Yang “Bandel” itu Berubah


image, courtesy of blog.afoolishmanifesto.com

Pernahkah kamu merasa asing setelah beberapa lama kamu meninggalkan suatu tempat yang dulu kamu pikir adalah tempat yang ditunjuk oleh takdir, untuk kamu berkarya dan menempa diri? Hari ini saya merasa seperti angka ganjil di kelompok bilangan genap. Padahal apa yang mereka kerjakan kurang lebih sama, orang yang masih sama walaupun ada wajah-wajah baru, masih ramah, hangat, dan menyambut saya dengan gembira. Mereka memperlakukan saya sama seperti ketika saya dulu di sana. “Normal”nya, saya berpikir bahwa saya harusnya bernostalgia, terharu, dan ingat kembali dengan perasaan kebersamaan yang dulu, atau bahkan ingin kembali. Tapi sekarang, saya seperti kejanggalan yang masuk dan mungkin tidak disadari oleh teman-teman saya, namun saya merasakannya. Perasaan terasing itu menggerogoti pikiran saya sepanjang sore itu dan membuat saya sibuk bertanya-tanya dengan diri sendiri. Saya meninggalkan tempat itu pun belum lama. Jarak waktu seharusnya bukan jadi masalah sentral di sini. Lalu apa yang terjadi?

Ketika mereka mengundang saya ke acara buka puasa bersama sore itu, saya ragu walau mulut saya berkata iya dan kepala saya mengangguk. Namun kalau ada yang perhatikan mata saya, dia pasti tahu bahwa mata saya tidak bersinar seperti dulu. Saya sibuk mengartikan perasaan ‘terputus’ ini dan ketika orang bertanya, saya otomatis memberikan jawaban yang biasa saya berikan dulu: ya. Saya merasakan ketidaknyamanan yang kuat. Saya bisa saja berpura-pura, berkelit, untuk membatalkan kata ‘iya’ saya dengan “aduh pingin banget tapi tadi tiba-tiba…”, atau “aku lupa kalau …”, dan lain-lain. Tapi saya pikir, lari tidak akan membuat saya mendapatkan jawaban. Sepanjang malam saya akan dihantui oleh rasa penasaran saya sendiri dan perasaan tidak nyaman yang tertinggal dari sore itu. Akhirnya saya tetap pergi, sesuai dengan kata-kata saya.

Di sana, saya disambut oleh teman-teman saya dan mereka memberikan sinar mata yang tulus, merasa senang bahwa saya akhirnya menampakkan diri. Bukan basa basi dan bukan menghibur diri. Saya tahu karena saya memperhatikan mata teman-teman saya. Di lingkaran luar bola matanya, ada sinar. Kata-kata singkatnya, mata berbinar. Kami mengobrol tentang kabar, kesibukan kami, dan sebagainya. Saya bercerita tentang proses wawancara kerja yang saking lancarnya sampai-sampai manajer perusahaan itu “berani” (untuk tidak bilang nekad) meminta saya untuk membantu tugas HR Department selain bekerja sesuai dengan posisi yang diawarkan, karena saya punya latar belakang pendidikan psikologi. Saya membatin, “hanya karena saya sarjana psikologi, bukan berarti saya hobi wawancara kerja dan mengurus tetek bengek HR department, kalau saya hobi, pasti saya langsung melamar ke departemen itu.” Sudah sering saya dikira bakal kerja di HR department, dan saya selalu kesal dan sebal. Buat saya itu sudah termasuk prejudice. Oleh karena itu, permintaan semacam itu buat saya adalah kartu mati. Kecil kemungkinan iya, sangat besar kemungkinan saya tolak. Tanpa saya jabarkan segamblang ini, teman saya mengerti dan setuju dengan keputusan saya. Teman saya menyarankan untuk mencoba perusahaan lain yang ia dengar membuka lowongan kerja sepanjang tahun. Saya sudah tahu tapi saya memilih untuk pura-pura tidak tahu, untuk menutupi kemungkinan saya tidak akan memilih untuk bekerja di kantor. Saya takut dikira putus asa dan apatis. Kemungkinan itu ada tapi dorongan untuk berkarya dan menjalani hidup saya dengan bebas lebih kuat dalam diri saya. Apa mungkin ini sebabnya saya merasa ‘terputus’ walaupun fisik saya berada di antara mereka? Bahwa saya menemukan jalan yang berbeda? Bahwa saya cemas kalau saya mengutarakan hal ini, saya dianggap takut gagal dan dorongan itu sebenarnya cuma akal-akalan saya menghibur diri?

Bingung dengan pikiran yang berkecamuk, saya menoleh ke teman saya yang lain, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan topik-topik ringan, seperti mengapa mukanya merah, bagaimana proyek penulisan bukunya, apa yang ia ingin tulis, dan sebagainya. Pokoknya segala macam hal yang tidak ada hubungannya dengan ide-ide yang meloncat-loncat seperti kutu di kepala saya. Ketika salah satu teman saya mengajak saya untuk menemaninya merokok di luar, saya lega. Saya melihat kemungkinan untuk lari dari keruwetan huru hara ini, kesempatan untuk tenang sementara. Di luar, teman-teman lain menyapa saya dan saya kembali membicarakan soal-soal yang tidak relevan. Soal sex, drug, rock and roll sampai kecanduan twitter istrinya.

Seperti waktu yang fana, waktu merokok bubar dengan sendirinya dan saya kembali memasuki dunia yang dulu pernah saya anggap sebagai sumber gairah hidup saya. Saya mendengar tepuk tangan, tawa, usaha untuk membuat acara meriah, orang yang maju ke depan dan menyediakan dirinya sebagai “kambing persembahan” untuk banyolan, dan sebagainya. Mereka semua tampak bahagia dan bahwa inilah tempat mereka. Saya, walaupun bertepuk tangan dan berusaha untuk menerima kebahagiaan yang mereka bagikan, saya merasa kosong. Seperti seorang yang kosong, saya berusaha untuk mencari tempat bernaung. Saya menengok ke kanan dan ke kiri, ke belakang, mungkin berkali-kali ke kanan karena di situ ada teman saya dan mungkin secara tidak sadar saya meminta tolong padanya untuk menjelaskan apa yang saya rasakan. Mudah-mudahan teman saya paham maksud tengok-tengokan saya.

Di tengah keriuhan, saya tiba-tiba menyadari bahwa orang yang duduk di depan kiri saya adalah orang yang dulu sering berbagi cerita dengan saya, yang mendukung saya dengan cara-caranya sendiri. Dia yang punya impian dan tidak ragu untuk mempercayakan cerita impiannya pada saya, seorang anak ingusan yang baru belajar merangkak di tempatnya. Saya menyapanya dan ia terlihat antusias menyambut saya. Kami pun mengobrol tentang macam-macam hal, sampai ia bertanya, “Udah dapat kerja belum?” Saya pun kembali pada pikiran-pikiran keterasingan saya, dan menjawab, “belum”. Mendengar jawaban saya, saya bisa melihat bahwa ia sedikit banyak merasa sedih atau kecewa.

Herannya pada saya mengatakan “belum”, saya menyadari bahwa saya tidak merasa sedih, panik, ataupun kecewa. Saya merasa biasa-biasa saja, seakan-akan hal itu bukan masalah besar dan mungkin bukan itu yang ingin saya lakukan dalam hidup saya. Saya menyadari bahwa tidak ada yang salah dalam masalah ini. Bukan salah orang-orang di sana, bukan salah saya juga. Hanya perubahan. Dalam tenggang waktu satu bulan ini, saya mungkin telah mempelajari sesuatu yang membuat saya mengubah haluan saya, sesuatu yang mendorong saya untuk melakukan hal lain yang mungkin tidak saya bayangkan sebelumnya. Walau 1 bulan dalam hitungan manusia termasuk singkat, pembelajaran tidak mengikuti alur waktu yang ditentukan oleh manusia. “Yang fana adalah waktu”, mengutip Sapardi Djoko Damono. Saya tidak berani bilang bahwa saya pasti akan berhasil dalam rute yang baru dan saya akan menjalani rute itu untuk seumur hidup saya. Namun saya percaya bahwa “keputusan” ini pasti bukan dari saya semata melainkan dari kebesaran Tuhan yang mengarahkan saya menuju Jalan Pilihan-Nya. Apa yang menurut kita bencana, mungkin sebenarnya adalah cara Tuhan untuk menunjukkan Jalan Sejati.

Catatan: Maap kalo curhat boneng yak, saya suka ngetik-ngetik ndak jelas kalau lagi pusing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: