Cinta (1)

Love

Love

Di sebuah negara yang langitnya warna kuning dan mataharinya hijau, hiduplah seorang anak perempuan dari keluarga bangsawan. Nama keluarga bangsawan ini konon tidak boleh disebut-sebut karena akan membawa kutukan luar biasa yang menimpa keturunan-keturunan kita hingga habis sampai  garis kelima. Kutukan ini pun tidak pernah diketahui bahwasanya tidak ada seorang pun yang pernah mencoba untuk melanggar ataupun punya keinginan secuil pun untuk melakukannya. Namun nama anak perempuan itu boleh disebut karena ia sendiri sudah mematahkan kutukannya dengan menyebutkan namanya pada sebuah bunga merah, walaupun nama keluarganya tetap harus jadi rahasia.

Anak perempuan itu namanya Cinta, diberi nama demikian karena orangtuanya sungguh mendalami ilmu pertengkaran setiap hari dan ilmu tenaga dalam. Setiap waktu mereka tidak berhenti membenci dan curiga, melempar vas-vas, dan meja-meja layaknya melempar kertas. Namun mereka tidak pernah terluka tubuhnya karena konon mereka dalam duka dan dendam yang mendalam pergi ke hutan untuk bertapa dan berhasil mendapatkan aji-aji. Yang istri mendapat aji kekebalan sedangkan si suami dikaruniai aji penyembuh yang membuatnya lukanya langsung menutup hanya dalam hitungan detik. Namun di antara gigitan amarah dan benci tersebut, Cinta lahir sebagai harapan untuk memutus kutuk dalam keluarga mereka sendiri.

Kata orang, Cinta berwajah cantik, sampai-sampai ketika kita melihatnya, kita akan bernyanyi mazdah syukur atas kebesaran Tuhan. Dari nafas dewa laut, rambut birunya bergelombang menyusuri kembar manis surgawi hingga rekah mukjizat penciptaan. Wajahnya dan lehernya putih seperti porselen dan tangannya hitam legam. Tidak ada yang tahu rahasia warna di balik gaun putihnya karena ia tidak pernah mempertontonkan keindahannya lebih dari anggukan lembutnya dan anggun tangan-tangannya.  Bibirnya kemerahan seperti apel surgawi yang menawarkan godaan, dan matanya bewarna hijau dengan bola mata perak yang di garis luar lingkar bolanya terdapat korona seperti gerhana matahari namun bewarna biru. Telinganya bukan telinga manusia, namun lebih menyerupai telinga seekor kancil dan karenanya, ia bisa mendengar suara apapun, termasuk suara yang bukan dari manusia. Hidung Cinta mancung dan orang-orang mengira-ngira apakah ia memasang susuk, namun ia dikaruniai bentuk hidung sempurna sejak lahir. Cinta mengetahui urusan bincang-bincang di belakang pantat orang-orang namun memilih untuk menganggapnya sebagai cinta yang tertahan.  Jari-jari Cinta lentik dan apabila ia menggesekkan jari-jarinya, akan terdengar lantunan musik seperti dawai-dawai yang dipetik oleh malaikat. Saat ia berjalan, angin pun menuntun tubuh rampingnya dalam tiap gerak.

Keberadaan Cinta membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Saat ada orang yang bertengkar satu sama lain dan dipenuhi dendam, seketika hati mereka akan penuh maaf dan cinta, cukup hanya mendengar lantunan jari Cinta. Cinta adalah anugerah dari Tuhan, kata mereka, walaupun mukjizat Cinta tidak bisa mendamaikan orangtuanya yang kelewat buta oleh benci. Tidak ada yang tahu mengapa orangtua Cinta bisa menikah, punya anak, namun dikuasai amarah yang mampu menghancurkan dunia. Tidak ada yang berani memperbincangkannya terang-terangan, hanya dalam hati agar tidak ada seorangpun yang memberi kabar pada orangtua Cinta. Udara pun bisa jadi penyebar kabar burung, anggap mereka. Di tempat itu, orang-orang cukup hati-hati dalam berkata-kata karena selain udara yang punya telinga lebih besar dari siapapun, kata-kata adalah doa yang bisa jadi kenyataan.

Sebelum kelahiran Cinta, tempat itu hancur karena orang-orang terbawa nafsu pasangan suami istri bangsawan tersebut. Perang di mana-mana. Orang-orang meninggalkan pekerjaan mereka, anak, istri, suami hanya untuk memuaskan nafsu kuku-kuku jari mereka dengan darah siapapun, tanpa memandang hubungan keluarga, bahkan mereka saking hausnya, tidak ragu menyakiti dan merajah diri sendiri. Namun ketika Cinta hadir di desa itu, sedikit demi sedikit ketegangan benci tersebut berkurang, orang-orang mulai lagi damai hatinya, tempat itu mulai dibangun lagi hingga menjadi tempat selayaknya peradaban umat manusia.

Di tempat itu, orang-orang berpindah bukan dengan kaki, melainkan dengan keinginan. Tubuh mereka akan bergerak sesuai dengan keinginan hati mereka, bukan dengan pikiran ‘seharusnya’. Apabila orang tersebut malas pada hari tertentu, maka sudah menjadi ketentuan umum bahwa orang itu tidak akan bisa pergi bekerja dan tidak akan mendapat jatah makanan untuk mereka dan keluarga. Uang tidak pernah ada, karena keinginan hati adalah penentu. Kewajiban pun tidak ada, karena semuanya ditentukan oleh hak atau pilihan hati. Oleh karena itu, orang-orang di desa itu menghabiskan akhir minggu dengan bersemedi untuk menguatkan hati mereka masing-masing.

Tidak ada aparat penegak hukum di desa itu karena Setan-setan akan menelan jiwa mereka yang terjerat.  Apabila ada warga desa yang hatinya dipenuhi tamak, dengki, benci, mereka akan menyumpah-nyumpah dengan nama-nama dan bahasa setan, mencuri, membuang sampah sembarangan, dan sebagainya sesuai dengan bibit-bibit yang mereka semai dalam hati mereka. Kemudian  jiwa orang-orang tersebut akan ditawan oleh setan pemilik nama, bahasa, dan niat tersebut. Sekali-kali ada orang yang iri dengan Cinta dan menggunjingkan dirinya. Namun ketika Setan hendak merampas jiwa orang tersebut, alih-alih mengisi hatinya dengan rasa benci yang terpuaskan, Cinta malah menyuruh  Setan untuk melepaskan jiwa orang tersebut dengan memberi maaf meskipun orang itu tidak pernah memintanya. Maaf yang muncul bukan dari suatu keharusan namun dari suatu penerimaan hati yang terdalam. “Suatu maaf adalah maaf yang sesungguhnya kalau maaf  itu menembus batas rasa ketidakadilan dan dendam,” katanya pada Setan suatu hari saat Setan hendak menuntut bagian dari jiwa-jiwa yang terjerat kerlingan matanya.

Cinta, 16 tahun, seorang remaja yang penuh cinta dan belas kasih untuk warga-warga dan juga alam sekitar. Selayaknya remaja umur 16 tahun, ia jatuh cinta. Ia sempat tidak mau makan dan tidak mau tidur berhari-hari karena tersengat cinta yang membawanya pada keagungan yang tertinggi, yang membuatnya bersatu dengan keheningan dan kegusaran alam, langit dan bumi hingga tanpa batas. Virus Cinta pun menjangkiti hati warga desa itu. Mereka jatuh cinta lagi dengan pasangan mereka dan menghabiskan sebagian hari mereka untuk membangun sarang cinta mereka. Walaupun mereka menghabiskan lebih sedikit waktu di ladang, padi-padi dan tumbuhan-tumbuhan lain yang mereka tanam menimpali cinta mereka dengan memberikan buah-buah terbaik dari yang pernah mereka dapatkan. Matahari bersinar semakin terang namun ia menahan panasnya, dan merelakan awan untuk menutup mata mereka sehingga udara menjadi lebih sejuk. Musim semi datang lagi di tengah musim panas. Hujan sesekali merayakan cinta-cinta tersebut dengan menurunkan belaian-belaiannya selayaknya mani yang memberi gairah pada kuntum yang merekah.

Di antara hamparan cinta-cinta itu, orangtua Cinta yang sibuk bertengkar akhirnya memperhatikan perubahan perilaku anak perempuan mereka satu-satunya dan bertanya pada anaknya apa yang membuatnya risau. Sekali-kali dalam dasar kebencian, terbetik juga rasa kasih di dalamnya. Cinta, dipenuhi dengan kegembiraan karena cinta orangtuanya, akhirnya menghentikan lamunnya sebentar, untuk mengatakan bahwa ia ingin merasakan cinta yang menggebu-gebu, yang membuat orang rela jatuh ke jurang, melewati sungai api, dan membelah samudera. Hati Cinta hanya mengatakan yang seperlunya karena ia sendiri belum yakin akan saat dan bahwa Sang Pilihan Hati  akan menerima cintanya.

Orangtuanya yang kegirangan karena Cinta siap meneruskan keturunan keluarganya, menghentikan pertengkarannya selama dua bulan. Mereka hendak menyelenggarakan sayembara puisi dan cerita, dua hal yang selalu Cinta lakukan di sela-sela waktu yang berhenti sesaat dan melaju terlalu cepat. Pemenang sayembara itu akan menjadi pasangan hidup Cinta, atau dengan kata lain suami Cinta. Mereka menggaung-gaungkan sayembara itu ke seluruh penjuru, termasuk ke tempat-tempat yang jauh, di luar desa mereka. Mendengar sayembara yang akan dilaksanakan tersebut, hati Cinta yang biasanya dipenuhi kehangatan menjadi getir, dan suasana desa tersebut pun penuh kesedihan, patah hati, dan kecewa, tanpa alasan yang jelas. Berhari-hari orang-orang akan tidur meringkuk di rumah mereka tanpa punya gairah hidup. Sawah pun terlantar dan banyak orang yang sakit-sakitan. Cinta berusaha untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan menyenang-nyenangkan dirinya dengan impian-impian. Namun ia selalu kembali ke kekecewaan yang mendalam karena ia mengetahui bahwa impian itu hanya akan jadi angan-angan, tanpa jejak untuk menjadi nyata.

Ayah dan ibu Cinta yang sedari dulu selalu sibuk dengan persoalan mereka sendiri, tidak mengetahui bahwa kesedihan Cinta adalah penyebab kemalangan desa itu. Mereka terlalu sibuk dengan urusan persiapan sayembara sampai-sampai tidak menyadari pula bahwa anak gadisnya patah hati. Mereka tidak tahu bahwa Cinta sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Cinta cemas  bahwa pemenang sayembara tersebut mungkin bukanlah sang pujaan hati walaupun puisi-puisi dan nyanyiannya merupakan yang terindah dari yang terindah. Kekasih hatinya mampu memetik dawai-dawai angin dan menceritakan rahasia-rahasia hidup, bahkan ia mengetahui rahasia yang ditutup oleh Setan karena Setan iri pada Tuhan. Penawan hati, pujaan jiwa yang menciptakan sungai kecil mengalir dengan tenang dan ombak yang mengganas dalam hatinya. Sang kekasih jiwa yang menghibur seluruh perasaan Cinta dengan wangi bunga yang membawanya pada puncak syukur pada Tuhan, pada langit, dan doa-doa yang menumbuhkan jiwa. Semakin ia ingin melupakan, makinkah ia tak dapat lepas dari kenangannya itu. Cinta putus asa karena ia lama-lama dijerat keraguan mendalam bahwa sang pujaan hati tidak mungkin ikut sayembara. Karena walaupun nafasnya adalah dari Tuhan, kekasih hatinya bukanlah dari golongan manusia.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: