Cinta (2)

Dalam Kegelapan, Aku Menulis Hatiku Padamu

Gandakah suatu cinta harus berbuah?

Di padang yang sepi, Cinta melebur dukanya dengan rumput-rumput yang menyapanya. Gemerisik hujan membasuh matanya yang kelelahan. Daun-daun meniupkan nafas sang angin pada setiap jengkal kulitnya.

Cinta memandu setiap burung yang terbang di atas kepalanya dan menjadikan jari hitamnya untuk tempatnya beristirahat dan berceloteh tentang kemarau hari di dunia seberang sana. Mereka berkicauan membentuk lantunan lagu alam yang menggoda sukma-sukma alam, menonton dan mendengarkan di balik jubah mereka masing-masing.

Syahdu Cinta membuka jembatan hatinya, membiarkan setiap nafas detak jantung kehidupan mereguk manis madunya. Cinta merangsek dalam setiap aliran darah dalam nadi-nadi yang kehausan. Kegilaan atas nama Cinta bukanlah pesakitan namun kebebasan yang bersatu dengan hidup, mati, asa, harapan, kebangkitan, dan nyawa yang pulang pergi dari tangan-tangan malaikat penghantar dan penjaga.

Lidah-lidah yang kecewa atas nama Cinta, adalah duka yang indah. Bukan kecewa pada diri, namun pada Cinta yang retak karena patah hatinya. Cinta mengerti, Cinta memahami rahasia-rahasia hidup atas kutub-kutub yang bertentangan, yang bergeser seiring tumbuh jiwa, seperti sel-sel yang mengharap untuk berkembang jadi jaringan, jaringan jadi organ, dan organ membentuk kehidupan.

Kitab-kitab ditulis atas nama Cinta, untuk memuliakannya dan juga untuk merayakan kesedihan dan sepi yang memabukkan. Katamu dan kataku, Cinta memadu dalamnya, membentuk not-not yang memberi nama “indah” pada dawai-dawai kehidupan. Kapankah engkau akan datang? Kapan pulakah engkau pergi Cinta?

Tangan-tanganmu, kuharap membelaiku dan memanjaku dengan sentuhan kelembutan, kegarangan, kekuatan, dan ketegaran. Tahukah kau bahwa benci adalah cinta yang kecewa? Singgahlah dalam hatiku, Cinta, agar kau tahu, aku punya ruang pembebasan, syukur, ikhlas yang siap mendengar petik dawai surgawi, dari kehangatan jiwamu dan ajaib kehidupan. Dan kuharap aku sampai padamu, seperti awan yang mengharap pada sungai, ombak, dan samudera.

====

Advertisements

2 thoughts on “Cinta (2)

  1. benci adalah cinta yg kecewa.

    -likes that statement!! *sama miris dikit sih

    • cantingcandrakirana says:

      makanya, berjuang!!! ayo innnn. ngutip dari negeri 5 menara, “man jadda wajada”: siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. dan awal dari kesungguhan adalah keberanian untuk melakukan tindakan nyata. kalau menemui tantangan atau masalah, ikhlaskan. ikhlas untuk merasa kecewa dan belajar, dan ikhlas yang sejati itu adanya dalam perjuangan yang sungguh-sungguh. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: