biduan

berlari aku berpacu ke titik
sida-sida menilik dengan hati menggiris
jutaan mata menaruh pasak di lidahnya
gita tidak boleh bersuara
janji-janji satu per satu lepas
seperti kancing yang kedodoran

aku berlari lagi
semakin aku dekat
titik itu semakin jauh
aku mengikat kakiku dengan besi baja
agar titik itu tahu tekadku
namun ia semakin jauh
dan pandangku semakin buram
sinarnya makin kusam

dinda-dinda menangis di pelataran
kanda-kanda mengasah mimpi
tidakkah adinda menyulam waktu untuk kakanda?
apakah kakanda juga memahat asmara untuk adinda?

kakiku memberontak
tapi hasratku memaksanya untuk terus berpacu
titik itu semakin jauh
namun titik jadi titik-titik

kakiku lemah kakiku malang
ia kebingungan
nakhoda oleng
akhirnya lama-lama ia berhenti
dingin tanpa keringat

biru
damaikah hati
ketika gapaian terlalu jauh
waktu terlalu pendek

titik-titik pelangi
akankah kau impian anak manusia yang kesepian?
akankah kau warnai hati yang duka?
akankah kau balut luka jiwa?
akankah kau sulap kembali nyata

hingga impian bukan lagi impian
anak-anak berlari berlompatan
dalam aksara hidup dan cinta
yang tak mati oleh tebasan pedang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: