Cari Surga (2)

Juminten, duduk melongo di tepi tempat tidurnya dengan sepucuk kertas yang sudah lecek dan basah dengan keringat. Juminten ingat waktu dia masih bocah cilik umur 14 tahun yang baru-barunya mengalami masa-masa selangkangan ingin digesek-gesek. Juminten, si kembang desa, dikejar laki-laki dari mana saja, dari yang umurnya mendekati liang kubur sampai anak bau kencur yang masih main adu jauh-jauhan kencing di kali.

Walaupun Juminten selebritis desa, Juminten merasa malu karena namanya terlalu ndeso. Dia kepingin punya nama seperti makhluk-makhluk bongsor berambut jagung, apalagi Juminten kepingin jadi artis supaya bisa masuk TV dan terkenal. Juminten berusaha membayang-bayangkan namanya masuk di titel film, tapi tidak masuk juga. Bahkan untuk pemeran-pemeran ecek-ecek, nama Juminten saja tidak nyambung, seperti babi di antara mutiara-mutiara. Juminten tidak mau jadi babi, dia maunya jadi mutiara di antara babi-babi. Beberapa kali Juminten minta pada bapak ibunya supaya diganti nama, misalnya jadi Jeni atau apalah, yang penting terdengar lebih elit, tidak bau desa. Tapi bapak ibunya selalu mengecilkan niat Juminten. Katanya niat Juminten itu bertentangan dengan Allah, perempuan mempertontonkan diri di depan umum itu tidak pantas, nanti Allah marah sama Juminten dan bikin hidup Juminten sengsara sampai di akhirat. “Sudah kamu kawin saja dan punya banyak anak, itu tugas perempuan, jangan macem-macem lah nduk.”

Juminten takut Allah tapi tidak terlalu takut pada orangtua. Baginya, orangtuanya hobi menakut-nakuti dia. Orangtuanya tidak pernah main tangan atau main selangkangan pada Juminten tapi orangtuanya cukup lihai main kata. Juminten selalu merasa cilik di hadapan orangtuanya walaupun tubuhnya sudah bisa dibikin bunting.

Suatu hari waktu Juminten sedang mencari-cari kodok di sawah, ada seorang laki-laki berkulit sawo matang, berkaca mata hitam, pakai sepatu bot karet (seperti punya dinas kebersihan), pakai blue jeans sobek-sobek di dengkul dan di paha, kaos pink lengan buntung dan dimasukkan ke dalam blue jeans itu, perut seperti mau membleduk persis di antara kaos dan celananya, lengan berlipat gajih bertato gambar hati dengan tulisan di bawahnya “Dangdut yuk”, dan rambut warna jagung kematangan. Laki-laki itu sedang berdiri sambil menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan kanan, meliuk seperti ular yang dirayu oleh tiupan suling.

Ketika Juminten melihat laki-laki itu, Juminten kesengsem. Pulangnya dari sawah, Juminten tidak mau makan, tidak mau minum, Juminten terus mengurung diri di kamar. Orangtua Juminten khawatir melihat kelakuan anaknya. “Apa jangan-jangan mulut Juminten kemasukan kodok ya Pak?”, kata ibunya. “Wah ya jangan-jangan bener.” Bapak dan ibunya lalu membawa Juminten ke dukun tapi Juminten tidak sembuh-sembuh juga. Padahal setiap hari Juminten sudah dipaksa minum air kencing Bapaknya setiap pagi sesuai dengan yang disuruh Mbah Dukun.

Karena selama seminggu Juminten masih seperti orang kesambet, Juminten dibawa ke mantri tapi kata Pak Mantri, Juminten sehat walafiat tidak kekurangan satu apapun. Putus asa dengan kondisi anak perempuan satu-satunya, bapak Juminten minta obat. Tapi Pak Mantri sama sekali tidak mau kasih obat. Demi memuaskan hati orangtua si pasien, menjaga kredibilitas dirinya tapi tanpa membahayakan kesehatan si pasien, Pak Mantri kasih Juminten vitamin. Orangtua si pasien tidak ngamuk-ngamuk lagi, dan Pak Mantri merasa lega. Sewaktu orangtua si pasien mau membawa pulang pasien itu, Pak Mantri bercanda dengan mereka, “mungkin anaknya harus cepat dikawinin Pak biar cepat sembuh.”

Di luar dugaan, bapak dan ibu Juminten menanggapi ‘saran’ Pak Mantri dengan serius. Akhirnya ibu Juminten memberanikan diri bertanya, “Nduk, kamu mau ‘tak kawinin?” Tiba-tiba Juminten langsung terlihat segar. Juminten langsung lari keluar kamar, ke dapur, mengambil piring dan nasi sebanyak-banyaknya dari dandang, dan mengambil tempe yang baru saja digoreng ibunya untuk lauk makan malam. Takjub melihat perubahan Juminten yang drastis, sang bapak menggumam, “Ternyata Pak Mantri bener-bener sakti.”

Tapi kebahagiaan bapak dan ibu Juminten cuma sebentar. Juminten minta kawin sama anak laki-laki desa tetangga yang kabar-kabarnya pengangguran dan kerjaannya  main-main sama burung. Tapi karena mereka ketakutan anaknya kembali ‘sakit’, diturutilah keinginan Juminten untuk kawin sama Jon alias Ngadiman.

Pada saat kawinan, Juminten senyum-senyum sendiri karena bangga dapat suami berambut jagung. “Biarlah kulitnya gosong, yang penting rambutnya seperti bule,” gumamnya dalam hati. Juminten tidak terlalu suka dengan nama asli suaminya, maka pada saat bikin undangan dan baliho, Juminten minta khusus supaya Ngadiman langsung diganti Jon. Ngadiman tidak masalah dengan keinginan istrinya karena dia sendiri juga merasa nama Jon lebih elit. Juminten membayang-bayangkan satu kampung akan memuji-muji dan iri pada dirinya karena menyandang titel bini mister Jon.

Seperti bahagia yang instan, senepnya juga instan. Pada saat malam pertama, Juminten ditinggal sendiri di kamar. Jon bilang dia tegang karena baru pertama kali seranjang dengan perempuan. Juminten sedikit kesal tapi berusaha mengerti. Dia ingat nasihat bapakya, “jadi istri harus nurut sama suami karena suami imam di keluarga.” Malam kedua malam ketiga, sampai satu bulan habis, Jon pun masih belum sekamar dengan Juminten apalagi menjamah selangkangannya yang makin gatal pingin digaruk. Juminten sudah bosan dengan bantal dan ingin suaminya membuktikan keperkasaannya. Selain itu, kata-kata ibunya sewaktu kemarin ibunya berkunjung, terngiang-ngiang di telinga Juminten, “Nduk, kapan kamu kasih ibu ayah cucu?” Juminten ingin cerita yang sebenarnya tapi dia merasa malu karena dia sendiri yang maksa kawin dengan Jon dan menjawab, “Aku nggak mau punya anak. Punya anak bikin repot.” Ibunya langsung kaget mendengar jawaban anaknya, “Masya Allah, istighfar, Ten. Kamu mesti ingat, punya anak itu ibadah ke Allah. Nikah itu artinya kamu dan suami ngikat janji ke Allah untuk bawa anak ke dunia ini. Anak itu titipan Allah, nduk, masa kamu nolak titipan Allah? Apa kamu sudah mudarat? Apa kamu nggak mau masuk Surga?”

Juminten makin agresif, jalan-jalan bugil di depan suaminya.  Tapi suaminya tetap tidak bergeming, malah setelah itu suaminya malah pergi ke luar rumah.  Sepulangnya, Juminten bertanya ke mana suaminya pergi, tapi jawaban suaminya selalu sama, “Pergi main burung.” Tiga minggu berlalu dengan hari-hari yang kurang lebih mirip, Juminten makin senep.

Sampai satu ketika, sepulangnya si suami dari main burung, Juminten blak-blakan cerita soal kepinginannya punya anak dan berceramah soal tanggung jawab kawin persis kata-kata ibunya. Hanya kali ini, Juminten berteriak-teriak sampai urat suaranya mau putus dan diakhiri dengan tangisan yang ingusnya tidak berhenti-henti. Mendengar istrinya itu, Jon takut dengan hukuman Allah, takut tidak bisa masuk Surga. Akhirnya Jon menyetujui dan bilang, “nanti malam kita ‘main’.” “Main? Aku ngomong soal bikin anak kok kamu malah ngajak main?”, teriak Juminten dengan kesal. Jon menghela napas, mencoba menyabar-nyabarkan diri. “Bikin anak,” sahut Jon, datar. Lalu Jon minta ijin keluar rumah. Juminten mendelik mendengar permintaan suaminya tapi Jon tetap berjalan keluar dan cuma berpesan, “Aku balik sesudah Maghrib.”

Jon kembali sesudah Maghrib, sesuai dengan janjinya. Sesudah menjalankan shalat, Jon mengikuti langkah istrinya ke kamar dengan perasaan tak karuan. Ketika sudah sampai di kamar, Juminten mulai membuka pakaiannya satu per satu dan mendekati Jon, hendak melepaskan pakaian suaminya. Tapi begitu tangan Juminten menyentuh Jon, Jon gelagapan. Lalu Jon dengan gemetaran, “Aku mau ke kamar mandi dulu.” Juminten bingung namun ia tidak punya waktu untuk menanggapi karena Jon kabur secepat kilat (menurut Juminten) ke kamar mandi.

Juminten menunggu dengan gelisah. “Sudah 15 menit kok Jon nggak balik-balik?” Ia ingin menyusul suaminya ke kamar mandi tapi ia malu. Sebagai perempuan, ia merasa harus dijemput untuk urusan main ranjang. Suami minta, istri memberi. Begitulah seharusnya menurut Juminten. Akhirnya Juminten tetap menunggu walaupun lantai kamarnya basah dengan keringat dari telapak kaki Juminten. Juminten selalu sebal dengan kakinya yang suka basah apalagi kalau ia merasa gelisah. Oleh karena itu Juminten sebisa mungkin menghindari pakai sepatu karena kalau pakai sepatu, kakinya pasti bau. “Ah cantik-cantik kok kakinya bau,” Juminten selalu takut kalau ada yang berkomentar seperti itu tentang dirinya. Ia ingin orang-orang beranggapan bahwa ia cantik sempurna, tanpa bau.

Setelah 45 menit menunggu dan kaki yang semakin basah, akhirnya Jon kembali. Juminten buru-buru mengambil pakaiannya dan melap kakinya. Lalu ia menengok ke arah suaminya dan merasa senang karena suaminya kembali-kembali sudah bugil. “Mungkin tadi dia gugup. Burungnya pasti naiknya terlalu cepat liat aku bugil duluan,” gumam Juminten dalam hati. Ketika matanya menjelajahi tubuh suaminya, Juminten bingung. Jon memegang sebuah foto di tangan kirinya. Sebelum Juminten sempat bertanya, Jon sudah menerjang dirinya dengan sentuhan-sentuhan di tubuhnya. Juminten mau protes karena tidak sekalipun Jon mencium dirinya dan Jon pun tidak melirik ke dirinya. Tampaknya Jon malah lebih asyik melihat foto itu. Namun Juminten tidak terlalu peduli karena burung suaminya membawa Juminten  ‘naik ke Surga’.

Satu bulan sesudahnya, Juminten mual-mual dan kata Pak Mantri, Juminten sedang hamil. Mendengar kabar tersebut, Juminten senang karena dapat anak dan membuktikan teorinya bahwa yang berambut kuning jagung seperti bule pasti penjantan tangguh. Namun di antara kebahagiaan itu, Juminten juga sedih karena suaminya tidak pernah ‘main burung’ lagi dengannya. Suaminya selalu menghindari dirinya dan bahkan Jon sering tidak pulang ke rumah. Kalau ditanya, alasannya masih sama, “habis main burung.” Juminten tidak mengerti, apa bagusnya main burung di luar.  Seharusnya suaminya bangga dengan keperkasaannya dan ‘nagih main burung’ dengannya. Tapi Juminten sudah terlalu pusing dan terlalu lelah mengurusi tubuhnya yang semakin tambah berat. Untunglah bapak dan ibunya setiap hari datang mengurusi Juminten, termasuk mencarikan ngidamannya Juminten.

Selama hamil, Juminten ngidam makan yang manis-manis. Kata orang, itu artinya anak Juminten perempuan. Setiap kali orang-orang di kampungnya mengatakan itu, Juminten selau menjawab bahwa ia senang, “Anak laki-laki dan anak perempuan sama saja kok.”  Namun diam-diam dalam hati, Juminten protes pada Allah, bahwa seharusnya Juminten dapat anak laki-laki. Juminten ingin punya anak yang nantinya jadi Imam supaya bisa mengantarkan seluruh keluarganya ke Surga.

Sembilan setengah bulan berlalu, bayi Juminten belum juga brojol. Cemas dengan keadaan kehamilan Juminten yang ketuaan, Pak Mantri akhirnya merujuk Juminten untuk ke rumah sakit yang baru dibangun, 100 km dari desanya. Bersusah payah dengan tubuhnya yang semakin berat, Juminten bersama dengan orangtuanya naik menumpang truk pengangkut ayam yang kebetulan lewat di rumah sakit itu. Suami Juminten tidak pulang-pulang saat itu dan tidak ketahuan di mana suami Juminten main burung. Memang Jon selalu mengelak kalau ditanya oleh istrinya soal hobi perburungannya.

Sesampainya di rumah sakit, dengan rujukan Pak Mantri, Juminten diterima sebagai pasien, dengan syarat, Juminten mandi dulu untuk menghilangkan bau ayamnya. Pada saat keluarga Juminten protes, “Anak saya ini mau melahirkan, sus. Gimana sih, kok malah disuruh mandi.” Dengan tenang, perawat itu menjawab, “Pak, ini rumah sakit baru, kita susah payah akhirnya disetujui Pemda di sini buat bangun rumah sakit. Maka dari itu, kami kepinginnya rumah sakit ini dikenal sebagai rumah sakit manusia sesuai dengan akta pendiriannya, dan bukan rumah sakit hewan.” Akhirnya setelah perjuangan selama 20 jam ditambah 4 jam mandi, Juminten melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama “Bencong Lu” karena keteledoran perawat yang sama. Namun begitu, Juminten bersyukur pada Allah bahwa jalannya ke Surga dimudahkan dengan kehadiran seorang anak laki-laki, walaupun namanya Bencong.

Bersambung

<< Sebelumnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: