Sebuah Pesta di Malam Takbiran

Sudah seminggu ini saya bosan. Bosan terhadap apa? Saya sendiri juga tidak jelas. Mungkin bosan pada kejenuhan? Lah ribet banget yak. Tapi ya itu intinya, saya jenuh. Beberapa hari saya mendekam di rumah dan menenangkan kaki-kaki saya, meredam jiwa keluyuran saya. Kata ibu saya, saya orangnya tidak bisa diam di rumah. Saya anggap itu sebagai tantangan dan saya program kepala saya untuk duduk, tidur-tiduran di kamar, baca buku, nonton film. Akhirnya saya tidak tahan juga. Dengan dalih untuk diri saya sendiri, saya bilang ke ibu saya bahwa saya ingin keluar untuk membeli buku. Dalam ambang kebosanan saya, kemarin-kemarinnya lagi saya bikin kuis di ngerumpi dot com dan pemenangnya itulah yang akan saya beri hadiah. Saya tawarkan “Negeri 5 Menara” dan Mbah Ngasmuni (pemenangnya) setuju. Sebetulnya beli buku itu bisa nanti-nanti karena toh Tiki tutup mau Lebaran, menjelang malam Takbiran.

Akhirnya saya bermodalkan Rp 3500,00 perak naik busway, lurus-lurus saja, tidak pakai ribet, dari depan kompleks rumah saya ke PIM. Tapi sebalnya di sana yang ribet. Teman saya, sesama blogger, sudah memperingatkan kalau PIM bakal penuh dengan manusia-manusia yang mencari hiburan komersil. Saya mengiyakan itu dalam hati namun karena saya takut berjamur di rumah, saya keluar dan saya menghadapi ‘kekacauan’ itu juga akhirnya. Dalam kata-kata dan nasehat tampaknya mudah, berkubang dalam suasana nyata itu yang sulit. Akhirnya saya cepat-cepat menuju Gramedia. Kebetulan buku yang saya cari ada di dekat pintu masuk. Tepat ketika saya melangkah masuk, buku itu di depan mata saya. Saya ambil lalu saya bergegas ke kasir. Namun saya menghentikan langkah saya karena saya tidak ingin kehilangan waktu keluyuran barang sebentar saja. Kemudian saya langkahkan kaki saya menuju rak-rak novel, mengecek buku apa saja yang baru, apa wishlist saya diskon (ternyata tidak, hmph), melihat nama teman saya di belakang novel bersampul hitam bertinta putih “5 cm” dan nama teman saya “Venus” (sebagai reviewer) dengan tinta putih pula. Novel itu di depannya ada tulisan embossed ‘best seller’. Iri sebentar, kemudian membayang-bayangkan kalau karya saya ada di toko buku juga. Peluncuran buku, publikasi, cemas-cemas harap apakah buku itu masuk kategori best seller atau discounted for half price. Tapi saya segera mengusir pikiran itu jauh-jauh sebab rasanya tidak pas saja memikirkan hal-hal semacam itu di hari libur, dan sirik itu benar-benar tidak bertema Ramadhan. Kalau diibaratkan main musik, nadanya sembrono alias mengacaukan harmoni.

Akhirnya saya menelepon teman saya yang rumahnya dekat PIM. Kebetulan dia ada di rumah, saya mampir ke rumahnya. Karena saya penginnya keluyuran, saya tidak ingin ‘pindah’ rumah, saya maunya ada di alam terbuka, ngeloyor tidak jelas, ngobrol ngalor ngidul di bawah langit. Saya sedang tidak berselera dengan atap bersisi empat, kubikel besar. Ingin rasanya bernapas di lapangan terbuka, menghirup udara yang tidak disaring oleh jendela. Oleh karena itu, dalam perjalanan menuju rumah teman saya, saya mengirim SMS pada teman saya yang saya sebut “raja” di TIM. Buat saya, TIM itu tempat yang menyenangkan. Udaranya enak, atmosfirnya bebas (mungkin karena di sana tempat hajatannya orang-orang kreatif), dan juga saya bisa cari-cari buku lama yang sudah tidak dicetak lagi di Bengkel Deklamasi (TIM).

Sekitar satu setengah jam saya di rumah teman saya itu, kemudian kami bertolak ke TIM. Menyenangkan! Seperti mengulang malam hujan badai di TIM, saat saya sedang berteduh, saya berkenalan dengan orang-orang dari Bali yang sedang berbisnis. Darinya saya mendapat cerita-cerita baru. Kemudian setelah hujan reda, Double J (teman saya) sudah sampai di TIM dan kami terus mengobrol sampai sahur. Bedanya, pada hari kemarin itu, suasananya malam takbiran dan kelakuan kami tidak segila malam sebelumnya. Lebih behave lah istilahnya. Tapi saya juga dapat kenalan-kenalan baru di sana, menikmati suasana takbiran yang hiruk pikuk namun tenang dalam hati. Mendengar suara bedug bertalu-talu meski hanya dalam rekaman, buat saya adalah peristiwa yang magis. Nada-nada dan tempo-tempo itu membawa suasana yang khusyuk dan damai.

Pukul setengah dua pagi, saya mengantuk karena di malam sebelumnya, saya kurang tidur. Saya jalan keluar bersama teman saya untuk menyetop taksi. Di depan TIM, ada dua orang polisi berjaga. Saya pikir, memangnya ada apa sampai-sampai ada polisi? Biasanya walau tengah malam, tidak pernah ada petugas hukum di sini. Beberapa menit kemudian, barulah saya tahu alasannya. Pawai konvoi orang-orang yang bersuka ria merayakan Takbiran dan datangnya Idul Fitri, hari yang Fitrah, hari kemenangan. Keriaan mereka bagaikan menular, saya yang tadinya ngantuk, ikut-ikut bersemangat. Peristiwa yang benar-benar menyentuh hati dan menyalakan setrum gairah hidup. Orang-orang berkumpul dalam euphoria kegembiraan, tanpa dendam, tanpa kemarahan. Pesta. Namun pesta harus berakhir, sebuah taksi tarif lama langganan saya lewat dan saya menyetopnya. Saya harus pulang.

Sepanjang perjalanan saya dalam taksi, saya melewati kawasan Menteng, dekat BB’s. Jalanan macet, tersendat. Saya mulanya bingung ada apa, dan bapak supir taksi menerangkan pada saya bahwa mungkin orang-orang berkumpul untuk menyalakan petasan. Saya manggut-manggut saja dan memilih untuk melihat sendiri daripada bertanya-tanya terus. Setelah melaju tersendat berkali-kali, akhirnya saya melihat. Orang-orang berkumpul di sisi kiri jalan, duduk di atas mobilnya, menunggu dengan antusias. Di seberangnya (sisi kanan jalan), ada dua orang yang sedang mempersiapkan petasan yang diberdirikan di atas tanah, dijaga supaya tidak jatuh. Kemudian salah seorang dari mereka menyalakan sumbunya dengan lighter. Siuuuungg… Bum bum. Petasan meluncur ke udara, kembang-kembang cahaya kegembiraan menerangi langit. Melihat itu, saya sedikit bersyukur dengan kemacetan ini. Paling tidak, saya diberi kesempatan untuk ikut menyaksikan pesta ini, sebuah pesta yang saya harap akan menjadi permulaan bagi babak baru kehidupan manusia, tidak lagi berkubang dalam kebencian dan nafsu penghancuran, tetapi hidup baru yang diwarnai dengan cinta, persahabatan, dan kasih. Dalam hati, terselip sedikit harap, agar pesta ini tidak pernah berakhir.

image, courtesy of designflute.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: