Bintang Terakhir

“Siapa dia?”

“Orang. Perempuan.”

“Hah, yang benar dong. Dia itu siapa?”

Buat teman-temannya, sudah biasa ia dianggap misterius untuk tidak menyebut tidak jelas. Kadang-kadang bisa cuek dengan orang, sensitif dengan orang-orang yang meracau, kadang-kadang bisa ramah, tapi lebih sering lagi melakukan hal-hal yang tidak masuk akal atau lebih tepatnya agak kurang waras. Namun ia cukup mengenal pasangannya. Ia tahu bahwa kekasihnya orang yang taktis, ia bertindak kalau ia punya alasan yang kuat.  Rasanya aneh kalau pasangannya ini cuma kebetulan ingin menolong seorang perempuan di jalan. Lebih aneh lagi ketika kekasihnya ini sengaja mengungkit soal eksperimennya ke temannya, padahal ia sendiri pernah bilang bahwa hal itu adalah rahasia di antara mereka berdua. Oleh karena itu, ia makin gusar ketika laki-laki itu diam saja.

“Yang benar dong, dia siapa? Apa dia pacar rahasia kamu? Terus kamu suruh dia pura-pura tidak kenal kamu?”

Laki-laki itu menatap kekasihnya dan ia langsung berdiri,  melangkahkan kakinya menjauhi kekasihnya.

“Jadi benar ya? Kamu bohong sama aku.”

Mendengar tuduhan itu, laki-laki itu menatap mata kekasihnya dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengendalikan amarah yang menggoda dirinya untuk membentak kekasihnya dan tidak ada hal yang paling ia benci selain menyakiti hati seorang perempuan, terutama kekasihnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan amarah itu lewat udara yang keluar dari hidungnya.

“Yang, kamu keterlaluan menuduh aku begitu. Aku sudah berkali-kali bilang kalau kamu yang terbaik untuk aku.”

“Aku tahu dan aku percaya. Tapi dia itu siapa?”

Laki-laki itu sangat mengenal watak pasangannya. Pencemburu. Berkali-kali pasangannya mencoba untuk berselingkuh karena mengira dirinya berselingkuh dengan perempuan lain. Berkali-kali pula ia terlibat perkelahian dengan laki-laki lain yang menggoda dan menipu kekasihnya. Berkali-kali pula hatinya tertusuk-tusuk karenanya namun ia selalu memaafkannya. Seringkali teman-temannya menasehatinya untuk mencari perempuan lain namun baginya, sebuah hubungan, bukan didapatkan begitu saja melainkan harus diperjuangkan. Tidak pernah ia merasa seyakin ini bahwa dengan perempuan inilah ia ingin bina sebuah keluarga. Laki-laki ini tahu bahwa kekasihnya tidak akan berhenti curiga kalau ia tidak menjawab pertanyaannya.

Sambil menatap kekasihnya, ia kembali duduk di hadapan perempuan yang sangat dicintainya. “Yang, dia bintang yang terakhir.” Pandangan mata perempuan itu tiba-tiba melembut, ia tersenyum, dan langsung memeluk laki-laki pilihannya. “Aku sayang kamu”, bisiknya lirih. Ia rasakan peluk hangat perempuan pilihannya juga kegembiraan, rasa bersalah, dan kelegaan pasangannya dalam tiga kata yang diucapkan di telinga kanannya. Dan laki-laki itu pun menjawab, “Aku juga sayang kamu.”

Advertisements

One thought on “Bintang Terakhir

  1. amril says:

    Kisah yang indah Candra. I Like it. Jadi ingat salah satu Narsis (Narasi Romantis) saya : Bintang di Langit Hati

    Salam kenal dan Thanks ya udah add saya di blogrollnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: