aku mau pulang, Tuhan

hanyalah aku menafsir janji padamu kekasihku
sebab aku telah membisikkan nama kita
pada bunga-bunga rumput di depan rumahmu
centang perenanglah rasa ini
diamuk oleh badai tropis

segelas kacang merah temani soreku
mengingat tiap titik batas kita
sedang anak-anak senja berlari di depanku
mengejar matahari yang sebentar lagi benamkan diri
di sudut cakrawala

hanya aku menafsir lagi janji padamu kekasihku
Tuhan duduk berbincang-bincang denganku
satu detik sebelum bulan menampakkan senyumnya
dan Ia bertanya padaku, “Apa inginmu?”

aku terpekur
sementara Ia menatapku dengan mata senja
merah lembayung ungu
debur kemegahan, air, matahari, kekeringan, gelora
keagungan yang tak kumengerti
karena aku cuma manusia
yang datang dan pergi begitu saja
sementara Ia merentangkan tanganNya
tiap kali aku lelah dan ingin pulang

siapakah aku kekasihku
bila ia minta aku ‘tuk tinggalkan ambisi
siapakah aku hingga sudi menolakNya?

Adzan berkumandang di sore ini
mengajakku untuk pulang kembali
maka maafkan aku kekasihku
aku harus menafsir janji padamu
karena senja ini, aku milikNya
dan untuk keabadian-keabadian berikutnya

Jakarta, 28 September 2009

Advertisements

4 thoughts on “aku mau pulang, Tuhan

  1. devieriana says:

    darling.. puisi-puisimu cantik banget..
    pengen bisa nulis puisi kaya begini..
    *wajah mupeng berat* 😀

  2. sudah baca puisi ini di ngerumpi tapi waktu itu kayaknya siang hari, saat ini ngulang baca lagi disini, sendirian di ruang server, rasanya beda banget.

    kita semua ingin pulang, bukan? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: