dunia pecha

Konon selain di muka bumi, di dalam bumi juga ada kehidupan. Di sana orang-orangnya  seperti komedo-komedo di hidung, melawan hukum kepantasan. Di sana, semuanya serba terbalik. Kalau kita yang berhasil turun ke dalam dan melihatnya, katanya kita akan mati dalam waktu 24 jam karena gila. Tidak, mereka bukan bangsa barbar yang gemar membunuh dengan tangan berlumuran darah. Tapi kita sendirilah yang akan dengan suka rela bunuh diri dengan cara apapun, dengan makan tanah beracun yang ada di sisi sungai utama yang membelah negara di jantung bumi itu.

Dengar-dengar juga, ada cara-cara untuk menghilangkan racunnya, namun setiap kali warga di sana berusaha untuk memberitahu si pengunjung, si pendatang akan memohon belas kasihan pada sang penduduk untuk membiarkanya bebas dalam mati. Begitulah keadaannya sehingga rahasia keberadaan mereka cukup aman. Namun karena manusia suka mencucukkan hidungnya ke tanah, keberadaan mereka pun tercium juga walaupun hanya dalam bentuk mitos. Kabar tentang keberadaan masyarakat ini cuma lewat mulut ke mulut, sehingga banyak cerita yang mungkin melenceng dari aslinya karena tambahan-tambahan usil manusia yang sukanya merusak dan menciptakan semesta baru.

Seperti anomali yang dilegalkan oleh nafas gila bumi, di sana ikan-ikan hidup di darat, menjadi tonggak masyarakat dan pemerintahan, sementara manusia bagaikan anjing pesuruh ikan-ikan tersebut. Manusia tidak bicara dalam lafal bahasa yang kita ketahui. Mereka menggonggong. Manusia di sana benar-benar asu. Ikan-ikan itu tidak lagi bersisik dan berinsang. Sisiknya telah berubah menjadi bulu-bulu dan insangnya sekarang bermutasi menjadi paru-paru kecil.

Ikan-ikan tersebut duduk sepanjang hidupnya. Mereka duduk di sebuah mesin seperti kursi roda elektrik dengan chip pengendali. Chip tersebut berhubungan dengan otak mereka dan langsung menerjemahkannya dalam bentuk perintah-perintah yang dimengerti oleh sang kursi elektrik. Ketika hendak berpindah tempat, kursi roda itu akan berjalan sendiri di atas tanah, berubah menjadi kapal apabila hendak berlayar, bertransformasi jadi kapal selam jika ingin masuk ke dalam sungai, dan terbang jika ikan-ikan itu menginginkannya.

Mereka juga berkomunikasi melalui transmisi chip tersebut bagaikan telepati. Kalau mereka bertemu manusia asing dari muka bumi, dengan otomatis, chip tersebut akan menganalisis bahasa sang manusia dan menerjemahkan isi pikiran ikan-ikan tersebut dalam bahasa yang dikuasai oleh manusia itu. Dengan kata lain, peradaban mereka jauh melangkahi manusia yang katanya makhluk paling beradab.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: