"Barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras"

Sejak SMA, saya tertarik dengan dunia sastra, termasuk puisi. Buat teman saya, puisi itu cuma buat orang pesimis, tapi buat saya, puisi itu indah dan menawarkan pengalaman yang membuat saya optimis. Ada kegilaan yang menawan di sana. Sebuah kebebasan ekspresi. Tanpa harus memaksa diri menjelaskan maksudnya secara gamblang, tanpa harus memaksa orang lain menginterpretasikannya dalam satu pengertian. Bukan basa basi, tapi refleksi mendalam yang bebas.

Hal yang justru sulit saya dapatkan ketika saya lahir sebagai manusia yang harus bermasyarakat untuk memenuhi takdirnya sebagai manusia. Dalam satu sisi, hubungan dengan manusia lain itu punya dinamika yang mewarnai hidup, fisik, emosi, jiwa, petualangan. Tapi di sisi yang lain juga “menawan” sebagian kebebasan, dimana saya harus berperilaku agar tidak menyakiti atau merugikan orang di sekitar saya, terutama orang-orang yang saya sayangi. Bukan keterpaksaan, tapi memang saya dengan sadar memilih untuk menjadi demikian. Menyakiti orang yang saya sayangi pada akhirnya membuat saya menyalahkan diri. Menyalahkan diri, bagi saya, merupakan momen dimana saya dengan sadar mendegradasi diri saya (menghukum diri). Polisi bisa dihindari, tapi lari dari diri sendiri? Untuk itu, mungkin saya harus merusak frontal cortex saya sehingga fungsi penilaian moral saya rusak.

Puisi “menjanjikan” dunia yang berbeda untuk saya. Kebebasan dan pengalaman yang membuat saya tergila-gila di dalamnya. Selain itu, puisi dapat membuat saya merasa berhubungan dengan orang-orang yang belum pernah saya temui, dan herannya tanpa kepura-puraan, tanpa kekangan. Jadi puisi membuat saya bebas tapi tidak “menghilangkan takdir” saya sebagai manusia. Kami saling berbagi lewat puisi, kami saling “menularkan” ide-ide refleksi kami, dan membuat pikiran serta kesadaran kami “berevolusi”.

Pagi ini, saya membuka buku puisi lagi, “Hujan Bulan Juni”, kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono. Halaman pertama, “Pada Suatu Malam”. Puisi ini ditulis pada tahun 1964 tapi buat saya, puisi ini hidup selamanya. Saya, hidup di tahun 2009, merasa terhubung dengan “ia” dalam puisi ini. Pencarian arti hidup dalam kesunyian, kerinduan akan memahami awal serta memahami akhir, pengharapan di antara hal-hal dalam hidup yang membuat ragu akan makna kehidupan itu sendiri.

“selamat malam, ia mengangguk, entah kepada siapa;
barangkali kepada dirinya sendiri. barangkali hidup adalah
doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras.
ia merasa tuhan sedang memandangnya dengan curiga;
ia pun bergegas.
barangkali hidup adalah doa yang …
barangkali sunyi adalah …
barangkali tuhan sedang menyaksikannya berjalan ke barat.”

(cuplikan bait terakhir “Pada Suatu Malam”, Sapardi Djoko Damono, 1964)

Barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. Mungkin saya baru bisa menemukan apa arti saya di dunia ini, apa makna hidup saya ketika hidup saya di dunia ini berakhir. Mungkin selama itu, saya tidak akan bisa lepas dari sunyi yang memabukkan, menimbulkan perih namun masih bisa membuat saya tersenyum dengan imaji-imaji yang saya punyai dengan diri saya sendiri. Dalam kebarangkalian ini, saya harus memelihara rasa percaya karena saya tidak ingin nantinya pada saat saya meninggalkan dunia ini, saya menemukan hidup saya penuh kesia-siaan. Yang bisa saya lakukan adalah merefleksikan hidup saya setiap malam sebelum saya mengakhiri hari. Miniatur kehidupan: awal kehidupan dan akhir kehidupan dari hal yang paling kecil, yaitu ketika saya “bangun” sampai saya “terlelap”. Saya akan merekamnya dalam media yang telah membuat saya jatuh cinta dalam kebebasannya: puisi. Saya namakan resolusi ini Project Mini-Life Bulbs.


courtesy of dailygalaxy.com

Advertisements
Tagged ,

2 thoughts on “"Barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras"

  1. and.i.try says:

    puisi menjadi benang yang menghubungkan apa yang kasat mata tidak terhubung 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: