Cari Surga (1)

Alkisah ada seorang anak laki-laki semata wayang keluarganya namanya Bencong. Dia diberi nama Bencong karena kecelakaan. Waktu itu ibunya habis melahirkan, dan pada saat perawat datang menanyakan pada ibunya anaknya mau diberi nama apa, suami ibu Bencong alias Bapak Bencong baru datang dan ibunya berteriak, “Bencong lu!” Sang perawat mengira itu nama bayi itu dan menulis di akta kelahiran “Bencong Lu”. Ibunya protes tapi namanya sudah diproses dan kalau mau diganti, harus bayar. Saat itu ibu Bencong tidak punya uang, jadilah pasrah dengan nama anak laki-lakinya itu.  Kulit Bencong kuning seperti kuningan, matanya belok hampir meloncat ke luar, bibirnya hitam seperti habis disemen, badannya semampai (semeter tak sampai), tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus alias sedang-sedang saja. Rambutnya hitam cepak dan banyak uban karena terlalu banya mikir soal kenapa matahari terbitnya di timur dan tidak di barat, kenapa bumi disebut bumi, dan rajin cuci kaki ibunya sambil sibuk mengamati telapak kaki ibunya untuk membuktikan apakah benar surga ada di telapak kaki ibu.

Sampai hari ini dia bingung karena telapak kaki ibunya sama-sama saja dengan telapak kakinya, kecuali ada retakan-retakan seperti tanah kekeringan di tumitnya. Tiap hari dia menulis jurnal tentang temuan-temuan barunya menyangkut persoalan telapak kaki ibunya. Dia bertanya-tanya apa dia tersilap atau meleng pada saat ada cahaya sinar benderang di telapak kaki ibunya karena tiap kali dia bertanya pada Pak Ustad, Pak Ustad selalu menjawab surga itu ada di telapak kaki ibu maka berbaktilah pada ibu. Awal-awalnya dia mengangguk-ngangguk mendengar kata-kata Pak Ustad tapi lama-lama dia melengos kesal karena dia merasa sudah memenuhi kriterianya. Membasuh kaki ibu itu tanda berbakti yang sekaligus efektif untuk membuktikan kebenaran teori Pak Ustad. Bencong berpikir jangan-jangan Pak Ustad salah tapi dia sudah bertanya pada semua orang termasuk ibunya sendiri dan jawabannya tetap sama. Surga ada di telapak kaki ibu.

Bencong berusaha untuk tanya pada teman-temannya tapi sebelum ia bertanya, teman-temannya sudah pergi duluan begitu Bencong mendekat. Teman-temannya yang sopan, pergi diam-diam. Temannya yang kurang sopan, mengata-ngatai dirinya, “Ih Bencong lewat, bencong lu bencong lu.” Ketika Bencong tanya pada ibunya kenapa temannya suka bilang begitu, ibunya bilang teman-temannya sayang sekaligus iri pada Bencong. Teman-temannya menjauh karena iri tapi tetap memanggil nama Bencong dari kejauhan. Bencong mengangguk-ngangguk senang mendengar penjelasan ibunya. Sejak saat itu, Bencong selalu senyum ala iklan pasta gigi setiap kali teman-temannya mengata-ngatai dia. Tapi kali ini itu tidak cukup. Bencong butuh jawaban. Di manakah Surga yang katanya ada di telapak kaki ibu?

Bencong makin lama makin frustrasi dan makin menyalahkan dirinya. Pikirannya semakin kalut dan ia menulis kemungkinan-kemungkinan di buku hariannya tentang kenapa hanya ia sendiri yang tidak bisa melihat surga di telapak kaki ibu. Kemungkinan pertama, Bencong terlalu bodoh dan lalu Bencong berpikir ah… tidak mungkin Bencong bodoh, buktinya Bencong selalu dapat nilai 100 setiap ada ulangan di sekolah dan selalu ranking satu, bikin bangga satu keluarga dan satu RT. Kata mereka, jarang ada anak pintar seperti Bencong. Jadi Bencong tidak mungkin terlalu bodoh. Coret.

Hm.. Kemungkinan kedua, sebenarnya surga itu jangan-jangan ada di retak-retakan di telapak kaki ibu. Sore kemarin, Bencong sempat mengorek retakan-retakan itu sewaktu mencuci kaki ibu. Ibu berteriak dan Bencong bilang, “Sabar bu, Bencong mau lihat surga bu.” Bukannya mengerti, ibunya malah menempeleng dia dan menyiram dia dengan air di baskom itu sambil berteriak, “Anak gila kamu!”. Lalu ibu meremas lengan kiri Bencong dan menggeretnya ke kamar mandi, mengangkat tubuhnya, dan memasukkan Bencong ke dalam ember besar tempat menaruh cucian kotor dan menutup ember tersebut. Bencong tidak mengerti kenapa usaha pintarnya malah dihadiahi hukuman. Ah mungkin ibu yang terlalu bodoh untuk menyadari kalau ini sebenarnya adalah usaha pintar Bencong. Baiklah, lain kali Bencong jangan mengungkit-ngungkit soal ini. Bencong akan kasih tau ibu kalau Bencong sudah berhasil. Bencong membayangkan ibunya akan mencium pipi Bencong , memeluknya, dan membangga-banggakan kejeniusan Bencong pada satu kampung, satu kelurahan, satu kabupaten, satu propinsi. Bencong membayangkan namanya akan masuk ke koran-koran, diselamati oleh satu negara, dan akhirnya Bencong dipilih jadi maskot Surga.

Lamunan Bencong berhenti ketika tutup ember itu dibuka. “Ibu!” jerit Bencong. Bencong pikir ibunya mau mengeluarkan dia dari ember itu dan minta maaf. Tapi lain di angan, lain di nyata. Ibunya cuma memberi satu tempe dan setengah sendok nasi dalam piring melamin warna abu-abu. Sebelum selesai dengan bingungnya, ibu Bencong sudah menutup ember itu lagi dan membiarkan Bencong untuk merenung-renung dalam kegelapan. Ibu Bencong berharap bahwa Bencong sadar dari kesintingannya tapi Bencong malah berpikir bahwa ibunyalah yang hilang akal. Mungkin bapak lari dari rumah sambil bawa otak ibu, barangkali.

Dalam hati Bencong, Bencong merasa iba dengan ibunya. Wah kalau dibawa otaknya, jadi kosong. Wajar saja ibu berpikir seperti itu. Bencong dilema, apakah ia harus menuruti keinginan ibunya untuk berhenti cari surga atau tetap cari surga. Bencong berpikir, kalau dia nuruti keinginan ibunya, berarti dia menyerah dengan kegilaan ibunya dan membiarkan ibunya dalam kegilaan. Tapi kalau dia tetap cari Surga di telapak kaki ibunya, Bencong bisa beri ibu surga sehingga ibu bisa hidup dengan senang dan mungkin akalnya bisa kembali karena kata orang-orang, Surga itu tempat yang indah, ajaib, terang, dan bikin orang yang tinggal di sana bahagia. Salah satu cara ibu ke surga adalah setelah mati. Tapi Bencong tidak mau ibu mati, Bencong tidak mau sendirian di rumah ini, dan Bencong sayang ibu. Jadi ibu tidak boleh mati dan bencong harus berusaha terus cari Surga supaya bisa dikasih ke ibu.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: