Caca, Saya, Kamu, Kita


image, courtesy of m0thyyku via deviantart.com

Pengangguran metropolis seperti saya, lagi kere, jadi hanya tinggal di rumah (biaya pergaulan di Jakarta mahal, sampai-sampai saya berpikir kalau profesi saya cuma buat biaya gaul). Untunglah mamak saya masih sayang sama saya dan bapak saya cukup progresif dengan menyediakan koneksi internet broadband. Jadilah saya menghabiskan hari-hari saya download lagu, e-book, dan apa lagi kalau bukan main facebook dan twitter. Selain buat pamer-pamer status, sejak main di situs jejaring sosial, terutama twitter, saya jadi cukup update dengan berita-berita, seperti contohnya saya jadi tahu kalau di Amerika, orang lebih rela keluar uang untuk makanan hewan peliharaannya dan mengurangi belanja makanan untuk diri sendiri. Dua hari yang lalu, twitter saya cukup heboh dengan berita “cewek sarap”, “cewek gila”, “cewek narsis”, dan kata-kata lain yang demi kepantasan sosial, terpaksa saya tahan di otak saya. Ternyata mereka ngomongin Marshanda. Caca, sok akrabnya.

Penasaran saya click link yang ada di status teman saya. Tidak ada yang begitu spesial, cuma tiga ABG cewek karaokean, walaupun cukup lucu, karena hanya sebentar mereka menyanyi. Ada yang sibuk membenarkan rambut (jadi karaokean hanya untuk ngaca, sepertinya), ada yang sibuk makan dengan pose-pose yang sedikit jaim, ada yang nerima telepon, dan kebetulan di belakangnya ada jari tengah melayang dari samping (you know what it mean, do you?). Reaksi saya, cukup eneg dan sebal, cuma setengah, sudah langsung saya tutup. Komentar saya di twitter, “a bunch of narcissistic teenager“. Teman saya bertanya, yang mana, apa yang Marshanda yang nyanyi sambil marah-marah dan ngata-ngatain temannya. Pikir saya, “wah sepertinya ada yang lebih heboh lagi nih.”

Saya click link video yang berikutnya. Marshanda, lagu “Who Do You Think You Are”, dedikasi lagu untuk orang-orang yang telah menyakiti dia (ini disadur dari kata-kata Caca sendiri) dan sederetan nama-nama orang yang katanya menyakiti dia beserta dosanya (untuk beberapa orang yang mungkin perlakuannya sangat membekas). Saya kaget. Reaksi saya, tidak lagi eneg, tidak lagi sebal, tidak lagi sibuk mencari-cari gangguan psikologis apa yang dia alami. “What did they do to her?

Saya coba bayangkan, kalau saya di posisi Caca, apa yang akan saya rasakan. Caca adalah korban, dari apa saja, saya tidak tahu persis. Tapi dari video itu, saya mendapat kesan bahwa Caca korban bullying teman-temannya, peer abuse (kekerasan oleh teman). Kekerasan ini tidak harus fisik, bisa juga lewat kata-kata dan tindakan-tindakan manipulasi. Truth or dare, versi menghibur hanya untuk si pelaku tapi bukan untuk korban.

Coba kita ingat-ingat, kita amati. Seberapa sering kita lihat atau bahkan kita melakukan hal ini: ngata-ngatai orang, ngejek orang hanya untuk kepuasan kita sendiri atau untuk obrolan yang seru untuk kelompok, seberapa BANGGA kita kalau kita berhasil membuat istilah baru untuk mengejek orang, seberapa kita menganggap bahwa mengejek orang itu KEREN, seberapa sering? Saya tidak menghakimi, saya sendiri berpikir bahwa sepertinya saya pernah melakukan hal ini dan ngerinya, saya bangga kalau bisa mengejek orang, to mock with flair and intelligence, kilah saya. Saya, nonton video Caca, berhadapan dengan sisi gelap saya sendiri. Jangan-jangan hobi saya ini merusak hidup orang. Merusak hidup orang, apa bedanya dengan membunuh? Saya sendiri cukup takut dan merasa diteror kalau saya jadi Caca dan saya baca komentar-komentar orang-orang tentang saya (Caca).

Sebagai ilustrasi saya, saya sering memperhatikan orang-orang. Ini sudah bawaan dari orok, disuruh tutup telinga atau tutup mata, pasti tahu. Satu geng tampak kompak, sering hang out bareng, curhat, atau bahkan nangis bareng. Berhubung teman-teman satu geng ini latar belakangnya beda-beda, cara ngomongnya beda, apa yang dipikir beda, apa yang dirasa beda walaupun ada kesamaan juga. Ya wong orangnya beda, mana mungkin teman tapi orangnya plek persis sama sampai ke dalam-dalam. Kalau ada yang begitu, pasti silap mata (alias kurang teliti) atau curiga saja, jangan-jangan clone. Jadi kembali ke beda, ya pasti bedalah, intinya.

Kadang-kadang dari beda itu, pasti ada yang kurang cucok, pasti ada yang clash, dirasa kurang sreg. “Ya harusnya dia sadar sendiri dong,” “itu kan udah common knowledge“, “itu kan aturan moral dasar”. Ya kurang lebih itulah yang saya dengar dari curhat teman saya yang lagi kesal dengan teman satu gengnya. “Kita semua udah sebel sama dia.” Itu juga saya dengar. People versus the defendant. Itu istilahnya kalau di Boston Legal. Bedanya, dalam peradilan ini, tertuduh (defendant) seringkali tidak tahu kalau kasus ini disidangkan. Kalaupun tahu, cuma merasa-rasa, cuma menerka, tapi kasusnya kurang jelas. Jadinya dia diam saja, soalnya kalau nuduh dan salah, nanti dikira tidak percaya teman, atau dia sendiri juga takut sama kenyataan, “temen gue udah ngomongin apa aja ya?” Jangan salah, ini tidak cuma di ABG, ini juga terjadi di kalangan usia-usianya eksekutif muda sampai level usia yang rentan middle-age crisis. Kalau yang lansia, saya belum pernah dengar, dan saya harap tidak, soalnya saya pingin percaya mitos makin tua, makin bijaksana. Atau mungkin saya kepingin percaya bahwa tua nanti, saya jadi orang yang lebih bersahaja sebagaimanapun saya (mudanya) pernah suka mengejek orang.

Bagaimana teman-teman satu geng (people) ngomongin tertuduh? Ada yang baik, diskusi gimana cara ngasih tau yang enak soal kelakuannya yang rada sarap atau sering bikin orang senep. Tapi ada juga yang bikin istilah, yang kalau didenger mungkin sama bikin senepnya atau lebih bikin senep daripada kelakuan si tertuduh. Ada yang ngomongin pribadi, ada juga yang ngomongin di situs jejaring sosial yang notabene public space, dengan kode-kode. Walaupun sudah ditutup kode, orang lain bisa tahu juga bisa tahu. Contohnya orang yang cukup nosy dan cukup kurang kerjaan seperti saya jadi dapat pengetahuan gratis tentang dunia pergosipan yang paling in (peace!). Herannya ngomonginnya seperti ngomongin orang yang tidak pernah kenal. Tidak seperti ngomongin orang yang (mungkin pernah) jadi teman, teman satu geng malah. Kejadian seperti ini, saya temukan, berkali-kali. Jadi kalau ada yang merasa, mungkin yang saya maksud kalian, mungkin yang saya maksud juga bukan anda-anda.

Saya cuma mikir dan saya sudah lama jadi trauma tidak langsung: takut terikat sama satu geng. Satu sisi, saya cukup iri dengan kebersamaannya, nongkrong bareng, curhat bareng, buang ingus bareng, mungkin kalau cukup nyaman, mandi bareng. Tapi saya ngeri, bagaimana kalau saya tiba-tiba tidak sadar melakukan hal yang bikin ga sreg, saya jadi “tertuduh”. Saya tidak bisa membayangkan kemungkinan kata-kata apa yang dipakai untuk mencap saya.

Soalnya, saya pikir, kadang-kadang orang bisa lupa, walaupun sekompak apapun, latar belakang masing-masing orang beda. Kadang apa yang kita anggap sudah melanggar “norma sosial” pertemanan yang umum, buat dia wajar-wajar saja. Walaupun dalam masa-masa nyebelin, kita lebih gampang ingat “dosanya”, paling tidak, ingat kalau si “tertuduh” itu teman, bukan orang asing. Teman, yang mungkin pernah rela ngangkat telepon kita cuma buat dengar “sampah” kita walaupun ngantuk-ngantuk, yang sibuk cemas kalau kita sakit, yang bersedia ngapa-ngapain buat kebaikan kitalah intinya. Jadi, kalau boleh saya simpulkan, syarat berteman itu saling sayang.

“A friend is one who walks in when others walk out”
-Walter Winchell

Kalau sayang, mbok ya bilangi, biarpun menyakitkan, supaya ada komunikasi, siapa tahu salah paham. Dengan begini kan, kita sama-sama belajar. Kalau sudah dibilangi, sudah didiskusikan, dia kayaknya tetep ndableg, ya sudah mungkin bukan “jodoh”. Irreconcilable differences. Mungkin lebih baik buat dia dan satu geng untuk pisah. Paling tidak, pisahnya bukan atas asas benci siapa versus siapa, tapi atas dasar cinta dan kasih sayang.

Kasih itu terlalu sering dilupakan orang, padahal kasih adalah dasar fondasi hidup kita. Tanpa kasih, mungkin kita sudah balik ke jaman purbakala, gara-gara semua orang sibuk perang dan bunuh-bunuhan satu sama lain. Ingat beberapa waktu lalu, kita semua ngeri dan berduka atas korban terorisme? Tandanya dunia mau kiamat, kata sebagian orang. Pikir saya, apa bedanya dengan ngata-ngatai orang, bukannya itu bentuk teror juga walaupun masih kelas teri. Mungkin sistemnya seperti sekolah. Yang kelas teri lama-lama naik kelas ke kelas kakap, yang dulunya teri mengajari anak barunya di kelas teri yang baru. Lama-lama dunia kita jadi sekolah “kebencian”. Menurut saya, ini tanda masyarakat yang sakit, yang lupa menghargai orang (kalau bahasa lebih politisnya: diskriminasi), yang lupa kalau hidup kita saling berhubungan seperti jaring-jaring, baik dengan manusia, hewan, tumbuhan, bakteri, virus, dan sebagainya. Lupa cinta.

Maka,

Nourish your compassion even though it’s dim and vague for compassion is an endangered human specimen nowadays. We are one step closer to become living evil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: