Monthly Archives: August 2007

fashion-freak-wannabe

Saya suka sekali fashion! Hampir setiap kali online, saya membuka website-website fashion. Urutannya, e-mail. Kedua, friendster. Ketiga, antara http://www.style.com, http://www.instyle.com, atau http://www.eonline.com/fashion. Saya juga langganan nonton style channel. No 43, kalau pake provider kabelvision.

08 Undoubtly I love to dress up. Bereksperimen sana-sini. Misalnya, oversized tee The Beatles warna hitam (XXL), dipadu ikat pinggang pita besar Giordano (warna fuschia), dan ballerina flat shoes (brown nubuck). Yeah, saya jadikan dress (mumpung saya orangnya pendek). Alasan saya? Selain urusan pengekspresian kreativitas, urusan duit juga masuk hitungan.

Reaksi orang macam-macam: ada yang bilang ‘aneh’, diam saja tapi melotot, ada juga yang bilang ‘bagus’. Saya akui, eksperimen saya juga tidak selalu berhasil. Di depan cermin, saya berusaha bilang ok and it’s work, but only for a while. Di tengah jalan, saya baru menyadari bahwa eksperimen saya gagal. Awalnya saya risih, tapi lama-lama biasa saja. Toh saya tak mungkin telanjang kan. Hehehe.

Betapa rese-nya saya terhadap penampilan saya. Tapi ternyata saya masih punya energi untuk orang lain. Saya bisa sibuk memaki-maki dalam hati kalau ada orang yang pakaiannya salah (menurut saya lho). Saat saya duduk di bus Transjakarta, saya pernah lihat sekelompok remaja laki-laki bergaya punk. Salah satunya ada yang pake anting ala punk, T-shirt ketat, celana pendek, dan stocking. Saya sebenarnya suka melihat orang yang berani tampil beda. Tapi kali ini saya sakit mata. Stocking-nya bolong-bolong. Hampir sobek malah. Rasanya saya pengin bilang sama dia, “saya masih punya stocking nganggur di rumah, kamu mau?” Padahal siapa tahu dia senang begitu. Bahwa stocking bolong punya arti sendiri buat dia. Tapi tetap saja saya gemas.

Kalau dipikir-pikir lagi, saya juga begitu untuk urusan selain fashion. Saya merasa bahwa standar saya menyimpang dari norma umum dan tentunya semua yang menyimpang bisa saya terima juga. Nyatanya tidak. Saya berusaha mencocokkan segala sesuatu sesuai dengan standar saya. Saya susah menerima bahwa orang punya standar yang beda dengan saya. Penerimaan saya terhadap sesuatu mungkin lebih besar daripada orang pada umumnya. Tapi begitu ada hal-hal yang busat saya kelewatan, saya bisa sama cerewetnya dengan ibu-ibu tukang gosip.

Sekarang mungkin saya belum merasa capek dengan kebawelan saya. Nanti-nanti belum tentu. Jangan-jangan nanti saya stres sendiri gara-gara orang lain. Padahal orang yang saya pusingkan, nyantai-nyantai saja. Ketika saya ributkan dengan orang itu. yang ada malah jadi masalah, yang bisa jadi sebenarnya bukan masalah tapi saya ruwetin sendiri.

Boros energi dong. Tenaga saya yang bisa saya gunakan untuk hal-hal yang berguna, tersedot untuk masalah yang tidak ada ujungnya. Siapa tahu kalau saya tidak begitu, saya sekarang sudah bisa jadi ambassador, penulis, aktivis, fashion stylist (?) atau apa sajalah yang bisa membuat saya bangga pada diri saya.

Intinya, lihatlah ke dalam dulu. Seperti sebelum belanja, kita mengecek dulu apa yang sudah habis di dalam rumah. Apa yang kita butuhkan. Sebab jika tidak, kita akan terdorong impulsivitas berbelanja dan akhirnya uang terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tak perlu. -o-

Marc_jacobs_fall_2007_01 My lust: Marc Jacobs – Fall 2007

Advertisements

Masalah Ganti Popok dan Cebok Sendiri

Hari Jumat minggu lalu, rumah saya kebanjiran. Sedengkul, masuk rumah. Baunya amis, bikin pusing, sehingga saya mau tak mau menerima tawaran tante saya untuk menginap di rumahnya. Menerjang arus air sedengkul, saya berjalan kaki ke rumah tante saya yang kompleksnya masih sama dengan saya. Bloknya banjir juga tapi tidak masuk rumah.

Tapi sialnya malamnya hujan deras. Jam 1 malam, saya yang sedang asyik-asyiknya lelap, dibangunkan dengan teriakan-teriakan panik. Beberapa menit kemudian, saya sudah ada di rumah tetangga tante saya. Rumahnya lebih tinggi dari tante saya, jadi dia tidak kebanjiran. Plus dia punya diesel. Jadi kami tidak merasakan susahnya tiada listrik dan air bersih. Rasanya bukan seperti kamp pengungsian. Kami lebih seperti kumpul ramai-ramai, yang jarang kami lakukan karena sibuk dengan urusan masing-masing.

Highlight: O L I V I A. Yang lebih dari setengah hidupnya dihabiskan di ‘jalanan’. Pulang ke rumah cuma untuk tidur. Keluarga saya sudah menyerah menyuruh saya diam di rumah. Karena saya memang tidak suka di rumah. Saya tidak terlalu suka mengobrol dengan keluarga. Seandainya saya di rumah, saya lebih asyik dengan diri sendiri, seperti menonton DVD, main internet. Keluarga saya jarang sekali makan bersama. Saya pun lebih suka makan sendiri. Saya lebih suka ngapa-ngapain sendiri. Tidak usah ribet memikirkan orang lain.

Selama banjir, saya benar-benar pusing. Ketar-ketir dengan sepatu di rumah, yang nyatanya memang tinggal sedikit (hanyut, rusak, dan sebagainya). Harus menahan rasa tidak nyaman saya, bertahan dengan banyak orang di suatu ruangan yang sama dalam waktu yang lama (empat hari). Mumet mendengar acara TV yang mengulas banjir. Khawatir dengan orang yang disayangi, takut-takut dia kebanjiran. Plus, harus menahan urat malu menginap di rumah orang yang pernah saya tolak dengan tidak manusiawi.

Kejadiannya sudah lama, ketika saya masih sekolah. Saking lamanya, saya sendiri lupa, apakah waktu itu saya berseragam putih biru atau putih abu-abu. Ya sekitar situlah. Saya lagi bertamu di rumah tante saya. Tetangga tante saya, sebut saja X, usianya kira-kira satu tahun lebih tua dari saya, datang ke rumah tante saya. Newbie di blok itu. Dia minta kenalan, karena ingin punya teman sebaya. Saya mengiyakan.

Besok-besoknya, saya main di rumah tante saya lagi karena saya waktu itu senang mengobrol dengan tante saya. Saya lebih dekat dengan tante saya daripada orangtua saya. Dari dulu. Sejak tante saya masih menumpang di rumah orangtua saya sampai ia menikah dan punya rumah sendiri. X mengajak saya menonton, The Beach. Saya mengernyitkan dahi. Buat saya yang waktu itu super konservatif, ajakan dia tidak cocok dengan frame saya. Buat saya, mengajak menonton berdua itu intimate moment. Cuma bisa dilakukan dengan orang yang sudah dekat. Sebelumnya saya mendengar dari pembantu tante saya, dia suka saya. Maka saya ambil kesimpulan, bahwa dia berteman dengan saya karena dia punya maksud. Penaklukan diri saya. Saya sangat kesal. Saya tidak suka pertemanan yang ada embel-embelnya.

Dan akhirnya, saya menolak. Saya bilang saya sudah nonton (memang saya sudah nonton di VCD), tapi dengan dingin. Tidak mau melihat ke dia. Berharap dia mengerti bahwa saya sudah memberi lampu merah pada saya. Tapi dia tidak menyerah. Dia memang tidak mengejar-ngejar saya dengan menelepon, mendatangi rumah, dan sebagainya. Sekali-kali dia menelepon, tapi tidak pernah berhasil berbicara dengan saya karena saya sudah memberitahu orang tumah bahwa saya tidak mau menerima teleponnya. Satu-satunya cara dia bertemu saya adalah pada saat saya main ke rumah tante saya. Itupun cuma pada saat saya sedang di pintu rumah tante saya. Kalau saya sudah masuk, sudah dipastikan, kalau dia mencari-cari saya, saya tidak keluar. Pada hari Valentine, saya masih diberi coklat (kalau saya tidak salah ingat). Tapi coklat itu berakhir di mulut pembantu saya yang doyan ngemil.

Kemudian saya tidak bertemu dia lagi. Saat-saat itu, saya jarang main ke rumah tante saya lagi karena sibuk dengan tugas-tugas dan kegiatan lainnya. Sampai akhirnya seminggu kemarin, saat banjir. Dia tidak banyak bicara pada saya. Saya menghindar dan tentunya diapun tahu. Dia sempat bertanya tentang kuliah saya. Namun pembicaraan tidak pernah berlanjut karena saya cuma menjawab seadanya. Dia menawarkan meminjamkan buku novel. Saya menyuruhnya untuk membaca novel itu sampai selesai, baru saya akan pinjam. Tapi saya tidak pernah benar-benar meminjamnya. Saya tidak membawa novel itu saat saya pindah lagi ke rumah tante saya (karena air sudah surut). Saya baru ingat bahwa saya pernah mengiyakan tawarannya beberapa hari kemudian.

Selama saya mengungsi di rumahnya, saya mendengar banyak cerita tentang X dari pembantunya yang tampak sudah seperti ibunya sendiri. Saya baru tahu bahwa dia anak angkat dari pemilik rumah yang baru sekitar dua minggu meninggal. Ayah angkat X membiayai persalinan ibu X. X tinggal bersama dengan orangtua kandungnya namun ia sudah mengenal ayah angkatnya. Ketika dia menginjak SMP, dia pindah ke rumah ayah angkatnya karena rumah itu lebih dekat dengan sekolahnya. Saya juga mendengar cerita mantan pacarnya yang terus merongrong. Yang suka mengatur-ngatur dan menyuruh X melakukan ini itu sambil menyumpah-nyumpahi ayah angkat X. Saya juga mendengar X suka membantu orang lain seperti ayahnya.

X menyuruh pembantunya untuk memasakkan kami apa saja yang kami inginkan. Mendengar itu, saya langsung merasa diri saya rendah. Orang yang saya perlakukan dengan tidak hormat, masih mau menampung kami dan berusaha memikirkan kebutuhan kami. Setiap pagi, dia pergi mencari solar untuk bensin walaupun dia harus melewati banjir. Dan X tidak mau menerima uang yang kami berikan. Pendek kata, di pikiran saya ‘rasain lo!’. Orang yang saya jauhi, malahan orang yang membantu saya saat kesulitan.

Kemarin saya ngobrol dengan teman saya yang super ajaib. Super jayus, tidak jelas, tapi sangat pintar dan menyenangkan. Kata-katanya panjang, saya tidak ingat persisnya. Intinya, setiap orang punya frame standar sendiri. Perilaku saya dengan maksud P, belum tentu dimaknai orang lain sebagai P. Begitu pula orang yang melakukan sesuatu dengan maksud Q, bisa saja saya tafsirkan R. Itu adalah hal yang biasa, apalagi jika kita memilih untuk keluar dari segala sesuatu yang normatif dan mau tak mau kita punya frame standar sendiri. Dengan kata lain, bisa saja saya salah menafsirkan ajakan X untuk menonton. Bisa saja saya punya penilaian yang salah tentang X.

Kalau saya menemui orang dengan standar perilaku yang berbeda dengan saya, saya punya dua pilihan ekstrim. Pertama, mengonfrontir, terus terang bahwa saya tidak nyaman dengan perilakunya. Kedua, membiarkan begitu saja selama tidak mengancam keselamatan diri. Kalau kita begitu saja menjauhi, bisa saja ada resiko yang merugikan kita. Terutama apabila orang itu mempunyai pengaruh besar terhadap kita di depannya nanti. Secara simpel, kalau saya ternyata butuh bantuan dia untuk survive, gimana? Dalam masalah pengungsian ini, masih untung X mau membantu. Kalau orang lain? Belum tentu.

Seperti yang lalu-lalu, saya diam-diam membenarkan perkataan dia (bener kata Iin: kok lo pinter banget sih?). Saya tidak bisa lagi seperti anak kecil, ‘Pokoknya gue maunya begini, harus begini!’. Orangtua tidak lagi menggantikan popok saya saat kencing di celana ataupun membersihkan tahi saya yang berceceran di lantai. Saya sendiri yang harus cebok sendiri dan berjaga-jaga agar tahi saya tetap dibuang di kloset.

Mari Cerahkan Diri Kita!

[COMMERCIAL BREAK]
Iklan produk pemutih. Dalam waktu empat minggu, akan tampak lebih putih (katanya). Kemudian sang model tiba jadi empat orang, dengan wajah yang sama tapi warnanya beda. Gradasi seperti kain yang di-bleach. Paling ujung, paling putih. Muka tadinya ditekuk, jadi senyum. Ditambah pula decak kagum orang-orang. Tambah sumringah dong.

[STARRING: MYSELF]
Dengan niat mau bleaching mood saya yang lumayan berantakan minggu-minggu terakhir ini, saya memaksa diri pergi ke salon nun jauh di sana. Hujan. Bodo amat! Ayah saya bingung kenapa saya harus pergi jauh-jauh hanya untuk potong rambut. Sederhana, saya tidak gampang percaya orang. Apalagi potong rambut itu saat-saat yang dramatis buat saya yang perempuan. Rambut berubah, tampilan berubah. Kalau bagus, senang. Kalau jelek, manyun karena saya harus menunggu dua tiga bulan rambut tumbuh supaya saya bisa potong rambut lagi. Dan benar saja. Mood saya langsung jadi bagus. Ketemu orang yang tadinya cuma manyun-manyun, sekarang jadi lebih ceria. Saya jadi bawel lagi sampai Bob mau lari (parah donk). Kalau udah panjang dan ada duit, nyalon lagi ah….

[ENLIGHT ME PLEASE]
The Illusionist
Gedung pertunjukan. Orang-orang menunggu. Tirai merah dibuka. Orang menghela napas. “Ladies and gentlemen, I give you Eisenheim”. Pembukaan. Saya lupa tepatnya, tapi kira-kira begini. Hidup kita akrab dengan waktu. Kita membuat batas waktu, jadwal, menjadikan waktu sebagai penanda. Tapi kita tidak pernah bisa memanipulasi waktu. Or can we? Eisenheim potong jeruk. Ambil bijinya. Taruh di atas pot. Eisenheim menaruh tangannya di atas pot. Tiba-tiba pohon jeruk tumbuh. Wow. Gemuruh tepuk tangan. Besoknya, opsir polisi, salah satu penonton, bertanya, saya pernah dan sering nonton pertunjukan semacam ini. Tapi kali ini beda. What’s your trick on that orange tree? Eisenheim: I’ll show you one of my favourite. Dia memberikan sebuah bola kecil pada opsir itu. Dia membalikkan badan. Menyuruh opsir menggenggam bola itu di salah satu tangannya kemudian menaruh tangan yang isinya bola di dahi. Tangan kembali ke posisi semula. Eisenheim balik badan. Menebak. That one. Bingo! There’s the ball. Is that a magic? Witchcraft? Nope. Ketika tangan mengenggam sesuatu dan memegang dahi, tangan itu akan lebih pucat. That’s how you do it. Orang-orang yang tidak bertanya, tidak tahu. Mengira dia penyihir. Nope. He’s merely an illusionist, penemu jenius.

[FOR I LAY MY VENGEANCE UPON YOU]
What is anger, rage, and whatsoever? Kalau kita percaya teori Darwin, marah adalah mekanisme pertahanan diri kita. Supaya kita bisa lolos seleksi alam dan hidup selama mungkin. Burung onta curiga dengan leopard yang mendekat. Marah. Tendang. It survived.

Tapi di manusia, marah tidak sesimpel itu. Manusia punya mekanisme yang berbeda. Dia punya pemikiran yang lebih kompleks, untuk tidak menyebut neko-neko. Marah di manusia bukan cuma urusan mempertahankan nyawa, tapi juga urusan harga diri, pencapaian hidup, keinginan, moralitas, dan sebagainya. Sebagai konsekuensinya, marah manusia juga hilangnya tidak secepat binatang. Manusia kenal dengan dendam. Kemarahan yang dipendam-pendam sampai akhirnya meletus. Makanya sekarang dalam dunia peradaban manusia, dua menara kembar tewas diseruduk burung besar (pesawat maksudnya).

Karena kompleks, sekali lagi ada kemungkinan terlalu ruwet. Jadi suka meleset. Ke kiri dikit, dikit lagi, tapi bisa juga melenceng jauh. Mungkin pikirnya orang lain saja yang salah, dirinya juga salah. Ini mekanisme yang wajar saja. Kalau ketemu yang tidak sesuai dengan kepinginan, pastinya merasa terancam. Supaya tidak terlalu parah, bagi-bagi sama orang lain. Bukan berarti orang lain juga gak salah lho. Bisa saja salah. Tapi maksud saya, yang menjadikan orang lain sebagai pusat masalah. Padahal validitasnya sangat diragukan. Bisa saja informasi yang diterima kurang lengkap, jadi salah paham. Bahkan bisa saja informasinya salah.

Wajar saja manusia salah paham. Konon Tuhan mengutuk manusia dengan merobohkan Babel dan mencerai beraikan manusia sehingga manusia bahasanya beda-beda. Begitu marahnya Tuhan pada manusia yang ingin menyamai Dia, sampai-sampai orang yang bahasanya sama bisa tidak mengerti apa yang dimaksud satu sama lain. Tapi akan jadi gaswat, kalau yang empunya marah tidak berusaha cari informasi lagi. Lama-lama bisa merasa tertindas. Lalu dendam.

Padahal dendam itu sebenarnya usaha menyiksa diri yang paling kejam lho. Kalau orang dendam, berarti dia menganggap dirinya korban. Jadi korban kan tidak enak. Masa perasaan yang tidak enak dipelihara terus? Jangan-jangan yang didendami hidup tentram, aman, dan nyaman. It’s not worth it, isn’t it?

Mendingan “dunia cerah dan segala keindahannya, kan kucoba semua uu uu uu” (AB Three – iklan lux jaman saya putih merah)

So…

Mari cerahkan diri kita!

(Akhir-akhir ini saya sering merogoh kulkas tengah malam. Celana saya sudah agak sempit. Mungkin saya harus diet supaya jadi lebih cerah, secara berat dan dompet)

GOSIP

Gosip. Pasti kita akrab dong dengan ini, apalagi yang hobi nonton infotainment. Atau yang sering ngumpul sama cewi-cewi? Rasanya kurang mantep kalo gak ngomongin gosip.

Sebetulnya apa sih gosip itu? Kalau kata kamus Bahasa Inggris, gossip itu turunan kata dari gossipry, artinya percakapan dengan teman-teman dekat. Konotasi gosip negatif sejak pertengahan abad XIX sejak persahabatan yang romantis udah mulai ramai dibicarain.

Sekarang kita mendefinisikan gosip itu jadi

a report (often malicious) about the behavior of other people

Kemaren saya ngumpul-ngumpul bareng-bareng teman-teman saya. Wah maklum udah lama gak ketemu, ngobrolnya lumayan panjang. Ngomongin kabar kita masing-masing, sedikit curhat, dan gak lupa, GOSIP. Kadang-kadang curhat itu kecampur dengan gosip. Misalnya, teman saya sedih karena kelakuan seorang pejantan. Otomatis kelakukan pejantan yang buruk itu dicurhatin juga. Maka jadilah gosip. Tapi sering juga yang memang cuma gosip. Alias tidak ada hubungan dengan urusan sakit hati, tapi asik saja ngomongin kejelekan orang lain.

“Eh lo kenal si X ga?”

“Kenal”

“Menurut lo, dia orangnya gimana?”

“Baik. Kayaknya sering bantuin orang. Dengerin orang curhat trus nasehatin orang.”

“Nah lo kenalnya dia yang sering nasehatin orang soal cinta-cintaan kan. Tapi tau gak? Dia itu posesif banget lho sama ceweknya. Cemburu melulu. Trus kalo ceweknya pergi ama temen-temennya, dia maksa ikut. Kalo gak dikasih tahu, ngambeg, alasannya ‘Gue kan cowok lo’. Padahal ceweknya itu emang males sama dia soalnya dia suka aneh. Dia kan cuma jago kandang. Di luaran, dia gak ada apa-apa.”

Wah. Tambah informasi nih. Jadi dia ternyata aslinya begini lho. Di kepala saya langsung muncul dua meteran panjang. Tadinya saya di posisi tengah, agak ke bawah dan dia yang ada di posisi atas. Setelah dengar gosip dari teman saya, posisi saya naik ke atas dan posisi dia jadi di bawah saya. Wow, ternyata saya (merasa) lebih baik dari dia. Ternyata ada orang yang lebih aneh dari gue lho. Kalau saya pikir-pikir lagi, mungkin banyak orang yang suka gosip karena itu. Paling kelihatan jelas kalau “Ih gue mah gak gitu, kalo gue…”. Ya, saya sering juga melakukannya. Asik sih. Hehehe.

Ternyata urusan gosip bisa lebih dari ini. Baru-baru ini teman saya yang sakit hati dengan suatu oknum yang disebutnya public enemy, melancarkan serangan terbuka terhadap oknum ini, lewat open press di internet (baca: blog). Menurut teman saya itu, yang ia tulis sudah bukan gosip lagi, tapi sudah jadi fakta karena banyak orang yang sudah mengkonfirmasi cerita itu benar. Kata teman saya, sudah teruji validitasnya. Semua teman-temannya punya akses terbuka untuk baca ‘pengumuman’ itu. Dia memang tidak menyebut nama (cuma sebut julukan). Tapi semua orang tahu bahwa yang dimaksud adalah orang tersebut. Alasan dia bukan ingin memberitahu orang-orang bahwa dia lebih baik dari orang itu. Tapi dianya memang sudah kepalang tidak bisa menahan diri lantaran orang yang satu ini menyebabkan kepanikan satu rombongan (baca: gang).

Pertama, oknum ini mengancam keamanan seorang teman, yang juga adalah teman saya. Kedua, oknum ini membahayakan nama baik teman-teman baik teman saya, termasuk teman saya itu. Ketiga, menganggu stabilitas emosi pada saat teman saya dan teman-temannya sedang melakukan suatu pekerjaan yang taruhannya keringat dan darah. Keempat, oknum ini sudah diperingatkan dari yang masih bernada halus sampai benar-benar direct. Tapi sang oknum ini tidak sadar juga dan bahkan makin menjadi-jadi. Jadilah blog itu yang mengundang banyak kontroversi. Ada banyak yang setuju. Dan juga ada yang merasa terganggu, yaitu sang oknum sendiri. Untungnya urusan ini belum sampai urusan fisik. Tidak ada pertumpahan darah (setidaknya sampai sekarang ini). Tapi kalau menurut saya, bisa jadi ada perang dingin, antara teman saya bersama satu gengnya dengan sang oknum yang mungkin sudah menjaring massa. Jadi ingat Perang Dingin Blok Barat dan Blok Timur. Sejarah memang terulang walaupun skalanya berbeda.

Mau tak mau, proses empati bekerja di situ. Saya membayangkan bagaimana perasaan saya jika berada di posisi teman saya. Setelah saya baca blog itu, saya yang masih netral terhadap oknum itu, jadi lumayan berpihak ke teman saya. Bukan tak mungkin, sang oknum merancang serangan balasan. Bikin gosip tentang teman saya itu sehingga orang-orang pendapatnya jadi negatif teman saya. Sangat mudah lho memutarbalikkan cerita yang tanpa bukti fisik. Bahkan di negara kita tercinta, Indonesia, yang ada bukti fisik juga masih bisa dimanipulasi kok. Yang penting uang. Money is power. Hm tapi gosip itu bisa juga jadi uang. Buktinya? Lihat saja infotainment-infotainment yang sering wara wiri di televisi. Kalau gak laku, bagaimana mungkin setiap stasiun televisi punya minimal dua acara infotainment.

Dalam urusan teman saya ini, mungkin power-nya adalah kualitas hubungan teman saya dan orang-orang. Kalau orang-orang percaya dengan teman saya, bukan tak mungkin sang oknum yang menggosipkan teman saya, berbalik dijelek-jelekkan orang-orang. Tapi bisa saja yang terjadi sebaliknya. Kalau power sang oknum itu lebih kuat, tentunya teman saya jadi kalah.

Saya pikir, wah hebat juga ya gosip. Bisa dipakai buat pemanis obrolan, bisa juga untuk perang. Pandangan orang terhadap sesuatu bisa berubah karena gosip. Kata orang, sekarang bukan jamannya lagi perang fisik. Sekarang jamannya perang informasi. Perang gosip!

3 tahun lagi ada AFTA. Orang harus bisa minimal dua bahasa asing jika tidak mau didepak dari uang. Berarti saya harus belajar satu bahasa lagi. Selain ngeri jadi pengangguran, saya juga tidak mau ketinggalan gosip antar bangsa dalam berbagai bahasa.