Monthly Archives: August 2006

reassure

bagaimanakah caranya mengubah kembali suatu yang sudah terjadi? jawabannya, kalau Doraemon hanya buaian tidur, jelas tidak mungkin. hari ini saya secara spontan membuat penawaran. sebenarnya hal ini tidak saya rencanakan. murni muncul dari sesuatu yang mendadak terlintas di pikiran saya. mungkin karena ada stimulus repetisi yang membombardir kepala saya. padahal kalau saya pikir-pikir sekarang, saya kemungkinan akan menyesalinya. setelah saya kaji lagi dari pengalaman saya yang lalu, keputusan saya jelas salah dan kemungkinan besar kesalahan dan kekesalan di masa lalu akan terulang lagi.

saya hendak membatalkannya namun saya berpikir lagi. everything happens for a reason right? siapa tahu kali ini segala sesuatu bisa berubah, siapa tahu saya melakukan hal yang benar. pasti anda berpikir saya sedang melakukan defense mechanism. mungkin saja. tapi saya tidak berhenti hanya sampai di situ. saya memutuskan untuk melakukan assessment lagi untuk mengkonfirmasi keputusan saya.

satu kepala ditambah lagi. ingat Kontes, Kontiers? satu kelompok tiga orang. atau… ingat lagi Triumvirat I & II jaman Romawi? konon power comes in three. kalau saya pikir, dua orang saja sebenarnya bisa menghasilkan banyak ide. tapi keberadaan orang ketiga bisa membuatnya lebih baik. ia dapat berfungsi sebagai penyeimbang. persoalannya apakah segala sesuatu sudah ditaruh dengan tepat?

salah satu tolok ukurnya adalah motivasi per individu terhadap tujuan kelompok. ingat kontes…

Motivation is a term referring to the driving and pulling forces which result in persistence behavior directed toward certain goals (Morgan, 1986)

tiga domain behavior penting di sini:

  • driving and pulling forces: kekuatan dorongan dari dalam
  • persistence: ketahanan atau ketekunan
  • directed toward certain goals: mengarah pada tujuan

kalau diturunkan lagi dalam bentuk indicants…

  • apakah ia benar-benar berniat menjalankan tugasnya
  • seberapa besar daya juangnya atau apakah ia pantang menyerah dalam menghadapi tantangan atau masalah
  • apakah hal yang dilakukannya sudah sesuai atau mengarah pada tujuan

tentunya indicants ini tidak bisa langsung ditanyakan mentah-mentah begitu saja karena kemungkinan besar 99% jawabannya akan mengarah pada social desirability atau faking good (or bad?). bagaimana? pinjam sedikit teknik proyeksi untuk wawancara (atau ngobrol-ngobrol) alias pakai pertanyaan-pertanyaan yang tersamar tujuannya. dan tentunya observasi. hehehe… rasa-rasanya fakultas saya membekali saya dengan kuliah yang cukup berguna juga. 🙂

kenapa motivasi penting? kalau motivasi nol, kemampuan ada, tidak ada gunanya. kemampuan itu hanya bersifat potensial, tidak terealisasi dalam bentuk tingkah laku nyata yang mengarah pada tujuan. tapi kalau motivasi ada, kemampuan kurang, masih bisa diasah. orang yang bermotivasi tinggi pasti akan melakukan segala cara agar tujuannya tercapai. salah satunya, belajar.

dan kalau motivasi nol dan kemampuan nol?
selamat tinggal.

kenapa saya melakukan assessment semacam ini? sebagai ringkasannya,
pertama, saya ragu dengan keputusan saya.
kedua, tidak mungkin mengandalkan intuisi saja. harus ada informasi objektif dalam menilai sesuatu. rasanya tidak etis.
ketiga, saya harus mengatasi keraguan saya agar saya dapat melakukan segala sesuatu dengan lebih baik di kemudian hari.

Advertisements

untuk kekasihku

malam-malam
mari bertemu di balik selimut
menari-nari
sampai dunia tak kelihatan lagi

malam-malam
kita menuai badai
memaksa tangis dalam sendu
berkasih-kasihan
dan matahari merasuk hati kita

kekasih cinta
pasak-pasak yang tertanam di antara kita
jangan sampai kau terantuk
jangan pula kau seret aku ke dalamnya
mari kita saling menjaga
bergandengan tangan
hingga air mata tak menetes lagi

OLiPH
Jakarta, 16 Agustus 20067:59 AM