahagiaan baru. Yang membebaskan. Yang mampu membawa kami berdua menyentuh surga.

Ia merasa dirinya sudah siap. Dan ia mulai membuka dirinya untuk saya. Dan saya membuka diri saya untuknya.

Saya. Anda. Aku. Kamu. Kami?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: