Liburan “Sendiri”


image, taken from here

Di kota metropolitan ini, kesibukan menyesaki setiap sudut sampai-sampai hari Minggu pun bukan hari libur melainkan hari pelampiasan untuk tidur. Namun menjelang hari raya (baca: Lebaran), hawa-hawa liburan benar-benar menjalari jantung ibu kota ini. Saya yang biasanya menghabiskan waktu seenaknya pun merasakannya. Hari-hari ini lebih terasa santai dari hari-hari sebelumnya yang tampak santai juga. Maklum beberapa bulan ini saya merdeka dengan waktu saya dan keinginan saya, tapi tidak dengan pikiran-pikiran saya yang makin banyak pertanyaan dan makin meresahkan. Namun ketika bangun pagi ini, pikiran saya terasa ringan. Untunglah badan saya tidak, sebab jika tubuh saya ikut-ikutan, saya curiga saya menyobek tiket “liburan abadi” tanpa sengaja.

Kalau dulu-dulu sewaktu masih sekolah, liburan bagi saya menyiksa karena saya merasa kehilangan jati diri. Saya tidak tahu mau melakukan, tanpa rencana, dan semua itu bagi saya cukup membingungkan dan bikin frustrasi. Saya terlalu terbiasa dengan kesibukan saya sampai-sampai saya asing dengan diri saya sendiri. Saat liburan, saya paling sering bersama dengan diri saya, tanpa embel-embel dan ketidaknyamanan itu menyerang di saat keriaan dengan teman-teman berakhir. Di saat liburan seperti ini, teman-teman saya banyak yang pulang kampung. Sedangkan saya? Kampung saya di Jakarta. Satu-satunya yang bisa saya nikmati adalah kelengangan jalan Jakarta.

Kesibukan benar-benar merenggut perhatian saya, mengalihkan saya dari teman saya yang terbaik (baca: diri sendiri). Liburan seharusnya dimaknai bukan hanya sebatas pergi melancong, tidur sepuas-puasnya, makan, nonton, dan sebagainya. Menurut saya, liburan adalah saat untuk berhenti dari semua kesibukan di luar diri. Liburan adalah saat kita menikmati kebersamaan dengan diri sendiri, selain dengan orang-orang yang kita cintai (baca: keluarga, sahabat). Kita punya waktu untuk mengenal lagi siapa kita, apa yang kita rasakan, pikirkan, inginkan, dan sebagainya. Sudah saatnya buku harian kita diisi dengan dialog diri, bukan cerita tentang aktivitas kita di luar sana, kesibukan kerja, teman-teman kantor yang lucu ataupun menyebalkan, dan sebagainya.

Sama halnya seperti kita membangun hubungan cinta dengan pasangan. Jika komunikasi dengan pasangan hanya diisi oleh keluhan tentang pekerjaan, relasi dengan teman, cerita orang lain, dan sebagainya, hubungan itu pun akan terasa hambar. Inti cinta yang ingin mengenal dan memahami tidak kita sentuh dalam komunikasi. Dulu kita bilang pada pasangan kita, “saat kita pertama kali bertemu, aku seperti sudah lama mengenal kamu”. Namun setelah beberapa lama kemudian, kita bilang lagi, menyangkal omongan kita sendiri, “sudah sekian lama kita berhubungan, tapi makin lama aku merasa tidak kenal kamu.” Kalau kata orang, setrumannya sudah habis. Ya gimana tidak habis, wong listriknya dimatikan? Masih untung kalau cuma pacar, soalnya seperti lagu-lagu cinta hits sepanjang masa, pacar itu bisa datang dan pergi. Bisa diganti, meski tidak semudah berganti baju. Tapi bagaimana kalau keburu tandatangan kontrak pernikahan dan punya anak? Permasalahan bibit bebet bobot waktu kita masih bujangan, berganti dengan pertimbangan bagaimana nasib siapa-siapa ke depannya. Dengan kata lain, persoalan ganti-ganti tidak semudah asal tanda tangan surat baru, lalu selesai.

Menurut saya, sebelum kita tanda tangan kontrak di atas kertas, kita sudah tanda tangan kontrak duluan sejak sperma ayah dan sel telur ibu kita bertemu. Sejak kita “ada”, kita sebenarnya sudah menikah. Bukan dengan ayah, bukan dengan ibu, bukan dengan dokter, mak comblang, dan sebagainya, melainkan diri kita sendiri. Kalau kita merasa sebal setiap kali melihat suami/istri kita, kontrak ‘selamat menempuh hidup baru’ akan terasa seperti kontrak kematian. Merasa terasing, benci dengan dunia, dan perang sebenarnya disebabkan oleh perkawinan kita yang retak. Yang membuat kita merasa terasing dan tidak punya teman bukanlah orang lain melainkan diri kita sendiri. Demikian pula dengan benci. Orang lain cuma proyeksi. Karena kita tidak mau menengok pada suami/istri pertama kita, ia “terpaksa” memutar film kesepiannya pada orang lain. Kebencian pada diri merupakan awal dari destruksi kehidupan, mulai dari manipulasi, propaganda, kekerasan, dan perang. Saya pikir, hidup kita terlalu lama dan terlalu sebentar untuk kita lalui dengan kegetiran semacam itu. Maka, hari ini, saya menikmati liburan dengan diri saya sendiri. Saya biarkan saja diri saya menuntun ke mana saya harus melangkah, ikut-ikut, dan “pasrah” saja. Tanpa pusing. Tanpa embel-embel. Tanpa bete. Tanpa rencana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: