Panci Gosong

Seperti hari yang sudah-sudah, satu hari bisa jadi paradoks buat saya. Saya bingung mesti memaknai hari itu jadi hari keberuntungan atau kesialan. Kalau mau ditimbang-timbang, saya juga sulit hati. Dua-duanya sama beratnya. Bingung juga.

Dari dulu, saya selalu bilang sama diri saya dan teman-teman, kalau ada yang tanya. Cita-cita saya gak neko-neko, cuma ingin hidup bahagia. Konsep bahagia untuk saya… Senang selalu, tidak perlu susah hati, atau pusing memikirkan masalah. Apa yang saya inginkan tercapai, saya bahagia sudah.

Kadang-kadang keinginan saya melibatkan orang lain. Orang lain harus berbuat sesuatu supaya saya puas, supaya saya senang. Saking saya ingin ‘bahagia’, kalau orang itu menolak, saya punya seribu cara supaya dia mengiyakan saya. Tapi kalau orang itu memang benar-benar tidak bisa, saya urung niat. Saya simpan saja uneg-uneg di hati. Walaupun begitu, lama-lama orang itu lelah juga. Dan akhirnya ia jatuh terjerembab. Saya jadi susah hati sendiri. Merasa bersalah, pasti. Merasa sedih kalau orang itu saya sayang.

Pernah saya menonton episode-episode awal Judge Bao. Ceritanya tiga orang laki-laki yang memperebutkan seorang perempuan dengan caranya masing-masing. Yang satu, mencintai tapi membius istri supaya bercinta dengan laki-laki lain gara-gara dia impoten dan dia didesak oleh ibunya untuk segera punya anak. Kalau tidak, ia diancam harus bercerai dari istrinya. Ibunya sendiri sudah bersiap-siap cari calon istri baru. Yang kedua, memaksa walaupun si perempuan menolak. Perempuan membela diri tapi malah dituduh berniat membunuh. Yang ketiga, mencintai perempuan itu sepenuh hati, rela berkorban meski harus membunuh banyak orang demi melindungi perempuan itu. Akhirnya ia dihukum mati oleh Judge Bao. Menghadapi semua itu, perempuan itu hampir gila. Bengong seharian, bergumam-gumam sendiri. Di akhir kisah, Judge Bao berkata, tiga orang laki-laki mencintai satu orang perempuan. Namun cinta mereka egois. Tak satupun yang mau tahu apa yang sebenarnya keinginan hati perempuan itu.

Saya pikir-pikir, jangan-jangan keinginan saya untuk bahagia membuat orang yang saya sayangi menderita. Jangan-jangan kasih sayang saya egois. Saya ingin bahagia cuma untuk diri sendiri. Untuk hidup saya sendiri.

Tapi kembali lagi, haruskah hidup kita selalu bahagia? Waduh. Pengennya sih begitu. Tapi kalau dipaksakan, bisa jadi stress sendiri. Lama-lama seperti panci, yang gara-gara ditinggal di atas kompor, jadi gosong. Masih mending kalau itu punya sendiri, kalau punya orang lain?

Siap-siap ditimpuk orang sekampunglah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: