tentang mawar hitam

Malam yang benar-benar malam, pikir saya. Langit seakan-akan malu membuka tabirnya dan awan-awan pun menyetujui rahasia-rahasianya. Tidak ada bintang dan malam itu, bulan pun mati, mempersiapkan diri untuk sebuah kelahiran baru.  Di bawah siraman lampu panggung, aku duduk di sebuah pelataran kubah kaca. Konon kubah ini sengaja dibangun hanya dengan kaca-kaca supaya tidak ada yang bisa disembunyikan. Kata seorang penjaga, pemilik kubah ini korban kebohongan orangtua, istri, dan anak-anaknya. Ia mendirikan kubah kaca ini sebagai bagian dari usahanya untuk menghapus kengerian dunia, yang ternodai oleh ucap-ucap yang menipu. “Kebohongan adalah awal kematian sebuah harapan,” ujarnya suatu hari saat saya berbincang-bincang dengannya di pelataran kubah ini.

Kubah ini baru saja diresmikan bulan lalu, untuk tempat berpikir, bertengkar, berdebat, menulis, membaca, galeri dan bahkan untuk mementaskan pertunjukan-pertunjukan. Siapapun boleh menggunakannya secara bergantian, tanpa harus membayar. Setiap masuk dalam kubah itu, kami harus mengganti nama kami, sesuai dengan impian masa kecil kami. Begitu saya melangkah masuk dalam kubah ini, nama saya Candra Kirana karena sejak kecil, saya ingin memiliki kecantikan seperti sinar bulan purnama. Bulan, layaknya seorang bunda mengasuh anaknya, menjaga malam supaya manusia tidak silap dengan godaan-godaan yang menafikan bungkam hati terhadap kebahagiaan dan keindahan.

Di bawah sinar bulan purnama, saya ingat pertemuan saya dengan Bidah. Itulah namanya di sini. Bidah, seorang perempuan cantik dengan mata yang bersinar bagaikan buah kurma, bibir pucat, pipi yang tirus, berkulit hitam keemasan, dan wajah bagaikan hati yang terluka. Saat saya pertama kali melihatnya,  Bidah melangkah dengan gontai sambil sesekali berhenti menatap sang candra. Batin saya, perempuan ini dianugerahi kecantikan yang membangkitkan kenangan masa kecil yang penuh air mata dan kepiluan. Sejujurnya sebuah dorongan simpati dan ketertarikan yang tidak dapat dimengerti, mendorong saya untuk menyapanya dan menawarkan sebuah persahabatan. Semua itu dimulai ketika sibakan gelombang rambut hitamnya menari, menjawab suara saya.

“Saya tidak mau ngomong apa-apa. Tapi kalau boleh, saya ingin duduk di samping anda.”

Begitulah ia menyapaku. Kami tidak mengucapkan sepatah katapun. Seperti yang ia inginkan, kami hanya duduk dan melayangkan pandang kosong kami ke langit, berharap malam akan mengisahkan lakon dirinya. Saya pun menduga ia juga menunggu malam mementaskan kisah saya. Namun seperti malam-malam sebelumnya dan malam-malam berikutnya, tidak ada kisah apapun. Hanya anggukan dan desahan nafas yang kami pertukarkan dalam sebuah percakapan pandangan mata.

Namun setelah malam kedua puluh tiga, lakonnya mulai dipentaskan. Dalam nafas kirana sang candra, untuk pertama kalinya, ia menjadi dayang kata-kata.

“Nama saya Bidah, namun ketika kita melangkah keluar dari sini, kamu tidak kenal saya, sebagaimana kamu pun bukan Candra Kirana. Saya punya impian, selayaknya kamu punya impian. Hidup saya di luar sini bukanlah hidup dan saya yakin, hidupmu di luar sini bukanlah hidup. Kita adalah cermin yang hanya akan jadi satu dalam suatu istana kaca. Begitu kita keluar dari sini, “kita” mati.  Karenanya, begitu kita melangkahkan kaki kanan kita dari pintu itu, cerita saya harus mati bersama dengan kematian saya.”

“Nama saya Bidah karena saya menginginkannya sejak saya dikandung di rahim ayah saya. Ibu saya sudah lama meninggalkan raganya dan hanya setitik nafas yang ia titipkan pada ayah saya. Ayah saya, semenjak saya kecil, selalu menyayangi saya. Ia ibu dan juga ayah bagi saya. Ayah saya menangis ketika saya menangis, tertawa ketika saya tertawa, berduka ketika saya marah. Ayah saya adalah segalanya bagi saya. Oleh karena itu, saya tidak ragu untuk mengambil nafas dari siapapun yang mencoba merenggutnya. Maka sejak Mawar Hitam itu masuk ke rumah saya dan mencoba untuk menjamah ayah saya, saya tidak ragu untuk merampas duri-durinya dan mencuri nafasnya, untuk saya taruh dalam buku catatan harian saya.”

“Nama saya Bidah, karena setelah itu, ayah menangis dan sambil menamparkan terima kasihnya pada sekujur tubuh saya, ayah saya mengucap nama itu. ‘Bidah’. Semenjak itu, saya tahu bahwa sedari dulu itulah nama yang dititipkan ibu pada ayah untuk dianugerahkan pada saya.”

“Namun sejak ayah membuka tabir rahasia nama saya, seorang petugas berjubah putih dengan bercak-bercak merah menarik saya dari genggaman ayah. Tangan ayah, saat itu, berdarah dan saya menjilatinya, memberi obat pada luka-lukanya yang asin. Wajah ayah saya membeku, dingin membiru, dan saya ingin mengecup seluruh wajahnya dengan cinta saya, memberinya kehangatan seorang anak. Saya ingat, saat itu pandangan ayah kosong sama seperti pandangan kita yang lalu-lalu. Oleh karena itu, setiap kali saya melihat kekosongan, saya melihat ayah di situ, melambaikan tangannya, menawan saya dengan kasih sayangnya, memanja saya dengan siraman duka dan penderitaannya. Hari ini hari ulang tahun ayah saya dan saya ingin mengenangnya sejenak. Bolehkah saya mengulang lagi pertemuan ayah saya yang terakhir padamu?”

Kemudian, sebelum saya sempat mencerna kata-katanya, ia menarik tangan saya dan menggenggamkan duri-duri mawar hitam pada saya hingga cairan kemerahan menerangi hitam kelopaknya. Tidak pernah saya sadari kilau hidup di atas bentangan gelap. Rasa ngeri dan keingintahuan yang besar membuat jantung saya serasa berhenti saat itu dan kepala saya berhenti berpikir.  Walau begitu, sisa hati saya yang terakhir masih mampu bergumam mengagumi keindahan yang aneh nan menyentuh dari raut muka Bidah.

Ayah…

Genang air matanya menatap tangan saya dan telinganya mendengarkan lantunan musik dari luka saya. Gema dalam hatinya bertalu-talu, melelehkan jendela hatinya. Rambutnya menyentuh jemarinya yang mengkilat dibelai oleh sinar purnama, dan tangannya adalah cermin perangkap hatinya, memaku dan memaku korban perasaan yang tertinggal ini. Keinginan untuk hidup bukanlah miliknya seorang. Oleh karena itu, saya berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya namun tampaknya ia bukan lagi di dunia ini. Nafas orang mati tidak pernah bisa dikembalikan pada hidup, kecuali oleh Dia yang berada di antara hidup dan mati. Duri mawar itu semakin berakar pada darah dan nafas saya. Sekeras saya berusaha, sekeras pula ia ingin hidup dari darah dan daging.

Oh bunga mawar.. lekaslah mengembang… kuingin memetik dikau….

Suara yang indah, lagu yang memilukan, kecantikan yang menyayat. Falsetto keindahan itu dan gairah asmara abu-abu membuat saya perlahan menyerah pada kenangannya. Seorang asing di tangan yang asing digoda untuk menjadi ayah sebuah lagu rindu. Siapa yang bisa menahan gejolak bayang-bayang itu? Bayang-bayang adalah refleksi yang bisa memenjara. Makin kau pandangi, makin kau harap, jerujuinya akan semakin menguat, memaku langkahmu pada satu nada yang dipilihnya.

Seiring dengan jeritan pikiran-pikiran itu, gema-gema nyanyiannya sayup-sayup terdengar di telinga saya yang mulai hilang dan untuk sepersekian detik, saya mendengar ibu saya mendongengkan saya kisah Putri Candra Kirana dan Pangeran Inu Kertapati. Binaan cinta menyinari kerajaan yang lesu dan letih. Dongeng, kata ibu, ditulis supaya manusia tidak lupa cinta dan impian, sebab tanpa keduanya, hidup kita habislah sudah.  Itu sajalah yang masih dapat kudengar sebab suara ibu pun lama-lama hilang dan hening pun merayap.

Satu per satu, nafas saya pun mulai menipis, digantikan oleh nafas ayahnya. Keberadaan diri saya disedot oleh kegelapan yang tak bertepi. Saya merasa diri saya berenang-renang dalam kolam tak berdasar, meraba arah dalam gelap, dan suara-suara saya pun hilang ditelan oleh gema-gema kegelapan. Lama kemudian, barulah saya menyadari raga saya bukan milik saya lagi karena Bidah sudah mendapatkan ayahnya kembali. Apa yang telah dilepaskan tidak mungkin kembali lagi. Hidup terseret-seret oleh takdir masa lalu, dalam kesadaran yang kabur, dan saya hanyalah korban untuk membengkokkan semuanya itu.

Sekarang ini, saya duduk di pelataran kubah kaca ini dan mengenang malam-malam yang lalu, ketika Bidah menghapus malam saya. Mungkin takdir menugaskan pada saya untuk mengisahkan lakon ini pada malam. Berharap malam mau mendalangkan cerita ini, untuk anak-anak sebelum tidur, agar sirapan masa lalu dipelihara dan dipangkas sesuai iramanya. Dengan demikian, mungkin Bidah tidak akan datang lagi pada malam-malam selanjutnya untuk mengulang lakon pikirannya lagi.

Yang berlalu akan berlalu, yang menanti akan datang, dan yang berdiri sekarang akan dirasa. Hukum pergerakan hidup yang tidak boleh dibengkokan, terutama saat malam adalah kubahnya dan kegelapan hati adalah detaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: