Nostalgia Jaman SD

Malam ini, di twitter teman-teman saya sedang ramai berbagi tentang jaman mereka masih SD. Apa yang mereka suka pada saat itu, apa yang mereka lakukan, kebiasaan-kebiasaan dengan teman, dan sebagainya. Hari ini, saya cuma mau berbagi, tanpa sok-sok analisis 😀

Waktu SD, saya…

Suka nonton Si Komo. Si Komo-nya Pak Seto. Besar sekali berjalan-jalan di tengah kota.
Suka nonton Sesame Street. Ernie dan Elmo, Cookie Monster, tokoh favorit saya. Saya marah-marah sama orang rumah kalau saya ketiduran dan mereka lupa membangunkan saya untuk nonton Sesame Street. Saya ingat sekali, jam dua siang di RCTI. Mungkin acara TV ini yang membuat saya sering bermain boneka, sok-sok memberi kepribadian dan “suara” pada boneka itu. Bahkan sampai sekarang, saya masih bermain dengan boneka ikan kesayangan saya. Punya nama, punya attitude, dan punya suara.
Juga suka nonton Legenda si Ular Putih. Pay Su Chen. Mimpi-mimpi kalau suatu hari saya bisa secantik, seanggun, dan sesakti dia.
Terobsesi dengan komik Mary Chan. Saya sempat merengek minta les balet, tapi tidak begitu digubris oleh orangtua saya. Mereka saat itu menganggap lebih baik saya rajin sekolah saja. Alhasil saya sok-sok menari di mana saja, termasuk di mall dan tempat-tempat umum lainnya.

Koleksi berbagai macam benda dan tukar-tukaran dengan teman, dari kertas file, stiker, mainan gratis dari Chiki (bentuknya bulat, pipih, dan bisa digelindingin).

Tukar-tukaran diary. Isi biodata, nama lengkap, tanggal lahir, hobi, dan sebagainya. Plus tempel foto. Rasanya makin sering diminta teman untuk mengisi diary mereka, makin merasa beken.

Hobi main catur dan main karet. Main caturnya tolol sekali, sradak sruduk tanpa perhitungan, tapi karena keberuntungan, menang juara tiga di lomba SD. Main karet, awalnya saya tidak jago. Tapi karena saya orangnya tidak mau kalah, saya latihan setiap hari. Suatu hari, saya ingin memecahkan rekor main tinggi-tinggian. Lompat karet setinggi dada. Saking semangatnya, saya lompat sekuat-kuatnya, berhasil dengan cukup memalukan. Rok saya tersingkap dan terlihatlah celana dalam saya dengan bangganya.

Menyontek untuk pertama kali, waktu kelas 2 SD. Saya tertangkap basah mengintip buku catatan, dan satu nomor soal dianulir oleh guru saya. Tapi herannya saya tetap dapat nilai 90. Terima kasih Bu Guru!

Pembela teman-teman yang perempuan. Kalau ada anak laki-laki yang isengin teman-teman saya, saya suka sok pahlawan membela mereka. Bisa dengan kata-kata pedas, dan juga main fisik. Saya bukan orang yang jadi korban bullying tapi justru saya pelaku aktif bullying. Alhasil, walaupun badan saya termasuk paling kecil, saya cukup ditakuti oleh anak laki-laki.

Teacher’s pet. Kebetulan waktu itu, ibu saya cukup galak menongkrongi saya untuk belajar dan akhirnya nilai saya lumayan pada saat itu. Akhirnya saya “disayangi” guru-guru. Saya suka bangga sendiri kalau guru meminta saya menulis catatan di papan tulis, menyuruh saya menjawab pertanyaan, dan sebagainya. Saya juga senang kalau diminta guru menghapus papan tulis. Karena saking senangnya, saya giat sekali. Kalau ada tulisan di atas-atas dan tinggi badan saya tidak memungkinkan saya untuk menghapus, saya melompat. Mungkin karena itu, teman saya menjuluki saya “si kodok”.

Naksir dengan teman SD saya. Inisialnya F, karena dia paling tinggi dan tampak paling dewasa di antara teman-teman saya yang kucrit-kucrit. Entah kenapa pada saat itu saya juga suka melihat laki-laki berkumis. Tukang bangunan yang sedang memperbaiki pagar rumah saya berkumis dan saya suka keluar mengajak dia mengobrol.

Ditaksir oleh teman SD yang paling kecil di kelas. Anaknya suka lari-lari dan isengin anak-anak. Saya tampar sekali, lupa karena apa. Tapi waktu itu menamparnya bukan karena marah, ingin coba-coba saja soalnya di sinetron, pemeran-pemerannya hobi tampar-tamparan.

Bingung melihat dua teman baik saya saling berebut laki-laki tapi diam-diam. Maksudnya perang dingin, diam-diam bersaing, tidak mau saling ngaku. Teman saya yang satu, ngomongin soal teman saya yang lain. Eh yang “ditembak” sama laki-laki ini malah teman saya yang lain. Tapi umur pacarannya cuma tiga jam. Waktu istirahat jadian, teman saya ini mutusin laki-laki ini pas pulang sekolah. Kayaknya saat itu, laki-laki ini pujaan perempuan sekali, saya juga beranggapan begitu. Tapi setelah beberapa tahun berlalu, saya ketemu dia dan bertanya-tanya, “apa bagusnya ya ni laki sampai-sampai dulu satu sekolahan naksir sama dia?”.

Tentunya banyak yang terjadi pada saat saya masih SD, bayangkan saja enam tahun di SD. Banyak kenangan. Tapi yang saya tulis di atas, termasuk momen-momen yang paling berkesan buat saya. Innocently bad. 😀


image, courtesy of http://www.savagechickens.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: