Cari Surga (3)

Juminten meremas kertas itu lebih kuat lagi. Ia merasa lelah dan ia ingin tidur. Namun jantungnya belum membiarkan ia untuk mengistirahatkan mata, tubuh, hati, dan pikirannya. Seakan-akan ia terasuki oleh suatu energi aneh yang membuatnya mengingat dan memutar kali adegan-adegan masa lalunya, yang ingin ia gilas dengan setrika terpanas, sehingga tipis, bolong, hangus, dan akhirnya hilang. Namun tampaknya Tuhan tidak ingin Juminten hilang ingatan, dan ia tetap waras dengan ingatan-ingatan masa lalunya. Semakin ia ingin lupa, ia semakin ingat. Semakin ia ingat, semakin ia ingin mengambil pisau dari dapur dan mengiris nadinya, atau mungkin mengorek isi perutnya karena ia mual setiap kali ia ingat suami dan anaknya. Namun ia tidak berani. Pikirannya tentang hikmat surga dan neraka yang didengungkan padanya sejak kecil selalu menghentikannya. Jadilah Juminten menyerah.

Bencong kesayangan Juminten. Tidak seperti ibunya yang gagap aksara, gagap dalam pembicaraan dengan orangtuanya, gagap dengan suaminya, yang duka dan marahnya sedikit demi sedikit mengiris hatinya. Semuanya tidak lucu lagi, tidak lagi seperti humor. Juminten kehilangan humornya, kehilangan keluguannya. Semua terenggut ketika ia hendak mencari Surga di anaknya dan juga suaminya. Bagaimana mungkin suaminya bisa mengantar keluarganya ke Surga, dia sendiri sudah mengangkangi Surga dengan permainan burungnya.

“Juminten lugu, Juminten bodoh,” gumamnya dalam hati di kamar mandi ketika ia sedang buat hajat, setelah ia mendengar desas desus tetangga tentang suaminya. Memang, sejak Juminten melahirkan Bencong, setiap kali Juminten merasa cemas dan tertekan, ia pergi ke kamar mandi dan buang air besar. Herannya perut Juminten malah semakin buncit, bukannya semakin rata. Semakin hati Juminten teriris, gas neraka sedikit demi sedikit mengisi perutnya. Mungkin syaiton-syaiton mengira perut Juminten balon yang dipakai sebagai hiburan di neraka yang terlalu panas, begitu batin Juminten beradu ketika ia melihat perutnya di cermin.

Air mata menggenang di matanya yang semakin hitam dan berkantong, sepertinya mata Juminten tidak kalah besar inginnya untuk buang hajat di matanya. Masa anak-anak meninggalkan Juminten dan sekarang Juminten berkeluarga, harus menghadapi kerumitan masa dewasa. Batin Juminten menjerti apalagi ketika suaminya malah sibuk main burung, bukan burung perkutut, burung jalak, burung beo, burung merpati, atau burung-burung lainnya. Suaminya, yang sering pergi untuk main burung, bohong dan jujur sekaligus. Ia jujur soal bermain burung tapi bohong untuk tidak menyebut kalau dia main dengan burung di antara paha Joko, Subagio, Mandra, Dindon, Mister Wa’it, dan pemilik burung berdaging peluru lainnya.

Ngadiman hilang hormatnya di mata Juminten. Ngadiman egois, main burung di saat Juminten ingin liangnya dikunjungi oleh burung Ngadiman. Tapi ternyata Ngadiman lebih senang sama yang juga punya burung. Jadi Ngadiman bisa memainkan burung sekaligus dimainkan burungnya. Ngadiman memang rakus. Persis kelakuannya di meja makan yang selalu makan tiga perempat nasi yang ada di dandang. Kalau Juminten tidak ambil duluan, mungkin Ngadiman habiskan semuanya.

Di samping semua itu, Juminten bingung. Ngadiman tampak sayang pada Bencong. Dia sering mengajak Bencong bermain ke sawah, menangkap kodok bareng, main layangan, dan menyisakan nasinya untuk anaknya. Tapi sebelum selesai dengan bingungnya, Ngadiman sudah ambil keputusan sendiri. Ngadiman pamit pada Juminten untuk cari surga di tempat lain. Katanya ia ingin cari surga. Juminten membalas, “Bang, kalau kamu ninggalin keluarga, mana bisa kamu masuk surga.  Mau sama Joko, Mandra, Din din apalah itu? Yang ada kamu masuk neraka, dikutuk Allah.” Ngadiman, dengan datar menjawab dengan kata-kata yang sering dibayang-bayangkan dan dilatih ketika ia main burung, “Burung-burung mereka nerbangin abang ke surga.” Juminten menangis dan bertanya bagaimana nasib Bencong dan dirinya kalau ditinggalkan oleh Ngadiman. Namun keputusan Ngadiman sudah bulat. Ia akan mengirim uang setiap bulan untuk Bencong tapi ia tetap akan pergi. Dulu ia menyerah pada orangtuanya saat dipaksa kawin dengan Juminten, sekarang tekad Ngadiman telah mantap. Burung-burung sudah menawan tubuhnya dan hatinya.

Setelah kepergian Ngadiman, Juminten tiap hari menangis. Saat itu umur Bencong 5 tahun dan Bencong diam saja saat ibunya menangis. Bencong juga pasrah saat ibunya satu bulan tidak mau bicara ataupun melihatnya. Karenanya, Bencong dititipkan pada bapak dan ibu Juminten. Juminten lapar terus, ia bisa makan apapun yang ada, pernah juga ia makan kertas, meja, kursi, dan lantai-lantai rumahnya bolong. Pada saat ibunya datang berkunjung, ibunya bertanya mengapa lantai rumahnya banyak yang bolong dan kursi hilang semua. Juminten menjawab banyak tikus. Tapi ketika bapak Juminten sekali-kali menangkap basah Juminten makan meja, kuatlah dugaan bahwa Juminten juga yang makan lantai rumah. Bapak dan ibu Juminten mengelus-ngelus dada. Mereka tidak berani membawanya ke Pak Mantri karena takut diomongi orang. Menantunya kabur saja sudah bikin mereka harus pakai kain di atas kepalanya dan menunduk setiap kali keluar rumah. Hanya pada saat mereka kerja di sawah, mereka harus meninggalkan kain mereka demi kepraktisan dan merasa semua mata melihat ke mereka, penuh iba, cibiran, dan hinaan. Semuanya bukan lagi terasa seperti komedi, melainkan tragedi.

Bencong, 4 tahun, punya bakat untuk merasa-rasa orang lain. Ketika ia memeluk orang, ia bisa langsung tahu orang itu sedang sedih, senang, kesal, marah, ataupun konstipasi. Bencong jarang bicara dengan orang lain tapi Bencong sering ngomong sendiri kalau menjelang tidur. Juminten dan Ngadiman sendiri sering memukuli Bencong kalau Bencong kedapatan bicara sendiri. Saat ditanya, Bencong menjawab kalau dia ngomong dengan Bimbim, temannya. Mereka menganggap Bencong lama-lama bisa sinting kalau ngomong sendiri melulu. Bencong pernah melawan dan tetap ngomong pada Bimbim tapi setiap ketahuan, Bencong bukan cuma dipukul tapi juga dimasukkan ke dalam ember besar, dan dibiarkan ketakutan dalam gelap. Akhirnya Bencong, 5 tahun, pamit sama Bimbim untuk tidak datang lagi.

Satu tahun kemudian, ketika Bencong umur enam tahun, Juminten mulai ngomong. Setelah ia merasa neraka di perutnya membludak dan akhirnya keluar melalui kentut yang panjangnya satu minggu, Juminten datang mengetuk rumah orangtuanya dan minta Bencong dipulangkan. “Aku kangen Ben”, katanya. Sejak kecil, Juminten selalu panggil Bencong dengan penggalan depannya saja karena ia malu dan merasa bersalah telah membiarkan nama itu untuk putra semata wayangnya.

Ben akhirnya pulang. Walaupun Juminten sayang pada anaknya, Juminten tidak bisa banyak ngomong dan melihat Ben. Setiap ketemu anaknya, Juminten membuang muka atau pura-pura sibuk membersihkan rumahnya yang kelewat bersih sampai lecet-lecet karena terlalu sering digosok dengan keras. Sering juga Juminten ngomong dengan anaknya kalau ia lagi di kamar mandi. Juminten buang hajat dan Bencong duduk di depan kamar mandi, ngobrol dengan ibunya. Juminten merasa bersalah karena tidak bisa dekat dengan Ben seperti ibu dan anak yang lain tapi setiap kali Juminten dekat-dekat Ben, ada keinginan yang besar untuk kabur ataupun ke kamar mandi. Walau begitu, Ben tetap lembut padanya dan menunjukkan kasih sayang yang luar biasa.

Selama ini Juminten melarang Bencong keluar rumah.Kalau Bencong memaksa ingin keluar, Juminten pura-pura sakit perut dan Bencong, karena merasa bersalah, akhirnya tinggal di rumah. Tapi saat Bencong tujuh tahun, bapak Juminten memaksa Juminten agar anaknya pergi sekolah.  Saat Bencong pertama kali sekolah, Juminten berada di kamar mandi sendirian. Ia ketakutan saat membayangkan guru sekolah Ben memanggil nama lengkap anaknya dengan Bencong. Ketakutannya terbukti, ketika anaknya pulang, anaknya bertanya soal kenapa teman-temannya meneriakkan namanya berkali-kali dan tidak mau duduk bareng Bencong. Juminten berbohong untuk menyenang-nyenangkan anaknya. Namun setelah itu, Juminten langsung merasa menyesal. Ia merasa kesempatannya untuk masuk Surga semakin kecil. Begitulah keadaannya setiap kali Bencong pergi sekolah dan bertanya macam-macam soal kelakuan temanya.

Di satu siang, Bencong umur delapan tahun, Bencong menanyakan hal yang berbeda, ia bertanya apakah benar surga ada di telapak kaki ibu. Dalam bayangan surga yang semakin jauh dan neraka yang sejengkal lagi, Juminten mengiyakan dengan singkat dan mengalih-ngalihkan pembicaraan. Kalau anaknya mendesak, Juminten pura-pura sakit perut, sampai akhirnya Bencong berhenti bertanya lagi. Hanya sesekali Bencong bertanya namun tidak bertanya lebih lanjut ketika Juminten telah menganggukkan kepala. Tidak hanya itu, Bencong tampak lebih perhatian pada Juminten. Juminten, si kaki basah, merasa bahagia pada saat Bencong di satu sore, menawarkan untuk mencuci dan memijat kaki ibunya. Kebiasaan ini berlangsung rutin setiap sore dan tiap Bencong menyentuh dan mengelus kakinya, muncul perasaan jijik dalam diri Juminten. Ia ingat suaminya, bapak Bencong yang suka main burung. Ia berusaha untuk menyingkirkan jijiknya karena ia tidak ingin mengecewakan putra yang disayanginya. Biarlah putranya berbakti, sehingga kalau Juminten tidak bisa masuk surga, anaknya bisa, begitu pikir Juminten.

Sesekali Juminten merasa bersyukur punya anak lembut dan penyayang seperti Bencong tapi begitu sayang itu terbit, dalam kepalanya, muncul pula sosok suaminya. Juminten merasa diombang ambing sehingga ketika memasak, makanannya selalu keasinan atau tawar. Namun anaknya diam saja dan bahkan memuji-muji masakan ibunya enak sekali. “Rupanya Allah masih sayang padaku,” desis Juminten dalam hati.

Maka Juminten tidak mengerti mengapa anaknya tega padanya. Malam sehari setelah anaknya dihukum karena telah mengorek-ngorek retakan di kakinya, Bencong berpura-pura sakit pusing dan minta ijin tidur duluan. Tapi ketika Juminten terlelap, Bencong mengendap-ngendap ke kamar Juminten sambil membawa pisau dari dapur. “Ibu… Bencong cari surga untuk ibu,” bisik Bencong ke telinga ibunya. Sayup-sayup jauh dalam mimpinya, Juminten mendengar anaknya. Dalam mimpinya, ia dan Bencong dijemput Malaikat Jibril, dibebaskan penderitaannya dan masuk Surga. Hanya dalam mimpi itu, Juminten bisa memeluk anaknya dan saat itulah, ia dengar suara anaknya. Kemudian ada sesosok gelap yang besar memukulkan panci bara merah ke perutnya.

Juminten terbangun tiba-tiba, nyawanya bagaikan dicabut, dan ia mendapati anaknya mengayunkan pisau ke pergelangan kakinya. Juminten berteriak dan segera berusaha menghentikan anaknya. Ia berkata berkali-kali pada Bencong, “Istighfar nak, istighfar. Ibu banyak salah ke kamu tapi masa’ kamu mau bunuh ibu, ibu yang melahirkan kamu,” sambil menahan tangan anaknya. Namun Bencong tetap bersikukuh dengan niatnya dan tampak tidak mempedulikan kata-kata Juminten. Bencong berpikir bahwa akal ibunya hilang dicuri bapaknya dan ia terpaksa harus menyelamatkan ibunya, walaupun dengan cara yang menyakitkan sekalipun. “Aku harus cari surga untuk ibu,” gumam Bencong dalam hati. “Kalau surga tidak ada di permukaan telapak kaki ibu, surga pasti ada di dalam telapak kaki ibu,” pikir Bencong, saat ia memutuskan untuk ke dapur, mengambil pisau itu untuk ibunya. Oleh karena itu, Bencong terus menguatkan niatnya semakin ibunya memohonnya untuk berhenti.

Sampai akhirnya pada detik-detik ketika pisau Bencong berkilat hampir menyentuh dadanya, Bencong tersentak. Juminten langsung mengambil pisau itu dan ia tidak sengaja melukai lengan anaknya. “Masya Allah!” seru Juminten. Bencong tampak kaget, tak percaya bahwa ibunya tega melukai dia, padahal, “Bencong cuma ingin cari Surga buat ibu.” Juminten sangat menyesal sampai-sampai ia ingin memuaskan hasrat pisau itu dengan darah di lehernya. Ia terhenyak, nyawanya kali ini benar-benar telah dicabut Syaiton, pikirnya.

Melihat ibunya pucat tampak ekspresi, Bencong kaget, ia merasa tidak sanggup dan telah gagal mencari surga untuk ibunya. Rasa penyesalannya mendorong dirinya mendekati ibunya dan meminta maaf. Namun yang terlihat di mata Juminten adalah Ngadiman. Penuh duka, amarah, dan dendam, Juminten menampar, memukuli, dan menendang “Ngadiman”. Setelah lelah hampir kehabisan tenaga, Juminten memberikan tendangan terakhirnya pada “Ngadiman” dan mengutuk, “Dasar syaiton laknat, pergi kamu!” “Ngadiman” kecil, hatinya perih, tertusuk-tusuk oleh kata-kata ibunya, akhirnya pergi meninggalkan rumah, sementara Juminten tertidur kelelahan. Setengah jam kemudian, Juminten bangun. Kepalanya berat dan ia bertanya-tanya apa yang terjadi. Perlahan-lahan sang waktu menghukumnya. Jiwa Juminten seperti tertarik keluar, dan ia dipaksa untuk duduk menyaksikan film tragedi yang direkam di kamarnya. Asin dan pahit di lidahnya, dan asam di langit-langit mulutnya saat ia mendapati anaknya sudah pergi, meninggalkan dirinya dengan kepingan rasa bersalah dan tawa penghuni neraka.

Bersambung

<< Sebelumnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: