Monthly Archives: August 2009

Change

Seasons go by, anomaly jamming in the way. Dry season is wet and wet season is dry. Change is very natural and now I apply ‘change’ and trim my oldschool blog. This design, more or less, represents my direction in my soul-digging project. Green and green, color of endless growing, fertility, healing, tranquility, and balance. Then brown, color that evokes sense of strength and warmth.

So what do you think?

Advertisements

Bunga untuk Bunda

Tangisku tangismu
Hati yang terluka
Nyanyian duka
Jiwa yang terjatuh

Jurang antara aku dan dia
Jurang antara kamu dan dia
Jurang antara aku dan kamu

Bukankah rasa sakitmu sakitku
Perih dirinya dan perih kita

Jeritan tangis
di tengah kepulan asap merah

Aku kamu kita
Bunga-bunga di medan perang
Doa-doa harapan
Kita pungut lagi cinta-cinta yang terlupakan

Kita tidak akan lari lagi
Bergandengan tangan
Bisikan-bisikan malaikat
menjamah jiwa kita
mengikat dalam dunia

Kita bukanlah manusia
Kita adalah kita
Nafas kita satu

Musik dengar kita
Nyanyikanlah untuk Bunda
Kita satu
dalam hangat cinta

Samsara

Di sini aku menyentuh tanah itu
Tanganku merasamu
Hangatmu dan hangatku
Bunda tetap di sini
Nafas kita dan nafasnya
Jiwa kita bertaut

Bunda bertanya
Kapan kita berhenti diam
Kapan kita sadari cukup
Kapan kita berhenti mencari-cari
Kapan kita tidak bertanya

Kita menjawab
Langit sudah kusentuh
Sangkakala sudah kutiup
Merah hidup sudah kulalui
Kami sudah warnai dunia

Kami anak-anak ungu
dan jiwa kami bernyanyi
Menembus angkasa
Menembus waktu
Menembus dimensi
Menembus mimpi-mimpi penyair

Kami berdansa dalam gumpalan asap biru
Kami dengar tangis-tangis sukma
Kami berjalan dalam cahaya
Kami telah dengar detak jantung pencipta
Berputar-putar naik ke atas
Semua rahasia yang menumbuhkan hidup
Kekuatan cinta

Kami tidak akan berhenti bertanya
Kami tidak akan pernah berhenti gelisah
Kami tidak akan pernah berhenti membengkokan jiwa dan kata
Nafas kami tidak akan pernah selesai
Semuanya akan berputar dalam lingkaran
Samsara

Kami akan selalu pulang

Di depan pintu

Dua puluh lima cinta berbaris di depan pintu rumah
Tidak mengetuk
Hanya diam dan berputar-putar
Berganti gilir

Tiap sore
Dari jendela aku mengintip
Memberi nafas pada kaca jendela
Menggambar not-not
Kemudian kututup tirai
Pergi

Memori-memori berjingkatan
Aku dan kamu
Kita selalu diam
Harap aku dengar kamu
dan kamu dengar aku

Kita berpandang-pandangan
Menulisi jiwa kita dengan puisi-puisi mimpi
Merangkai hidup
Melubangi atap rumah kita
dan kita pandang langit senja kemerahan

Aku dan kamu
Kita ingin pulang
dan inilah rumah kita

Kita menari di bawah siraman hujan
Kita bersiul ketika angin menjamah
Kita tertawa di bawah mentari
dan menangis di kala langit mulai gelap
Bulan cahaya kita
Bintang-bintang tersipu malu
Sembunyi di balik malam

Mereka tidak mengetuk
Mereka menunggu
dan kita selalu bertanya
kapankah kita buka pintu itu

divine escapade

free falling
no hesitation

caressed by the wind
whistle of the tree
clops of the living
song by nature
love of Mother will shield me

swinging in the air
the clouds say hello
the sun smiles
breathe, the blue speaks to my soul
inhale and exhale

divine escapade
interconnection of love

and it’s such a perfect day*

inspired by “Strawberry Swing” (Coldplay)

Resurrection of Poetry Class


image, courtesy of school.discoveryeducation.com

For the past few months, I considerably putting my words into writings on daily basis. Most of them are my observations to any events flying in front of my eyes, a little empathy, and laboring my left brain to do more scientific analysis. I pretty much proud of myself not to let my left brain take over everything and manage to escape tendency to speak nonsense syllables just to make me look intelligent. Everything has to be precise, concise, and clear.

However, I felt like I had been distancing from myself. I let a couple of dreadful events draw me into a prolong state of grief and I tried to protect myself by looking away from my feelings. It was pretty effective, I didn’t cry, I didn’t play drama-queenesque performance. Then it began to sunk myself. I was constantly restless, clueless, tempted to find pleasure to fulfill the hole in myself. I am me. I am sensitive, I am emotional. Deal with it. It’s my forte and also my weakness. Acknowledging it doesn’t mean that I encourage myself to be an emotional trainwreck but to be me as a whole. It’s about finding peace in my soul.

I don’t even know how to utter my emotion in precise way. My emotion is pretty much mixed and unidentified by vocabularies in any language I know. My sensitive side speaks to me in code, dangling puzzling images and words. They are waiting me to set them free and what better way to express this other than poetry? After entangling everything in poetry, soon I am able to grasp what I feel and also what I’m thinking. Poetry leaves space for people to be creative, maintain some kind of secrecy (especially for the writer), and able to be interpreted in lots of possible way. Because of that, people can personalize the poetry they read to whatever happens in their lives and poetry tends to stand test of time. Therefore I’ve decided to resurrect my ‘poetry-class’ blog in a new scent: canting candrakirana.

I am once again cramming to be a member of poet society.

Letter for my best friend

I miss you
and I miss us.

damai selamanya

aku berdiri di sebuah tempat tak bertepi
tanpa dimensi
tanpa mata
tanpa telinga
tanpa indera
hanya ada aku

aku ingat kami tertawa
bunda mencari kami di balik semak
waktunya makan
tapi kami terus berlari ke sana
waktu tidak akan bisa mengejar kami

lidah-lidah cinta menggelayut
kami berlari mengitari dunia
menyapa bumi langit
burung-burung yang berang
kucing yang menangis
anjing yang kehilangan
monyet-monyet yang berteriak
macan yang sudah tak bisa menggeram
singa yang hilang takhta
hutan yang kian berduka
peri-peri pergi terbang meminta tolong
ikan-ikan yang ketakutan
kuda laut yang bersembunyi
dewa laut yang muram
laut bergolak murka

kami bernyanyi
suara kami satu per satu jatuh di tengah udara
tubuh-tubuh kami melayang di udara
luka-luka pencerahan
darah-darah yang membebaskan

bumi kosong
namun tidak pernah sekaya ini
tidak pernah begitu diharap
tidak pernah begitu didamba
tidak pernah begitu dicinta

hidup telah bangkit dalam gelap
semuanya tidak berubah
semuanya harus berjalan kembali
kembali ke titik nol

sekarang aku menunggu
menunggu dia

segalanya berpasangan
segalanya tidak pernah berubah

damai selamanya

inspired by “Across The Universe” (The Beatles)

sebuah momen untuk cinta

Hari ini saya melihat wajahnya dalam cermin. Rambut panjang bergelombang, kulit pucat, mata sayu dan senyum yang memancarkan harap. Ia masih kurus seperti dulu. Dia masih keras kepala, sama seperti yang kuingat. Sekian lama waktu berlalu, hati saya masih berdesir untuk dia. Saya tidak pernah coba hapus kenangan karena melupakan apalagi seseorang yang pernah menjadi salah satu titik nadi saya, membuat saya kosong, seperti mencabut nadi dan membiarkan kematian menghampiri. Habis darah, habis perkara.

Dia telah menjadi bagian diri saya walaupun fisiknya tidak bersama saya lagi. Saya percaya saya pun ada di salah satu sel hatinya walaupun badan saya tidak bersama dia lagi. Jiwa saya dan jiwanya pernah berjodoh dalam satu waktu. Namun sekarang saya dan dia maju berjalan ke arah yang berbeda, mengikuti petunjuk Dalang Hidup. Saya belajar. Dia belajar. Hanya saja kali ini kami harus menempuh rute yang berbeda untuk menuju Jalan Hidup Sejati. Doa saya untuk saya, kamu, kita, dan semua orang yang mencinta. Semoga kita tidak pernah lupa bahwa inti hidup kita adalah cinta dan yang paling mulia dari segalanya ialah ikhlas untuk cinta.