Hands that Change My Life Forever

Pernahkah kamu mengalami satu kejadian yang ternyata mengubah hidupmu yang tadinya abu-abu kebiruan tiba-tiba jadi warna kuning? Saya pernah dan kalau dipikir-pikir lagi, buat saya itu keajaiban yang sangat besar. Tidak seheboh bisa berjalan di atas air atau mendatangkan dan menghentikan hujan sejati tentunya, tapi kejadian ini membuat saya merasa benar-benar hidup alias berjalan menapak tanah dinaungi oleh langit. Tentu saja saya manusia, sebagaimana makhluk hidup di bumi, jalannya pasti di atas tanah, tapi dulu pikiran saya mengawang-ngawang. Tidak jelas mau ngapain. Sekolah yang ‘benar’, nilai bagus kalau bisa masuk ranking 10 besar, makan, tidur, nonton sinetron (yak saya waktu kecil mengertinya kalau menonton, ya nonton sinetron atau telenovela, karena itu budaya mbak-mbak dan mamak saya di rumah). Setelah sekolah, hm, mungkin kerja, tidak pakai nikah, yang penting punya banyak uang tanpa tahu uangnya mau diapakan. Soalnya ya itu, hidup saya sepertinya cuma numpang lewat. Iman saya saja setengah-setengah, ke Gereja, cuma supaya saya bisa pakai baju bagus dan ditraktir makan oleh tante saya sepulang Gereja. Ya, itulah sepotong hidup saya dari saya SD sampai SMP. Kalau waktu orok, saya lupa-lupa ingat jadi kalau coba reka-reka, kok rasanya seperti bohong-bohongi diri. Hari ini saya berniat untuk mencoba jujur, terutama pada diri sendiri. Jadi, niat ngarang-ngarang fiktif, segera saya lupakan.

Kembali soal hidup saya yang tidak jelas itu, setelah menamatkan SMP, saya meneruskan ke SMA yang ketat peraturannya sampai-sampai kaos kaki harus sebetis, setinggi lutut, dan rok panjangnya minimal 10 cm di bawah lutut. SMA ini budayanya belajar sekeras-kerasnya dan ‘memaksa’ murid-muridnya untuk jadi kutu buku. Karena isinya perempuan semua, jadinya mudah-mudah saja karena tidak ada godaan laki-laki yang mengalihkan perhatian pada saat lagi belajar di kelas. Sejak saya menjejakkan kaki saya di kelas 1D di SMA itu, saya sudah tahu. Pertama, karena sekolah ini terkenal atas kedisiplinan kesusterannya. Kedua, SMP saya tepat berada di bawah SMA itu, secara literal, satu gedung, menyandang nama yang sama. Yang beda hanya tingkatannya saja.

Berbeda dengan SMP, SMA itu menawarkan beragam jenis ekstrakurikuler dan kami diwajibkan untuk memilih satu dan tidak boleh dua. Mungkin sekolah ini menyadari besarnya kemungkinan murid-murid sekolah itu ambisius dan memperkecil kemungkinan murid itu sendiri stress karena tidak bisa membagi waktu untuk belajar dan waktu untuk kegiatan ekstra. Ekstrakurikuler yang ditawarkan antara lain gamelan Jawa, marching brass, olahraga (basket, voli), vocal group, teater, dan sebagainya (saya lupa). Di antara kegiatan itu, tanpa pertimbangan apapun, saya mendaftar untuk masuk teater.

Teater di SMA saya itu terkenal disiplin dan punya kriteria yang ketat buat anggota-anggotanya. Kami diharuskan untuk mengikuti seleksi terlebih dahulu. Cukup bikin kaget dan was-was karena konon, seleksinya cukup menyeramkan. Tapi karena sudah terlanjur mendaftar, saya ikuti jugalah seleksi itu. Sebelum seleksi, kami dikumpulkan oleh senior kami anggota teater soal apa yang harus kami siapkan dan apa yang harus kami lakukan.

Pada saat seleksi, kami harus:
1. Memakai baju yang tidak matching, makin nabrak makin bagus
2. Menggantungkan papan nama sebesar mungkin di leher kami. yang harus ditulisi dengan informasi-informasi yang biasa kami tuliskan di diary teman waktu SD: nama, tempat tanggal lahir, hobi, dan sebagainya.
3. Karena temanya ‘binatang’, kami harus menentukan kami akan menjadi binatang apa, mempelajari soal perilaku binatang itu, mengenakan kostum sesuai dengan binatang tersebut. Masing-masing calon anggota, tidak boleh jadi binatang yang sama. Oleh karena itu, sebelum seleksi, kami harus saling berkomunikasi mau jadi binatang apa.
4. Memilih pasangan teman. Jadi mau tak mau, kami memang harus berkenalan dan saling berdiskusi. Berhubung jangka waktu antara pengumuman ini dengan seleksi yang sesungguhnya hanya sebentar, insting kami andalkan untuk memilih pasangan.

Saya, tidak tahu kenapa, agak bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. Saya memilih jadi kambing, dan saya lupa teman saya jadi apa (dasar pelupa!). Lalu karena saya tidak punya stok baju banyak saat itu dan saya tidak enak hati meminta orangtua saya membelikan baju baru, saya akali baju-baju saya yang warnanya super netral itu (abu-abu, hitam, dan khaki) dengan menempelkan potongan kain perca sisa yang bisa saya temukan di rumah. Semuanya itu saya tempel dengan selotip. Rencana yang buruk dan saya yang tidak perhitungan itu, menerima konsekuensinya pada saat seleksi. Kain-kain itu lepas satu per satu, baju saya kembali matching, akhirnya saya seperti sukarela menyediakan diri jadi korban semprotan senior-senior.

Seleksi diadakan di aula sekolah dengan lampu yang sengaja dimatika. Kondisinya suram dan depresif, dengan senior-senior berpakaian serba hitam memandang dengan mata yang hampir mencelat keluar dan kata-kata yang bikin tambah ciut. Mereka berteriak-teriak dan menyuruh kami untuk memperagakan sesuatu. Namun mereka melakukannya dengan gaya tersendiri, yang belakangan saya tahu tujuannya adalah untuk menguji mental. Menggunakan kata-kata yang menghujam-hujam ulu hati sehingga siapapun yang berada di posisi saya dan teman-teman saya lainnya, akan merasa dirinya cuma seuprit debu. Saya, orang yang cukup percaya diri dengan berbagai prestasi akademis di tangan saya yang lumayan walaupun tidak jenius, merasa diterpa badai. Saya sampai-sampai mempertanyakan diri bahwa mungkin sebenarnya saya tidak bisa apa-apa dan semua yang telah saya pelajari atau lakukan tidak ada gunanya. Dihantui oleh self-esteem yang di ambang keruntuhan itu, saya tercekat dan apapun yang saya lakukan, saya lakukan atas dasar takut dan bukan kepercayaan diri.

Hasilnya, saya tidak bisa mendemonstrasikan apapun potensi saya dan pada saat itu, saya yakin sekali seleksi ini sudah berakhir bagi saya. Tidak mungkin saya diterima. Saya ingat, saya waktu itu cuma berpikir untuk bisa keluar dari ruangan itu dan mengakhiri siksaan batin di ruang gelap itu yang berlangsung selama dua jam. Saya benar-benar berharap dua jam itu berakhir dan saya akhirnya mengiyakan apapun yang mereka ‘tuduhkan’ pada saya, termasuk ‘mengaku’ kalau saya mau masuk teater karena ikut-ikutan. Walaupun kejadiannya tidak begitu, saya mengamini saja karena saya sudah hampir tidak peduli dan berharap jawaban saya membuat mereka diam serta membiarkan saya pergi. Tidak begitu kenyataannya. Orang “hitam” dari berbagai penjuru mengepung saya dari berbagai penjuru serta mencerca saya. Akhirnya saya tidak bisa menahan diri dan menangis.

Namun di antara wajah-wajah sangar itu, saya dihampiri oleh wajah malaikat. Saya tidak mencoba sok-sok dramatisir. Persis seperti itulah perasaan saya ketika itu. Dengan lembut, dia menuntun saya ke sebuah sudut, setelah saya menitikkan air mata dan nafas putus-putus. Persis orang asma kehabisan napas, walaupun sebenarnya saya tidak mengidap asma. Dia menenangkan saya, mengusap-ngusap punggung saya, dan menunggu saya berhenti menangis. Setelah melihat saya cukup tenang, dia bertanya dengan lembut, “apa kamu sungguh mau masuk teater?” Saya mengangguk. Sesudah badai yang menghempaskan saya, saya cukup kaget dengan reaksi saya. Saya sadar, jauh dalam lubuk hati saya, saya ingin masuk dalam komunitas ini, meskipun saya saat itu belum akrab dengan dunia perkesenian. Keluarga saya, semua sarjana ekonomi, tidak ada yang menaruh minat dalam seni. Tiba-tiba saya, entah dari mana, punya keinginan untuk masuk teater tanpa memahami alasannya sendiri. Pokoknya mau saja. Titik.

Dua hari kemudian, pengumuman hasil seleksi ditempel. Rasa ingin tahu, harap, dan takut bercampur jadi satu. Akhirnya saya beranikan diri untuk melangkah ke papan pengumuman bersama teman-teman yang lain. Di luar dugaan, nama saya masuk di situ. Saya satu di antara delapan siswa kelas 1 yang diterima jadi anggota baru teater. Dipenuhi kegembiraan, saya berloncatan dan lari ke kelas untuk memberi tahu teman-teman sekelas saya. Namun sebelum sampai kelas, di persimpangan lorong, saya dicolek oleh seorang kawan yang juga ikut seleksi namun tidak diterima. Dia bilang, kakak malaikat itu berpesan pada saya agar saya baik-baik membuktikan diri saya di sana dan tidak mengecewakannya. Rupanya ia mati-matian memperjuangkan saya di hadapan teman-temannya untuk menerima saya. Mungkin karena ia alumni, rekan-rekan anggota teater segan padanya. Mungkin juga karena ia begitu yakin pada saya, ia berhasil membujuk rekan-rekannya. Saya lebih memilih kemungkinan kedua untuk saya amini. Ada seseorang yang menaruh kepercayaan pada saya yang tampak tidak menjanjikan potensi apa-apa.

Uluran tangan alumni itu, yang sampai sekarang namanya masih jadi misteri bagi saya, merupakan titik balik dalam hidup saya. Saya yang pesimis, tidak percaya pada persahabatan, kesepian mengenal arti persahabatan, kerja keras, dan ikatan yang kuat. Tidak seperti topeng yang mereka tunjukkan di seleksi, mereka sebenarnya sangat ramah dan sangat menerima. Saya yang sepi mencari dukungan keluarga saat itu merasa telah menemukan tempatnya. Saya mengenal rasa senang, tangis, tawa, duka bersama, hal-hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Pengalaman saya bersama mereka mengarahkan saya pada pilihan kemungkinan yang tidak pernah saya jelajahi sebelumnya.

Teater merupakan wadah yang cukup lengkap dalam berkesenian. Seni akting, olah tubuh, sastra, seni rupa, musik, dan sebagainya berkumpul dalam teater. Saya mulai membaca sastra dan menulis puisi sejak saya bergabung dengan teater itu. Penemuan jati diri, kecintaan pada seni diawali dari uluran tangan malaikat tersebut. Walaupun saya belum sampai pada kesuksesan, dalam arti sukses diakui masyarakat, setidaknya saya sekarang tahu anak tangga pertama yang harus saya naiki. Kalau saya tidak diterima di teater itu, mungkin saya tidak akan seperti saya yang sekarang. Saya mungkin kuliah di jurusan yang diinginkan oleh orangtua saya, tidak tahu apa yang saya inginkan, menganggap persahabatan cuma bumbu cerita picisan, tidak punya impian apapun, tidak punya hidup yang sesungguhnya. Mungkin juga saya mungkin tidak akan mulai menulis kalau keajaiban itu tidak terjadi. Apa yang terjadi pada saat saya SMA mengubah jalan hidup saya, hingga sekarang.

Ternyata meski iman saya mencla-mencle, Tuhan masih mau mengirim malaikat di aula sekolah untuk saya. Saya sungguh bersyukur karena Tuhan, melalui malaikat itu telah menaruh kepercayaan yang besar pada saya. Di manapun kamu berada, saya harap kamu membaca ini. Untuk yang dulu tak sempat terucap, dari hati yang terdalam: Terima Kasih.

image, courtesy of cardiophile.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: