Monthly Archives: September 2009

aku mau pulang, Tuhan

hanyalah aku menafsir janji padamu kekasihku
sebab aku telah membisikkan nama kita
pada bunga-bunga rumput di depan rumahmu
centang perenanglah rasa ini
diamuk oleh badai tropis

segelas kacang merah temani soreku
mengingat tiap titik batas kita
sedang anak-anak senja berlari di depanku
mengejar matahari yang sebentar lagi benamkan diri
di sudut cakrawala

hanya aku menafsir lagi janji padamu kekasihku
Tuhan duduk berbincang-bincang denganku
satu detik sebelum bulan menampakkan senyumnya
dan Ia bertanya padaku, “Apa inginmu?”

aku terpekur
sementara Ia menatapku dengan mata senja
merah lembayung ungu
debur kemegahan, air, matahari, kekeringan, gelora
keagungan yang tak kumengerti
karena aku cuma manusia
yang datang dan pergi begitu saja
sementara Ia merentangkan tanganNya
tiap kali aku lelah dan ingin pulang

siapakah aku kekasihku
bila ia minta aku ‘tuk tinggalkan ambisi
siapakah aku hingga sudi menolakNya?

Adzan berkumandang di sore ini
mengajakku untuk pulang kembali
maka maafkan aku kekasihku
aku harus menafsir janji padamu
karena senja ini, aku milikNya
dan untuk keabadian-keabadian berikutnya

Jakarta, 28 September 2009

dalam tidurku, kulihat bintang kemukus

dalam tidurku
kulihat bintang kemukus* melesat bertakhta di langit

sepasang kekasih memadu mesra
dan tiga puluh pasang golok diarahkan pada jantung, kepala, kaki, dan tangan mereka
mereka mengucap doa
dan waktu penghabisan
sekali-kali mereka memeluk
sekali-kali mereka menampar
mengusir letupan-letupan gairah di mata mereka
dengan sangkal dan sangkaan
untuk tiap gerak gemulai golak hati

malam ini,
lintang kemukus menyinari rasi mereka
hanya gelap jadi lapis lindungnya
‘tuk hindari sadar dan nyata
demi detik-detik sisa

Note: Munculnya lintang kemukus atau bintang berekor, sering diyakini sebagai firasat bakal terjadi malapetaka atau perang

suratku untuk seorang sahabat

sahabat,
kutahu engkau memendam rasamu
dalam imajimu
mengejar bayang-bayang dalam bunga malam

namun saat kau bangun,
bunga itu layu
dan kau pikir haruslah kau bangun lagi
hanya dalam tenda malam

saat kau menulis,
haruslah kau nyalakan lilin
membakar tinta dengan gairahmu
agar kau sadari apa yang kau ingin tuangkan
dalam surat-suratmu pada dia yang jauh dalam pikirmu
namun dekat di hatimu

apa yang kau tulis dalam gelap, sahabatku?
apa itu cinta, apa itu benci, apa itu kecewa
apa itu sepi, apa itu alienasi, apa itu konspirasi
apa itu bahagia, apa itu derita, apa itu puas hati
apa itu kemesraan, apa itu marah, apa itu dendam
apa itu gairah, apa itu nafsu, apa itu yang kau simpan dalam relung hatimu?

lilinmu kau nyalakanlah dengan api harapmu, sahabatku
biar ia jilati impian-impianmu
bukan lagi impian malam belaka
namun impian senja impian fajar impian sangkakala
kau adalah pelangi warna warni
mengapakah kau sibakkan cadar abu-abu
pada keagungan cintamu?

sahabat,
cinta itu tidak egois
cinta itu berbagi
cinta itu menaut rasa, pikir, sukma, hati
bukan pada satu, namun pada dua insan

berbagilah dalam cinta
serahkan dirimu pada amukan ombak cinta
tak peduli terhempas
karena akan kau gubah lagi lema-lema cintamu

dalam harap dan doa,
janganlah kau takut jatuh
biarkan cinta mengamuk dalam sukmamu
mengalir dalam darahmu
berdetak jantungmu rasa yang tak kau kenal
asing namun begitu akrab
tak pernah kau akan kecewa
karena cinta itu mengalir dari hati
bukan ego

sahabat,
kutulis ini dengan tinta persahabatan kita
seorang sahabat ingin kawannya bahagia
ingin kawannya rasa deburan hempasan asmara
tangis cinta
tawa kasih
agar kau kenal cinta Tuhan dalam dirimu
hingga kau dapat cintai sukma yang lain
dengan ketulusan dan ikhlas yang tak bertepi

Tuhan ingin kamu bahagia, sahabatku
janganlah kau rundung ceria matamu dengan duka
yang menjerat tanganmu dan kakimu
nafasmu, sarafmu
dan citramu dalam kebesaranNya

cintailah ia dengan sepenuh hati
dengan sederhana
dengan tulus
dengan keberanian
seperti seorang srikandi
yang berani maju ke padang Khuruksetra
‘tuk temukan cerah
impian
harapan
pada hari-hari yang baru
damai dalam gejolak rasa
gema-gema cinta
sebuah prosa hidup

lalu kuharap engkau bahagia
dalam spasi jiwa yang kau arungi
ceruk hati yang terdalam
kala kau sambut cinta dalam dirimu
dalam hati sukma nafas jiwa
karena mencinta adalah bahagia
sebuah pesta hidup anugerah Sang Pencipta
sebuah keajaiban agar yang terpisah jadi satu

Note: kupersembahkan puisi ini teruntuk seorang gadis manis yang sedang bimbang dalam tangis, dalam sebuah memori, dan angan masa depan

pipe of life

dream and prayer intertwine together in the universe,
weaving us the way to The Path,
let happiness be in every breath you take,
every step,
and every will in your soul

madu mengadu

kau petik sebuah lagu
dikawal malam sendu
kau bawa jantung nafasku
mencari dan beradu
kau buatku merayu
agar malam berdendang untukku
sebentuk emosi mendayu
antarku pada hikmatmu
sebuah layar madu
dua malam aku mengadu
agar kau selipkan buahmu
dalam dadaku
di setiap detikmu

Whom to Trust: Ourselves or Psychic?


image, courtesy of http://www.beinart.org

Guna-guna? Ramalan karier, jodoh? Sepertinya media kita dibombardir dengan iklan-iklan yang menawarkan jasa-jasa yang kita sebut ‘paranormal’. Kalau mau dapat ramalan ngini nganu, tinggal kirim sms REG spasi nganu-nganu ke nomor tut tat tut. Saya cukup bertanya-tanya, “hari gini masih ada yang percaya beginian?” Ternyata pandangan naif saya salah. Kenyataan bikin saya kaget. Di sebuah page twitter milik seorang mentalis terkenal, banyak yang berkonsultasi tentang jodoh, karier, ilmu hitam, dan tetek bengeknya. Dari tweet sang pemilik account, saya mendapat kesan bahwa pertanyaan ini termasuk dalam service yang ditawarkan, alias selain mentalist, dia juga peramal/paranormal. Ternyata seorang yang pernah saya temui, seorang self-healer, cukup concern dengan pemberian jasa konsultasi semacam ini. Beresiko dikira mencari publisitas dan cari ribut, ia menyatakan ketidaksetujuannya secara terang-terangan, bahwa menanyakan soal takdir pada orang lain, entah itu paranormal atau mentalis, adalah tindakan yang bodoh. Saya setuju sekali dengan pernyataannya itu. Someone should take a stand on this maddest of the madness.

Dunia ramal meramal bukanlah dunia yang benar-benar asing bagi saya. Mantan pacar saya dulu waktu SMA adalah seorang peramal. Entah dengan kartu tarot, garis tangan, lepehan daun teh, atau apapun itulah. Saya tidak bilang dia tukang bohong, penipu, atau sebagainya. Segala sesuatu punya potensi kebenaran. Untuk membuktikannya, saya juga ikut-ikutan belajar, pakai kartu tarot. Namun setelah beberapa lama menggunakannya, saya ngeri sendiri. Siapa saya yang berhak untuk membacakan takdir orang lain. It felt as if I was overstepping God and it haunted me for most. Oleh karena itu, saya berhenti, tidak pernah mau menggunakannya lagi meski ada beberapa orang yang “memaksa” saya untuk kembali “berpraktek”.

Sekali lagi, saya tidak bilang bahwa meramal itu dosa. Semua itu ada di tangan Tuhan, bukan manusia. Menyinggung soal ranah siapa, manusia itu dianugerahi dengan intuisi, suara hati yang senantiasa memandu kita dalam setiap langkah kita. Suara hati, yang saya percaya berasal dari Tuhan sendiri, akan membantu kita dalam menjalani hidup ini. Apalah arti sekolah kehidupan kalau kita tidak belajar, tidak mau mengambil resiko? Tanpa mau berpanjang-panjang lagi, saya pikir adalah sebuah kebodohan untuk menyerahkan kebebasan kita untuk mengambil keputusan, untuk jatuh dan bangkit, untuk belajar pada orang lain, yang notabene adalah manusia juga, bukan Tuhan. We are ‘gifted’ with our own intuition to lead us to The Path, I think it’s deluding to grant power upon our life to another human being.

Saya tidak memaksa bahwa setiap orang harus setuju dengan pernyataan ini. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk menjadikan hal ini sebagai salah satu wacana pikiran kita. Hal ini agar nantinya ketika kita menghadapi masalah yang menghadapkan kita pada persinggungan ini, kita lebih siap, tahu, dan yakin dengan langkah yang kita ambil. To relinquish our power upon ourselves and give it to someone else, to believe or not to believe in the voice deep within ourselves.

Perawan ke Ginekolog: Disuruh Kawin


image, courtesy of http://www.feministing.com

Sebagai perempuan yang matang secara biologis namun berat badannya di bawah ambang normal, saya sering mengalami masalah dalam siklus menstruasi saya. Dulu, pacar saya pernah menyuruh saya untuk ke ginekolog. Akhirnya setelah berpikir-pikir panjang, saya mau pergi konsultasi. Namun orangtua saya, terutama ibu saya, sedikit menentang dan malah menyuruh saya ke dokter umum. Saya berargumen, dokter umum tidak punya peralatan dan metode pemeriksaan yang teliti untuk masalah rahim. Makanya, ada ginekolog, di samping dokter yang berurusan dengan kesehatan secara umum. Saya ingat, waktu itu ibu saya sempat mengadu pada ayah saya, “… dia kan masih gadis.” Ayah saya diam saja. Entah karena malas berargumen dengan ibu saya, atau ia menganggap seharusnya saya yang memutuskan. Sebagai orang yang dianggap dewasa, ayah saya memang sering menyerahkan keputusan di tangan saya. Karenanya, saya sangat senang untuk mengeksploitasi kesempatan itu untuk melakukan kesalahan serta belajar darinya. Sementara, ibu saya, sulit diyakinkan. Oleh karena itu, saya perlu mengadakan riset kecil-kecilan untuk bahan argumen saya, sebab bagaimanapun juga saat itu saya masih kuliah dan belum berpenghasilan sendiri. Dengan kata lain, saya masih butuh dukungan finansial dari orangtua saya.

Berbekal dengan niat itu, saya menelepon teman pacar saya dan dosen saya. Pertimbangan saya, teman pacar saya itu sudah dewasa dan pasti punya informasi soal ginekolog yang kredibel dan dosen saya itu orangnya cukup terbuka untuk ditanya-tanyai. Saya mengirim SMS ke mereka menanyakan referensi ginekolog. Reaksinya cukup mengejutkan, dan dari sisi yang lain, lucu juga. Yang merespon duluan adalah dosen saya. Tak saya duga, ia langsung menelepon saya dan menanyakan ada masalah apa. Dari nada suaranya, saya menangkap adanya kepanikan dan kekhawatiran. Ketika saya menjawab bahwa saya ingin memeriksakan siklus menstruasi saya yang tidak teratur, ia nampaknya lega dan ia minta waktu untuk bertanya pada istrinya. Sedangkan teman saya, seingat saya, ia tidak menjawab apa-apa. Tak lama kemudian, pacar saya menelepon dan ia cerita bahwa temannya mengirim SMS padanya, dan menanyakan, “Mau dibuang atau apa?” Saya cuma bisa geleng-geleng kepala dan maklum saja, mungkin karena dalam masyarakat kita, yang pergi ke ginekolog hanya yang bermasalah dengan tetek bengek kehamilan, entah mau bikin anak ataupun “buang”. Sekarang saya bisa tertawa namun saat itu, saya cukup dongkol sehingga saya membatalkan niat itu.

Setahun kemudian, setelah saya lulus dari fakultas saya yang tercinta (thanks God!), masalah siklus menstruasi itu bertambah parah. Tanpa perlu mendeskripsikan lebih jelas, siklus menstruasi yang tidak teratur itu sepertinya bertambah dengan masalah kewanitaan lainnya. Saya harus pergi ke ginekolog! Masalah jerawat saja pusing, masakan masalah yang krusial untuk masa depan “perburuan”, saya acuhkan. Karena SMS dari dosen saya hilang bersama HP saya yang wafat tenggelam di bak, saya harus mengumpulkan informasi lagi. Saya, cukup trauma dengan respon-respon yang saya terima setahun yang lalu, memutuskan untuk menggunakan fasilitas lain yang memungkinkan saya tidak perlu bertanya langsung: Google search! Untunglah ada internet dan Jerry Yang yang dengan jenius menciptakan search engine. Walaupun Google sekarang “raja” search engine, tak dipungkiri kerajaan itu pertama-tama dibangun oleh Yahoo.

Menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, memelototi layar sampai mata saya sakit, menginvestigasi beberapa klinik ginekologi dan review-review, akhirnya saya menulis di notes saya, alamat sebuah klinik ginekologi yang berada di Jakarta Selatan. Review nya cukup memuaskan dan konon terkenal dengan “keajaiban” medikalnya yang berhasil membuat istri seseorang tek dung dan dokternya yang ramah serta teliti dalam memeriksa. Walaupun saya tidak punya niatan untuk bikin anak, dari informasi ini, saya bisa membuat hipotesis, sepertinya dokter di sana cukup kredibel, dan kecil kemungkinan untuk salah diagnosa yang lagi-lagi mempengaruhi masa depan saya. Saat ini saya pikir untuk ke depannya saya tidak ingin punya anak namun saya membuka kemungkinan, siapa tahu saya berubah pikiran.

Langkah berikutnya, saya harus men-tackle keengganan ibu saya untuk merelakan labia mayora dan labia minora anak perempuan semata wayangnya beserta isinya dilihat-dilihat atau bahkan “dikobok” oleh ginekolog, entah perempuan entah laki-laki. Mudah saja sebenarnya. Saya menjelaskan resiko yang bisa dialami kalau menangani masalah ini dengan enteng. Seorang ibu, setelah melahirkan dan membesarkan anaknya, cukup normal untuk menginginkan seorang cucu. Saya bilang, sekali lagi menegaskan supaya tidak mengesankan harapan yang dibuat-buat, “Ma, kalau seandainya aku mau punya anak suatu hari nanti, terus gak bisa gara-gara takut ini itu, dan malah diperiksa dokter umum yang gak ahli soal rahim-rahiman, gimana?” Induce the emotion then the possibility of ‘yes’ will raise up to 95%. 5% berikutnya, informasi yang sifatnya rasional. Saya tinggal memberitahu ibu dan ayah saya tentang klinik “pilihan” saya beserta alasannya. Persis cara jualan obat. Bikin takut, baru memasukkan informasi mengenai obat yang ingin dijual.

Keesokan harinya, Sabtu, pk. 11.00, saya dan orangtua saya sampai ke klinik yang dimaksud. Saya mendaftar dan mendapat nomor urutan kesekian. Di sana, saya ditimbang berat badannya terlebih dahulu dan seperti biasa, yang sudah saya duga, saya ditanya mengenai informasi pasangan saya. Saya bilang, saya belum punya suami. Kemudian perawat di sana menginstruksikan pada saya untuk mengisi formulir dan nanti di bagian suami, dikosongkan saja. Informasi soal orangtua saya sudah cukup, katanya. Mungkin ia sudah cukup terbiasa sehingga ia tidak terbengong-bengong mengetahui saya belum bersuami. Indikasi yang bagus, pikir saya, mungkin remaja jaman sekarang terbiasa untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Ginekolog bukan “monopoli” tetek bengek kehamilan segala.

Karena giliran saya masih jauh, saya menunggu sambil memperhatikan sekeliling klinik tersebut. Klinik itu cukup ramai, kursi di ruang tunggu terisi penuh, didominasi oleh ibu-ibu muda yang tek dung. Banyak orang yang mengantri, salah satu indikasi bahwa klinik ini cukup kredibel sehingga orang-orang merelakan waktunya untuk melakukan pekerjaan yang paling membosankan dan melelahkan: menunggu.

Mencegah social anxiety attack, saya menyibukkan diri dengan majalah-majalah yang disediakan di sana. Hm, majalah kehamilan, parenting, hamil, gizi ibu dan anak, parenting. Tak antusias saya membaca majalah-majalah itu. Saya hanya membiarkan otak saya berkonsentrasi pada judul-judul artikel dan foto-foto di dalamnya. Isi artikelnya? Wallahualam, saya lewati begitu saja, soalnya judul artikelnya tidak berbicara pada saya. Bukannya saya tidak peduli soal parenting, saya saat itu sedang cemas dan pusing tentang kesehatan saya, tidak punya niat berlebih untuk menjajaki developmental psychology lagi yang ingin saya lupakan jauh-jauh. Setelah 4 ½ tahun berkutat dengan soal-soal psikologi anak, orangtua, dan sebagainya, hello, I’m human after all, give me a break! Menyadari bahwa majalah-majalah itu tidak berkontribusi apapun dan malah mendorong saya untuk makin uring-uringan, saya beranjak dari tempat saya duduk dan sibuk mencari-cari majalah tipe lain di rak majalah klinik tersebut. Hasilnya, saya kembali ke kursi saya dengan tangan hampa. Tidak ada majalah khusus wanita single ataupun remaja. Mungkin mayoritas pengunjung klinik ini bukan target segment majalah yang ingin saya baca, pikir saya. Tak ada jalan lain, nikmati saja detik-detik penantian. Time was immortal at that moment.

Akhirnya setelah dua jam bertarung dengan kebosanan, nama saya dipanggil. Saya masuk didampingi oleh ibu saya yang penasaran dengan konsultasi yang akan diberikan oleh sang ginekolog. Kami bertemu dengan seorang bapak-bapak tua yang cukup ramah. Ia bertanya, apa keluhan saya. Setelah saya menceritakan gangguan-gangguan yang saya alami, saya diminta untuk pergi ke sebuah ruangan di balik tirai untuk diperiksa. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan di monitor dan uji laboratorium, tidak ada masalah alias normal-normal saja. Mungkin gangguan saya dipicu oleh stress dan ia mengatakan pada saya bahwa saya tidak perlu terlalu khawatir soal gangguan-gangguan semacam ini. “Tenang-tenang saja.” Ibu saya mengiyakan dan mengompor-ngompori sikap saya yang dianggap terlalu paranoid. Batin saya, “iya, kalau sudah diperiksa, baru bisa tenang, mana mungkin saya bisa tahu sebenarnya itu gara-gara stress atau bukan, kalau tidak diperiksa, memangnya saya dokter.”

Lalu dokter itu bertanya lagi, “sudah punya pacar?” Saya jawab saja sudah, karena saya lelah dan ingin cepat-cepat pulang. Bad move. Saya malah dinasehati panjang lebar untuk cepat-cepat menikah. “Udah lulus, pacar ada, langsung saja nikah. Apa pacarnya tidak mau? Kalau pacarnya plin plan begitu, cari yang lain saja. Cepat kawin, tunggu apa lagi. Anak-anak jaman sekarang sibuk karier, lupa punya anak. Begitu udah ketuaan, baru pusing.” Buset, orangtua saya saja tidak meributkan tetek bengek perkawinan. Sementara saya kesal dalam diam, ibu saya tertawa-tawa saja. “Sial”, kata saya dalam hati.

Dalam perjalanan pulang, saya masih bertanya-tanya soal nasehat ajaib dokter itu. Mungkin ia benar-benar khawatir masa panen saya expired, atau mungkin juga ini masalah kapitalis saja. Kalau saya hamil atau mau punya anak, kemungkinan besar saya akan kembali konsultasi ke dokter itu bukan? Entah apapun maksud dokter itu, yang penting saya sudah berhasil mengatasi “ketakutan” saya: pergi ke ginekolog dan benar-benar tahu dengan pasti, bahwa saya baik-baik saja.

Blackbird

Blackbird singing in the dead of night
Take these broken wings and learn to fly
All your life
You were only waiting for this moment to arise.

Blackbird singing in the dead of night
Take these sunken eyes and learn to see
All your life
You were only waiting for this moment to be free.

Blackbird fly blackbird fly
Into the light of the dark black night.

Blackbird fly blackbird fly
Into the light of the dark black night.

Blackbird singing in the dead of night
Take these broken wings and learn to fly
All your life
You were only waiting for this moment to arise
You were only waiting for this moment to arise
You were only waiting for this moment to arise.

Tagged ,

ce n’est pas nouvelle vague

gilakah aku untuk jatuh cinta lagi
setelah aku sumpah diriku hidup tak tersentuh
oleh hamparan gairah kemesraan
setelah aku terbakar jadi abu
dan hilang wujud?

gilakah aku untuk jatuh cinta lagi
sekian lama cintaku untuknya tak pernah pergi
lama aku teringat pada dirinya
yang membayang nafas dan nadiku?

gilakah aku untuk harap jatuh cinta lagi
setelah percayaku hilang,
hanya sesal serta nafas rindu yang kupunya?

apakah aku tahu aku jatuh cinta lagi
kala aku menangis
dan hati berdesir
perih riak hatiku bergolak
mungkin ini cinta
mungkin ini cuma harapan semu
mungkin ini hanya masa remajaku yang datang kembali?

diriku mencinta
tetesan air di gurun
beri hidup di bawah ego Sang Surya
apakah sungguh aku rela menukar sindirku dengan manisnya?

dalam cinta,
aku ingat detik-detik yang kosong tanpa hadirnya
pelir yang kering
lalu basah oleh kadung cinta
nafsu untuk bersatu
untuk menggenggam harmoni dunia
dalam desah nafas yang cari capai titik puncak

mungkinkah aku rela mandiriku
bukan hanya untukku
tapi untuk belah jiwa yang lain?

relakah aku?
mungkinkah aku siap untuk arungi samudera
golak ombak yang mengamuk
langit gelap petir menyambar
untuk sampai pada labuhku
di hari aku satu dengan tanahku
dan sukmaku kembali pada Sang Pencipta?

mungkin ini hanya versi mimpiku
yang kembali membelai jiwaku
di suatu malam yang sendu
bulan sabit yang tersenyum
dan tikus-tikus yang bermain mata
menanti cinta dan penciptaan

hujan dalam nada soneta malam

bulan sabit tersipu malu
menelanjangi sukma yang menanti hadirnya
dua nafas bertaut
sembunyikan wajah bulan,
dalam rona tinta malam

kau menangis haru
dan aku rindukan ia yang menyapu malamku
di bawah bantalku

kala hujan berhenti,
aku harap kau tetap ingat padaku
karena cinta tak harusnya lupa