Panggil Aku Kartini Saja

Panggil Aku Kartini Saja Panggil Aku Kartini Saja by Pramoedya Ananta Toer

My rating: 5 of 5 stars
Jujur saja, sebelum baca buku ini, ketika saya mendengar “Kartini”, asosiasi saya adalah parade baju daerah yang sering diadakan di sekolah-sekolah pada saat hari Kartini. Setelah mengenal sejarah, oh Kartini adalah perempuan pembela pendidikan, feminis tapi akhirnya terperangkap dalam poligami. Kartini seperti “overrated” dalam kamus saya pada waktu itu.

Tapi setelah membaca buku Pramoedya Ananta Toer ini, saya berpikiran lain. Ternyata persepsi saya tentang Kartini tak lain adalah hasil dari pembentukan persepsi yang diinginkan oleh politik etis. Mensensor dan hanya menampilkan sebagian dari pribadi Kartini. Kartini ternyata bukan saja pembela perempuan, dia punya jiwa patriot. Yang dia perjuangkan adalah melawan segala musuh yang mengakibatkan sengsara pada rakyat, termasuk feodalisme. Dengan segala keterbatasannya karena batasan dari ayahnya yang dicintainya, dia berjuang. Dia juga peduli dengan kesenian rakyat, seperti batik, seni pahat, dan sebagainya. Semuanya dipaparkan di buku ini.

Kalau dalam buku ini, cuma ada uraian tanpa argumen yang jelas, saya juga akan meragukan isi buku ini. Tapi inilah poin plus dalam buku ini, adanya bukti-bukti yang melandasi kesimpulan yang diambil. Singkatnya, ada argumen yang jelas. Kalaupun ada bukti-bukti sejarah yang hilang, penulis berusaha mencari referensi lain seperti dimensi sosiologi kultural untuk membuat dugaan-dugaan. Dugaan mana yang dirasa penulis lebih kuat, disertai dengan argumen yang kuat pula. Ketika saya membaca buku ini, saya seperti mengobrol dengan penulis. Jalan pikiran penulis begitu gamblang dituliskan. Dengan demikian, tidak hanya pembaca dapat mengenal Kartini tetapi juga dapat mempelajari serta berpendapat mengenai cara berpikir atau menarik kesimpulan dari penulis (Pramoedya Ananta Toer).

Kelebihan buku ini juga adalah adanya pembahasan khusus mengenai aspek psikologis Kartini. Dalam buku biografi seperti ini, saya rasa kita perlu juga memahami siapa Kartini sehingga dapat memahami dari mana pikiran tersebut berakar. Penggambaran yang meliputi aspek psikologis ini memberikan gambaran dan pemahaman yang menyeluruh bagi pembaca mengenai siapa Kartini.

Kesimpulan akhir:
Pantaslah buku ini dianggap sebagai “Sumbangan Indonesia untuk Dunia”.

View all my reviews >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: